spot_img

Sinaga – Situmorang: Siapa Si Abangan?

HUMBAHAS – Saya bermarga Situmorang. Jika ditanya tepatnya, Situmorang Tuan Ringo. Lebih detail lagi: Raja Dapoton. Pada kesempatan ini, saya akan membahas (mungkin juga menanyakan) siapa sebenarnya paling sulung antara Sinaga dan Situmorang. Sebab, di masyarakat, kedua marga ini sering ditempatkan sebagai yang sulung. Kadang Situmorang. Kadang Sinaga.

Sama dengan Sihombing dan Simamora. Kedua marga dari Raja Sumba (II) ini sering dipertukarkan kesulungannya. Kadang Simamora. Kadang Sihombing. Yang pasti, Raja Sumba adalah menantu dari Raja Lontung. Tetapi, bagi Si Raja Lontung, Sihombing dipanggil duluan daripada Simamora. Ada cerita di baliknya tentu saja. Dan, ini konon sedikit banyak berhubungan dengan Sisingamangaraja (SM Raja).

Tetapi, sejauh pelacakan saya, penyebutan kesulungan antara Sihombing dan Simamora tidak pada usia (partubu). Ini hanya soal kedekatan emosional keluarga dari trah Si Raja Lontung. Sebab, secara genealogis, konon dari Si Raja Sumba, Simamora adalah anak pertama. Simamora adalah anak sulung. Barangkali, karena itulah maka ada Pulau Simamora di Tipang dan bukannya Pulau Sihombing.

Nah, masuk kita ke poin ini: siapa paling sulung antara Situmorang atau Sinaga? Nahum Situmorang dalam lagu menyebutnya Sinaga. Saya juga meyakini itu. Jika pada sebagian orang Situmorang disebut sebagai yang sulung, itu adalah karena Situmorang menikah duluan. Dilihat dari adat saat ini, selama anak pertama belum menikah, maka anak kedua menjadi yang pertama. Tetapi, sifatnya sementara.

Namun, bagaimana kalau kemudian anak pertama yang belakangan menikah itu justru mengambil adik dari istri anak kedua? Dari segi trah istri, tentu anak pertama adalah anak kedua. Dalam hal ini, Sinaga menjadi kedua dan Situmorang menjadi yang pertama.

Konon, begitulah ceritanya, Sinaga terpikat oleh kecantikan adik dari adik iparnya. Dilihat dari kondisi saat ini, tentu sangat mengherankan dua abang beradik mengambil kakak beradik.

Namun, jika melacak sejarah leluhur kita, tren semacam itu seperti diwajarkan. Maksudnya: dianggap wajar. Begini. Yang ditokohkan sebagai Si Raja Batak mempunyai dua orang anak. Anak pertama bernama Tatea Bulan. Anak kedua Raja Isumbaon. Dilihat dari kacamata sekarang, maka anak-anak dari Tatea Bulan dan Raja Isumbaon pasti bersaudara. Tetapi, itulah yang terjadi: anak Raja Isumbaon mengawini salah satu boru Tatea Bulan.

Tentu aneh jika dilihat dengan norma sekarang. Ibaratnya begini: saya punya ayah. Ayah saya punya abang. Kebetulan, kami marga Situmorang. Anak ayah saya pasti bermarga Situmorang dan boru abang dari ayah saya juga adalah Boru Situmorang. Saat ini, saya tak akan diwajarkan menikah dengan Boru Situmorang, apalagi masih jelas-jelas adalah anak perempuan dari abangnya ayah saya.

TERKAIT  Menggagas Batak Meeting Writers di Baktiraja Tahun 2022

Itulah yang pernah dialami boru pertama dari Dinasti SM Raja. Sebagai informasi, Raja Manghuntal (SM Raja I) membunuh namborunya bernama Nai Hapatihan dengan gajah pemberian Raja Uti. Sepertinya sudah menjadi kewajaran bahwa kutuk dan pujian hanya awet pada 7 keturunan. Maka, pada dinasti kesembilan, mereka pun punya boru yang kemudian dinamai sama dengan namboru yang meninggal itu: Nai Hapatihan.

Lama menunggu, maka ia jadi putri yang dimanja. Hingga suatu ketika, Nai Hapatihan kawin dengan saudaranya. Tetapi, tidak dengan kedua saudara kandungnya (Ompu Tuan Na Bolon yang menjadi SM Raja X dan Raja Ihutan). Karena itu, meski disayang setelah dinanti hingga 8 generasi sejak Raja Manghuntal, Nai Hapatihan tetap diusir. Berarti ini sudah sangat tabu pada masa itu.

Tetapi, jauh di hulu, ini masih diwajarkan. Bahkan Saribu Raja kawin dengan kembarannya sendiri. Maksud saya, sebagai dua generasi di bawah Saribu Raja, tentu masih ada kewajaran jika pada saat itu Sinaga mengambil adik dari adik iparnya. Dari Si Raja Lontung, Sinaga anak sulung. Setelah menikah, Sinaga sempat jadi nomor dua untuk sementara sebelum ia memutuskan menikah.

Pada akhirnya, bagi parboru, Sinaga benar-benar menjadi nomor dua setelah ia mengawini adik dari istri Situmorang. Dan, karena tren itu, apalagi pada masa yang mengikuti ada persaingan terselubung antara Situmorang dan Sinaga di masa kedinastian SM Raja, kekaburan kesulungan itu seperti semakin diciptakan. Paling tidak, dari dinasti SM Raja pertama hingga keenam secara berurutan menikahi Boru Situmorang.

Padahal, pada saat itu, ada juga dinasti yang identik, yaitu Palti Raja dari Sinaga. Konon, ada perang dingin antara SM Raja dengan Paltiraja. Hal itu makin terlihat pada kedinastian SM Raja ke-12 saat Palti Raja mengambil sikap netral ketika Belanda datang. Bahkan, menurut Belanda, kedua dinasti ini bersaing untuk tidak menyebut bermusuhan.

Saya pikir sudah jelas sampai di sini bahwa keduanya adalah sulung dengan kedudukan yang ditentukan masing-masing. Tergantung siapa yang memandang mereka. Pertanyaannya sekarang, mengapa Sinaga ada di Simalungun sementara Situmorang tidak ada di Simalungun? Mungkin, kalian lebih tahu jawabannya.

 

Penulis   : Riduan Perbriadi Situmorang
Editor      : Mahadi Sitanggang

ARTIKEL TERKAIT

TERBARU