spot_img

Sileme-Leme, Wisata Andalan Baru dari Humbang Hasundutan

NINNA.IDSileme-leme cepat berubah. Tahun lalu, merayakan tahun baru, saya dan keluarga datang ke sana. Saat itu, jalan masih setapak. Tiang listrik belum ada. Semak belukar masih banyak. Belum ada kenyamanan untuk duduk. Namun, Sileme-leme kini berubah.

Akses sudah mulai rapi. Aspal sudah hampir tiba di lokasi. Bangunan-bangunan pun sudah ada di lokasi. Ada tempat permainan anak-anak. Ada listrik. Lapangannya mulai tertata. Dan, Sileme-leme makin nyaman.

Pulau Simamora tampak indah dari atas. Desa Tipang juga terlihat jelas.

Sore ini, 5 Desember, Dinas Pariwisata Humbang Hasundutan menggelar Pentas Seni Budaya dan Seni di sana. Ada banyak penampilan dari beragam sanggar. Ada dari Sanggar Anak Parsingguran sebagai anak setempat. Ada Sanggar Martabe. Ada dari Sanggar Nabasa. Ada dari Sininta Trio. Ada dari Trio D’Standar.

Kebetulan, Sanggar kami Sanggar Maduma juga ikut serta. Acara sangat meriah. Ada berbagai jenis tari dan mossak yang dibawakan di samping alunan lagu dan seruling. Nabasa membawakan mossak. Sanggar anak setempat membawakan tari kreasi. Warga dengan antusias menyumbang. Ada kebahagiaan tercurah di sana.

Tepuk tangan riuh. Terutama ketika acara dibuka Dinas Pariwisata Humbang Hasundutan. Sanggar Maduma memulai dengan tarian 5 Puak. Perlu diketahui, Batak itu punya banyak subetnis. Ada Karo. Ada Simalungun. Mandailing. Pakpak. Juga Toba. Kami membawakannya dengan sangat antusias. Tepuk tangan membahana.

Sayang, cuaca kurang bersahabat. Gerimis satu-satu. Tanah basah. Kami pun berteduh. Penampilan tetap berlanjut. Dan, di sana kami bercerita bagaimana Sileme-leme mulai muncul. Saya membuka pembicaraan karena boleh dibilang, saya adalah warga setempat karena masih satu kecamatan.

Namun, sampai saya tamat kuliah, saya belum mendengar ada pemandangan Danau Toba dari Sileme-leme di Desa Parsingguran, Humbang Hasundutan. Saya baru mengetahuinya baru-baru ini. Dan, kemudian berkunjung ke sana pada tahun lalu. Sesaat saya tiba di sana, saya membatin: oh, tempat ini sungguh sangat potensial.

Kita bisa mengawasi Bakara dan Tipang. Agak ke tengah, kita melihat Pulau Sibandang. Samosir pun tak luput dari pengawasan. Karena itu, Sileme-leme sangat potensial. Ia bisa menjadi seperti Sipinsur yang baru. Apalagi kalau akses dibuat makin nyaman ke Desa Tipang, orang akan dengan mudah melihat air terjun.

TERKAIT  Mengapa Disebut Danau Toba, bukan Danau Simalungun?

Apa Sileme-leme? Apakah itu nama yang lama atau baru? Apa artinya? Sambil berdiskusi dengan teman-teman, seorang tua ikut bergabung. Ia berkata: Sileme-leme nama yang lama. Saat itu aku masih SD. Ada orang bertanya: di mana Sileme-leme? Kini, orang itu sudah punya cucu. Artinya, Sileme-leme bukan nama yang baru.

Pertunjukan semakin meriah meski gerimis masih awet. Kali ini, Sanggar kami dari Maduma membawakan tari kreasi dari lagu Vicky Sianipar. Orang bertepuk tangan. Mereka dari Medan? Orang bertanya. Saya tertawa dalam hati. Dan, orang-orang makin asyik berbicara tentang potensi Sileme-leme.

Saya teringat pada Sibea-bea. Dan, saya langsung bertanya: bagaimana kalau di gunung sana dibuat Patung Yesus besar? Teman bicara saya sangat antusias. Ia seperti bisa mengimajinasikan betapa megahnya Sileme-leme memandang Patung Yesus besar di puncak Tipang, rapat berbatasan dengan Desa Janji Raja di Kabupaten Samosir.

Apa pun itu, Sileme-leme seperti masih bisa dikembangkan untuk semakin mekar. Dulu, tempat ini bukan apa-apa. Ini baru makin dikenal setelah anak rantau membagikannya di media sosial. Artinya, Humbang kini punya situs wisata yang baru. Pemandangannya menarik. Semoga saja tempat ini menjadi alternatif baru dalam tempat wisata, tidak saja alam, tetapi budaya.

Potensi itu tentu ada. Tinggal menggali cerita. Sebab, konon, di daerah ini, Sisingamangaraja sering naik ke atas. Ini saya ketahui setelah mengadakan studi etnografi di Desa Mardinding, tepat di bawa Sileme-leme, Parsingguran. Oh, iya, bagi para anak rantau, ayo ke Sileme-leme. Mari dukung kampanye pemerintah untuk semakin sadar wisata dan bangkit karena wisata.

 

Penulis   : Riduan Pebriadi Situmorang
Editor      : Mahadi Sitanggang

ARTIKEL TERKAIT

TERBARU