spot_img

Sileme-leme: Sempat Viral kini Salah Desain

HUMBAHAS – Saya sempat ragu. Ini soal rasa. Rasa tergantung selera. Bagus bagiku. Belum tentu bagus bagimu. Demikian sebaliknya. Karena itu, saya bertanya kepada beberapa pengunjung. Inti pertanyaan saya sederhana: Sileme-leme makin bagus atau tidak? Dari semua yang saya tanya, ternyata jawabannya sama persis. Dan, jawaban itu pun sama dengan perasaan saya.

Dapat disimpulkan, rasa tak selalu tergantung selera. Terakhir berkunjung ke Sileme-leme, pada masa liburan Lebaran ini, saya terkejut. Kira-kira keterkejutan saya begini: kok Sileme-leme makin tak bagus pemandangannya? Ini murni soal pemandangan. Soal fasilitas, Sileme-leme semakin bagus kok dan semakin lengkap. Sekitar dua tahun lalu ke sana, jalanan masih setapak. Listrik belum ada.

Kini, fasilitas semakin lengkap. Bangunan-bangunan permanen juga sudah ada. Ada beberapa gajebo. Pekarangan pun makin bagus. Datar. Luas. Bisa untuk olahraga. Tidak seperti dulu lagi ketika pertama sekali saya di sana. Jadi, sudah lebih nyaman. Apalagi kedai-kedai kecil mulai aktif. Tempat mengecas perangkat elektronik pun tersedia di gajebo. Intinya, fasilitas meningkat tajam.

Yang jadi persoalan, ada kemunduran dari segi pemandangan. Kemunduran ini hanya karena perkara kecil.

Sayangnya, meski karena perkara kecil, pengaruhnya ternyata sangat banyak. Buktinya, seperti mulai saya singgung di atas, bahwa dari semua orang yang saya tanya, mereka menyesal dan menganggap Sileme-leme mengalami penurunan yang sangat drastis dan tak menarik lagi.

Ini hanya soal letak. Kebetulan, lihatlah di foto dalam tulisan ini, pagar besi dipasang memanjang. Pagar ini tujuannya mungkin mulia supaya anak kecil tidak tergelincir. Namun, tujuan ini justru menutupi pemandangan yang indah untuk Danau Toba. Berfoto menjadi cukup mengganggu. Sebagai orang Humbang, saya cukup mengerti. Benar-benar cukup mengerti.

Riduan Silemeleme 1
Adanya pagar besi menjadikan suasana berfoto tidak lepas.(foto:doc.sanggar maduma)

Sebab, pemandangan serupa di Sipinsur, pagar besi juga dipasang. Bahkan, jenisnya sama. Warnanya pun persis. Namun, tata letak di Sipinsur masih boleh dikatakan baik meski tak selalu baik. Sebab, di Sipinsur, letak tanah masih lebih tinggi dari pagar. Pagar dibuat lebih jauh ke dalam sehingga orang tidak terhalang untuk menikmati permukaan Danau Toba dari ketinggian. Begitu sekilas.

Beda dengan di Sileme-leme. Dataran dan pagar betul-betul rata dan sama tinggi. Akibatnya, jika berfoto, kita lumayan terganggu. Kebetulan, saya membawa teman ke sana. Dan, dari semua mereka, tak ada yang berfoto di sana. Kata mereka, tidak berseni. Begitu juga ketika saya membawa anak-anak sanggar kita dari Sanggar Maduma. Kebetulan, kita ada rekaman di sana bersama seorang artis Humbang Hasundutan.

TERKAIT  Roh – Pancaran Jiwa Dalam Diri Orang Batak Toba (III)

Dari semua anak sanggar yang saya bawa, mereka pun rupanya terkejut juga. Mereka seolah berkata dengan bahasa singkat yang sederhana: kok Sileme-leme jadi begini, ya? Sama dengan itu, semula artis Humbang Hasundutan itu menduga bahwa Sileme-leme masih seperti dulu. Bahkan, dalam imajinasinya, sudah akan lebih indah. Karena itu, kami pun pergi jauh-jauh ke sana untuk mengambil video dan gambar.

Namun, karena pagar itu cukup mengganggu pemandangan, pengambilan foto dan video di ambil di tempat yang berbeda. Memang, masih tetap di Sileme-leme. Sebab, sekitar 100 meter dari sana, ternyata sudah dibuka tempat penatapan yang baru. Dan, di tempat yang baru ini, pagar pengganggu belum dipasang. Akhirnya, di sanalah kita rekaman untuk mengambil foto dan video. Lebih cantik. Lebih asri. Lebih dapat pemandangannya.

Riduan Silemeleme 2
Masih di Sileme-leme, ada spot foto tanpa pembatas pagar.(foto:riduan)

Dalam tulisan ini, saya hendak mengatakan bahwa ternyata tak semua pembangunan berdampak baik. Justru terkadang sebaliknya. Padahal, hanya karena perkara kecil. Tetapi, begitu leluhur kita dari dulu membuat petuah. Gara-gara nila setitik, rusak susu sebelanga. Saya berpikir, hal yang sama terjadi di Sileme-leme. Untungnya, pagar ini masih bisa ditata ulang. Ibarat nasi yang sudah jadi bubur, buburnya masih bisa diolah.

Ditambah bumbu, buburnya justru jadi enak. Ini hanya perumpamaan. Jadi, tak ada salahnya kita menata ulang pagar besi itu. Toh, pagar itu gunanya bukan tapal batas. Bukan klaim hak milik. Maksud saya masih bisa ditata ulang. Oke, supaya tak terkesan menggurui, mari bertanya pada pengunjung. Ini soal data. Ini soal pengunjung. Jika ternyata kata mereka lebih bagus pagar itu ditata ulang demi keindahan dan kenyamanan, tak ada salahnya bukan? Demikian juga sebaliknya.

 

Penulis  : Riduan Pebriadi Situmorang
Editor     : Mahadi Sitanggang

ARTIKEL TERKAIT

TERBARU