30 Pemandu Geowisata Ikuti Ujian untuk Tingkatkan Pelayanan Wisata di Geopark Kaldera Toba

BERSPONSOR

Parapat, NINNA.ID— Seorang pemandu wisata tidak cukup hanya tahu jalan, mengenal tempat makan, atau pandai membawa wisatawan berfoto.

Di kawasan geowisata, ada pekerjaan lain yang jauh lebih penting  yakni menjelaskan mengapa sebuah tempat layak dikunjungi, bagaimana alamnya terbentuk, apa yang harus dilindungi, dan bagaimana wisatawan dapat menikmatinya dengan aman.

Kesadaran itulah yang terasa dalam tiga hari Fasilitasi Sertifikasi Kompetensi bagi Pemandu Wisata Berbasis Geowisata yang dilaksanakan di Aula Hotel Atsari Parapat, Kabupaten Simalungun, 15–17 September 2026.

Kegiatan yang difasilitasi Dinas Kebudayaan, Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Provinsi Sumatera Utara ini diikuti 30 peserta.

BERSPONSOR

Mereka berasal dari berbagai unsur, mulai dari Badan Pengelola Toba Caldera UNESCO Global Geopark dan stafnya, pengelola geosite, pemandu wisata lokal dari Simalungun, travel agent hingga pengemudi kapal wisata Parapat.

Sertifikasi ini merupakan bagian dari upaya meningkatkan kualitas produk dan pelayanan pariwisata melalui sertifikasi kompetensi SDM pariwisata, khususnya pemandu wisata berbasis geowisata.

Namun, tiga hari tersebut bukan sekadar proses mendapatkan selembar sertifikat. Ada proses belajar, turun ke lapangan, lalu membuktikan kemampuan.

Hari pertama yakni belajar melihat tempat dengan cara berbeda. Hari pertama dimulai dengan pembukaan dan pembekalan materi.

PELATIHAN PEMANDU GEOWISATA DI ATSARI PARAPAT
Asesor Kus Endro membekali peserta dengan materi kepemanduan wisata pada hari pertama Sertifikasi Kompetensi Pemandu Wisata Berbasis Geowisata di Atsari Hotel Parapat, Kabupaten Simalungun, Selasa (15/9/2026). (foto ©Damayanti)

Peserta tidak hanya diajak memahami tugas seorang pemandu, tetapi juga melihat geowisata dari sudut pandang yang lebih luas.

Selama ini, destinasi wisata sering diperkenalkan melalui budaya, tradisi, legenda, kuliner atau keindahan pemandangan. Padahal, di balik semua itu terdapat cerita tentang bumi.

Ada bentang alam. Ada batuan. Ada proses geologi. Ada fosil. Ada sejarah terbentuknya sebuah kawasan.

Karena itu, pemandu geowisata dituntut mampu membawa wisatawan memahami cerita tersebut dengan bahasa yang mudah dimengerti.

- Advertisement -

Pesan yang muncul dalam pembekalan cukup sederhana tetapi penting yakni jangan membuat cerita tanpa dasar data.

Bahkan ketika menjelaskan sesuatu yang tampak sederhana, seorang pemandu perlu memahami data geologinya. Cerita tentang sebuah tempat tidak boleh sekadar menarik, tetapi juga harus dapat dipertanggungjawabkan.

Di sinilah peran pemandu mulai bergeser. Ia bukan sekadar orang yang mengantar. Ia menjadi penerjemah antara ilmu pengetahuan dan wisatawan.

Persyaratan portofolio sertifikasi sendiri mencakup materi interpretasi geologi dan budaya, logbook atau surat tugas pemanduan, itinerary atau paket geowisata, identifikasi risiko dan SOP keselamatan, materi informasi geowisata, serta dokumentasi ketika memandu wisatawan di geosite atau kawasan geowisata.

Hari kedua yakni kelas berpindah ke lapangan. Pada hari kedua, pembelajaran tidak lagi berhenti di ruangan. Peserta mengikuti pelatihan pemandu geowisata di lapangan, antara lain di Geopark Information Centre (GIC) Parapat dan Taman Eden 100.

PELATIHAN PEMANDU GEOWISATA DI TIC_PARAPAT

Di lapangan, teori mulai berhadapan dengan kenyataan. Seorang pemandu harus mampu melihat apa yang ada di depan mata, memilih informasi yang relevan, menjelaskannya kepada wisatawan, sekaligus memperhatikan keselamatan.

Di sinilah perbedaan antara sekadar bercerita dan melakukan interpretasi menjadi terasa.

Wisatawan mungkin melihat batu. Pemandu geowisata membantu wisatawan memahami cerita di balik batu itu. Wisatawan mungkin melihat lembah, bukit dan danau.

Pemandu membantu mereka memahami bagaimana bentang alam tersebut terbentuk dan mengapa kawasan itu perlu dijaga. Wisatawan mungkin datang untuk menikmati pemandangan.

Pemandu membuat mereka pulang dengan pengetahuan baru. Semangat itulah yang ingin dibangun melalui sertifikasi.

Hari ketiga yakni bukan lagi soal bisa bercerita. Hari ketiga menjadi bagian yang paling menentukan yaitu ujian kompetensi. Peserta diuji oleh asesor untuk membuktikan kompetensi yang telah dipelajari selama proses sertifikasi.

TERKAIT  Erupsi Gunung Merapi Jadi Trending Topic Teratas di Twitter

Pengujian berlangsung pada Kamis 17 September 2026. Bagi peserta, ujian menjadi titik untuk membuktikan bahwa pengalaman membawa wisatawan dapat diterjemahkan menjadi kompetensi yang terukur.

Menariknya, kegiatan ini mempertemukan tiga generasi. Ada pemandu senior yang telah lama berkecimpung di dunia pariwisata. Ada generasi menengah. Ada pula generasi muda, termasuk peserta dari generasi Z dan generasi yang lebih muda.

Perbedaan usia tersebut justru menjadi gambaran bahwa pengembangan pemandu geowisata tidak berhenti pada satu generasi. Pengalaman para senior dapat bertemu dengan energi generasi muda.

Pengetahuan lokal dapat bertemu dengan pendekatan baru. Semuanya bertemu dalam satu kebutuhan yang sama yaitu standar kompetensi.

Mengapa sertifikasi geowisata penting?

Dalam sambutan kegiatan, disampaikan bahwa Sumatera Utara membutuhkan pemandu yang memiliki standar dan kompetensi yang dapat dibuktikan melalui sertifikasi.

Pilihan pada skema pemandu geowisata juga berkaitan dengan cara baru memperkenalkan kawasan Toba. Kaldera Toba tidak hanya memiliki budaya dan panorama.

Ia juga memiliki cerita geologi yang menjadi bagian penting dari identitas kawasan.

Dengan demikian, wisatawan nusantara maupun mancanegara tidak hanya datang untuk melihat pemandangan, tetapi juga dapat memahami alasan ilmiah dan sejarah alam di balik apa yang mereka lihat.

Bagi kawasan yang menyandang status geopark, kemampuan tersebut menjadi semakin penting.

Sebab geopark bukan hanya tentang membuat sebuah tempat menjadi destinasi wisata. Ada unsur konservasi, edukasi dan pemberdayaan masyarakat yang harus berjalan bersama pariwisata.

Karena itu, pemandu berada di posisi yang sangat strategis. Mereka berhadapan langsung dengan wisatawan.

Mereka menjadi orang pertama yang dapat menjelaskan aturan, memperkenalkan masyarakat dan budaya setempat, menerangkan fenomena alam, sekaligus mengingatkan wisatawan untuk menjaga kawasan.

Membangun standar, bukan sekadar sertifikat. Harapan yang muncul dari kegiatan ini sebenarnya lebih besar daripada jumlah 30 peserta.

Sertifikasi diharapkan menjadi bagian dari upaya membangun standar pemanduan yang lebih jelas di kawasan Geopark Kaldera Toba. Artinya, semakin banyak pelaku pariwisata yang memiliki kompetensi, semakin terbuka pula peluang untuk memberikan pelayanan yang lebih konsisten kepada wisatawan.

Dinas Kebudayaan, Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Sumatera Utara sendiri secara resmi meminta 30 SDM pariwisata bidang pemandu wisata berbasis geowisata untuk mengikuti fasilitasi sertifikasi di Kabupaten Simalungun.

Ke depan, proses seperti ini diharapkan tidak berhenti pada satu angkatan.

Ada kebutuhan untuk terus meningkatkan kapasitas pemandu, mengembangkan jenjang kompetensi, dan memperkuat organisasi profesi sehingga para pemandu dapat terus belajar setelah memperoleh sertifikasi.

Sebab dunia pariwisata terus berubah. Wisatawan semakin banyak bertanya.

Destinasi semakin membutuhkan interpretasi yang berkualitas. Geopark membutuhkan orang-orang yang bukan hanya mampu membawa wisatawan datang, tetapi juga mampu membuat mereka mengerti, menghargai, dan ikut menjaga tempat yang mereka kunjungi.

Tiga hari di Parapat seharusnya bukan sekadar perjalanan dari ruang kelas menuju ujian.

Ini adalah perjalanan dari pengalaman menuju kompetensi. Dari sekadar mengenal sebuah tempat menjadi memahami ceritanya.

Dari sekadar membawa wisatawan melihat Geopark Kaldera Toba, menjadi bagian dari upaya memperkenalkan nilai geologi, budaya dan alamnya kepada dunia.

Penulis/Editor: Damayanti Sinaga

BERSPONSOR

ARTIKEL TERKAIT

TERBARU