spot_img

Mengenal Nama Asli Beberapa Benda dan Kegiatan Suku Batak

NINNA.ID – Zaman dahulu suku Batak sebenarnya banyak membuat penemuan-penemuan penting, baik berupa alat pertanian, alat musik, karya seni, obat-obatan, wadah penyimpanan dan masih banyak temuan-temuan lainnya untuk kelengkapan sehari-hari.

Tentu sebagai penemu, mereka lantas menamai hasil ciptaannya. Namun karena berbagai hal, saat ini alat-alat atau bahkan nama temuan-temuan itu sudah jarang didengar apalagi ditemui. Bisa jadi hancur karena usia atau perkembangan zaman menjadikan kurangnya pelestarian atas benda-benda pusaka pada suku Batak itu. Akhirnya, nama dan benda-benda itu menjadi bagian dari pusaka orang Batak.

Jika kita telisik, pusaka orang Batak itu sebenarnya bukan hanya berkaitan dengan benda-benda temuan awal tadi. Tapi bisa juga nama suatu tempat, penamaan suatu keadaan atau bisa juga istilah yang menjadi kebiasaan. Dari berbagai jenis dan pusaka itu, semua punya kesamaan. Sama-sama nyaris terlupakan atau memang sudah terlupakan sama sekali.

Temuan benda jejak peradaban Batak Toba
Peralatan mengolah tanah pertanian Batak kuno, koleksi Museum Batak di Balige, Kabupaten Toba.(Foto:asmon)

Contoh pertama, ada benda bernama SINGKUP.  Singkup merujuk pada satu benda yang dijadikan  sebagai wadah biji padi yang sudah selesai dipanen. Terbuat dari anyaman rotan yang bentuknya bulat dengan sebuah lingkaran kecil di bawah dan lingkaran besar di atas. Bentuknya hampir mirip dengan kendi. Ada kebiasaan dahulu, Singkup ini ditempatkan di lantai dua Rumah Bolon.

Benda yang berikutnya adalah TAMBARANG.  Hampir sama dengan Singkup namun ukurannya lebih besar dari Singkup. Kemudian ada lagi namanya PANGUHATAN sebuah benda yang dijadikan sebagai wadah air minum, terbuat dari tanah liat dan biasanya bentuknya bulat.

Selanjutnya adalagi namanya PARARASAN, adalah sebuah benda yang dijadikan sebagai tempat padi yang terbuat dari anyaman pandan.Bentuknya bulat panjang menyerupai sebuah tabung. Ada yang dikenal dengan SULAPA, yaitu suatu benda yang dijadikan tempat barang-barang homitan (pusaka, simpanan) seperti emas, perak dan uang koin (Hepeng Batu).

Dikenal dengan nama GUNSI, yaitu sebuah benda yang dijadikan tempat air minum yang terbuat dari olahan tanah liat. Dalam budaya suku Jawa, inilah yang disebut  dengan kendi. Selanjutnya ada lagi namanya HIDING, yaitu sebuah benda yang dijadikan tempat minuman tuak. Tidak hanya tuak saja, tapi biasa juga untuk menyimpan air minum.

TERKAIT  Gondang Sungsang Tortor Menolak Nasib

Untuk benda kebutuhan dapur ada dikenal dengan BALANJA. Benda ini dijadikan tempat penyimpanan garam. Dibuat dari potongan bambu besar. Jika tadi ada wadah minuman tuak atau juga air, ada juga wadah yang sama tapi penamaan berbeda, yaitu HANSUNG. Perbedaanya, Hansung khusus dijadikan tempat Tuak Na tonggi, dalam ritual manguras Hoda Debata.

Benda yang berikutnya adalah GEANG GEANG, yaitu suatu benda yang dijadikan sebagai tempat Susuban yang di dalamnya terdapat lauk seperti ikan. Nah SUSUBAN itu suatu benda yang dijadikan sebagai tempat memasak lauk seperti ikan. Hampir miriplah seperti kuali yang kita kenal sekarang.

Jika PARA PARA, mungkin tak begitu asing karena ini mengartikan tempat kayu bakar dikumpulkan. Berkaitan dengan Para Para adalah TATARING, yaitu  tungku masak. Orang Batak, mengenal bentuk Tataring yang terbuat dari tiga bongkah batu.

Kemudian ada istilah MARDAHAN, yaitu sebutan yang digunakan untuk memasak beras. Air beras saat proses memasak nasi ini disebut dengan PURIK. Sifat airnya sudah mengental dan warnanya menyerupai warna susu.

Istilah lama di lahan pertanian ada mengenal MARDEGE. Istilah yang menggambarkan proses mengolah padi yang siap panen. Dilakukan dengan cara menggesek-gesekkan telapak kaki ke batang padi sampai bulirnya bertanggalan. Setelah proses Mardega dilanjutkan dengan MAMURPUR, yaitu istilah yang menggambarkan proses membersihkan padi dari kotoran-kotoran batang padi dengan menggunakan bantuan hembusan angin. Proses Mamurpur ini disesuaikan dengan arah angin berhembus.

Bila kita mendengar kata BARA disebut orang Batak, itu bukan memaksudkan bara api. BARA bagi suku Batak adalah bagian bawah dari Rumah Bolon. Dalam bahasa Indonesia disebut kolong. Dahulu, BARA ini dijadikan sebagai kandang ternak untuk kuda, lembu dan kerbau.

 

Penulis Aliman Tua Limbong
Editor     : Mahadi Sitanggang

ARTIKEL TERKAIT

TERBARU