spot_img

Batak Dalle dan Batak Sejati

NINNA.ID – Saya percaya, agama tidak selalu memburamkan nilai, apalagi kebanggaan sebagai Batak. Ada sekte Kristen yang bangga sebagai Batak. Tetapi, nilai kebatakannya justru pudar.

Ada agama Islam yang bangga dan penuh dengan nilai kebatakan. Angkola termasuk di dalamnya.

Saya salut dengan orang-orang Angkola ini. Kebanggaan mereka sebagai Batak terkesan penuh.

Sepertinya kita butuh panggung seni yang serius dan besar yang menyatukan Batak Kristen (mungkin di Toba) dan Batak Muslim (mungkin di Angkola). Panggung itu bisa berupa Opera Batak. Kedua subetnik ini, meski berbeda urusan surgawi, namun mereka kompak urusan habatakon. Dari pertunjukan itu kita bisa semakin kompak dan semakin mencintai habatakon.

Sebab, pertunjukan akbar, serius, dan besar seperti itu dibutuhkan untuk merawat nilai. Mungkin bisa panggungnya meniru konsep Warna Danau yang menimbulkan euforia empat puak di kawasan Danau Toba. Sebab, di luar yang bangga sebagai Batak, kini ada yang minder, bahkan menghilangkan jati dirinya dari habatakon. Alasannya mungkin macam-macam.

Untuk satu alasan yang sedikit masuk akal adalah adaptasi lingkungan. Mereka ini sering disebut sebagai Dalle. Sebutan ini cukup menarik. Hanya diberikan kepada orang Batak. Tidak pernah saya dengar Nias Dalle atau Jawa Dalle. Artinya sebutan ini khas untuk Batak. Batak yang minder dan mulai menghilangkan nilai habatakon tentu saja.

Walau begitu, sejauh pengalaman, Dalle lebih sering ditunjukkan kepada Batak-Muslim. Di satu sisi, sebutan Dalle untuk Batak muslim ada benarnya. Sebab, banyak dari mereka yang menjadi Melayu. Persis seperti pantun ini: kapak membelah kayu; Batak menjadi Melayu. Acara pesta mereka pun terkesan jadi beraroma Melayu. Mereka inilah disebut Dalle.

Tapi, tentu saja tak semua Islam yang Batak adalah Dalle. Angkola termasuk di dalamnya secara garis besar. Batak muslim di Humbang Hasundutan pun masih patuh dengan nilai habatakon. Soal makanan haram itu hanya masalah teknis. Toh, pada Batak awal sebagaimana diwarisi parmalim, mereka juga tak memakan daging babi. Tetapi, mereka tetap Batak sejati.

Justru ada kesan bahwa Batak yang sejati adalah Parmalim yang tak memakan daging babi. Artinya, babi tidak penentu Dalle atau tidak. Selama parjambaron bisa dilihat, babi bisa ditukar jadi kambing, jadi sapi. Bahkan, karena kini daging babi mahal, pesta-pesta Batak Kristen kebanyakan justru menukar babi ke kerbau.

Artinya, babi atau tidak, itu hanya soal teknis. Penentunya ada di nilai. Apakah karena sudah tak memakan babi justru mengubah “demokrasi makanan” menjadi ayam dan telur, misalnya. Ada seorang keluarga jauh kami. Ia menikah dengan muslim. Namun, datang membawa adat justru dengan telur, ayam, mi. Nah, ini berarti sudah Dalle. “Demokrasi makanannya” sudah hilang.

Percaya atau tidak, nilai “demokrasi makanan” atau parjambaran ini merupakan nilai yang bertransformasi dari kebiasaan kita yang suka berbagi. Sebuah nilai yang tetap awet dari transformasi manusia berburu. Untuk lebih tepatnya, kalian bisa membacanya dalam sebuah artikel lawas saya, juga di portal ini, tentang parjambaron sebagai transformasi manusia berburu.

TERKAIT  Nahum Situmorang, Komponis Batak yang Dilupakan

Kembali ke istilah itu, Batak Dalle. Sejauh ini sering ditembakkan ke Batak muslim. Tembakan yang di satu sisi tepat sasaran, namun di sisi lain justru salah sasaran. Sebab, yang Kristen di sekte tertentu justru banyak yang mengharamkan tradisi dan nilai Batak. Mereka ini sesungguhnya adalah juga Dalle. Soal makan babi atau tidak, sekali lagi, itu hanya soal teknis.

Kita tinggal menyebut istilah untuk mereka: parsubang, parsolam, parmalim. Toh, pernah juga terjadi Batak Muslim memberi babi ke keluarganya yang Batak Kristen. Poinnya, ia memberi, bukan memakan dan menyajikan. Bagaimana menyajikan hanyalah soal teknis. Toh, ada parhobas yang kristen untuk itu. Ada juga yang menerima.

Soal “terimaan” itu diberikan ke yang merasa bisa memakan daging babi, lagi-lagi soal teknis. Namun, akar sejarah sebutan Dalle ini bisa dirujuk. Mungkin awalnya dulu digunakan untuk menyebut orang Batak yang sudah bermukim di sekitar Asahan. Konsep Batak Pardembanan (Harry Parkin, 1978), sebagai sebuah wilayah yang menjadi tujuan migrasi Toba, merujuk pada wilayah itu.

Meski pada umumnya tak sedikit di antara mereka yang tetap menggunakan marga, tetapi tidak mengerti lagi bahasa ibu dan adat Batak. Memang di seluruh pesisir dahulu dikenal istilah “masuk Melayu” ketika seseorang menjalani sunat memutuskan konversi keagamaan. Konversi keagamaan itu pada suatu masa mungkin juga mengonversi tradisi dan nilai Batak.

Namun, belakangan ini mulai ada jalan kembali seperti kesadaran ulang: oh, kami ini Batak. Ini seperti jalan kembali setelah sampai ke “ujung dunia” sebagai tafsir atas novel Bokor Hutasuhut (Thompson Hs, 2019:27). Sebab, sebagian Batak pardembanan diperkirakan berasal dari hulu Sungai Asahan. Artinya, banyak dari kita berakar dari sejarah yang sama.

Pada perjalanan sejarah itu ada yang beradaptasi lalu lupa. Ada yang beradaptasi tapi tetap ingat. Ada yang tetap tinggal di hulu tapi mulai lupa. Artinya, Dalle itu kini menyebar tidak lagi di hilir, juga sudah ada di hulu. Justru, yang di hilir beberapa mengambil jalan kembali. Maksud saya, Dalle itu tak lagi hanya untuk Batak muslim. Beberapa di sekte tertentu juga sudah menjadi Dalle.

Sekali lagi, menjadi Batak tidak harus memakan babi meski sajian khas Rumah Makan Batak adalah babi. Parmalim tak makan babi bukan? Menjadi Batak berarti merawat dan menjalankan nilai habatahon dengan penuh penghayatan. Saya bermimpi, persis seperti imajinasi Thompson Hs, ada pertunjukan seni budaya serius antara Batak yang cenderung Kristen dan cenderung Islam. Dari cara itu, kita bisa merawat dan solid. Siapa bisa memfasilitasi?

 

Penulis    : Riduan Pebriadi Situmorang
Editor       : Mahadi Sitanggang

ARTIKEL TERKAIT

TERBARU