spot_img

Tondi-Sahala Partondion

Roh – Pancaran Jiwa Dalam Diri Orang Batak Toba (V)

NINNA.ID – Ketakutan akan begu hingga saat ini masih tetap mengalir kuat di daerah orang Batak, sekalipun agama Kristen sudah hampir 100 tahun hadir di sana.

Imajinasi orang Batak Toba dibagi menurut status sosial saat hidup di dunia ini. Bagi orang biasa, begunya akan bersahaja tetapi bagi keluarga yang memiliki kedudukan tinggi saat dunia ini, dia akan memperoleh tempat terhormat.

ini bermula dari upacara penguburan yang biasanya diramaikan dengan pemotongan kerbau-kerbau dan beberapa babi.

Arwah orang terhormat dan hidup bersahaja saat di dunia ini, yakni punya keturunan anak laki-laki dan perempuan, punya cucu, panjang umur dan secara ekonomi berkecukupan serta hidup moralnya terpuji. Artinya tidak pernah tercela.

Inilah yang dipuja sebagai SUMANGOT, yaitu arwah yang lebih tinggi. dengan menjadi sumangot berarti mereka menjadi raja atas roh-roh lain.

Arwah leluhur yang sudah menjadi sumangot yang saleh diyakini akan member rejeki kepada keluarga yang ditinggalkan dan menggerakkan roh menjadi perantara dalam kesulitan hidup. Dia akan menjadi teladan suci dalam keluarga.

Sesudah beberapa generasi, sumangot dapat dipuja dengan martabat sombaon yaitu roh yang lebih tinggi lagi. Tapi ini menghendaki keturunan yang sangat banyak dan orang-orang yang kualitasnya lebih hebat dari sesamanya.

Pemujaan berlangsung selama pesta besar, di mana seluruh marga mengambil bagian. Orang Batak yang masih berpegang kuat pada keyakinan lama sangat yakin bawah sombaon sudah hidup dekat dengan para dewa.

TERKAIT  Roh – Pancaran Jiwa Dalam Diri Orang Batak Toba (VI)

Sumangot dan sombaon diyakini berdiam di tempat tertentu yang tak mungkin dilintasi oleh manusia. Misalnya di puncak gunung tinggi, sumber air panas dan di tengah hutan belantara.

Tempat yang diyakini sebagai tempat kediaman sumangot dan sombaon dilarang untuk dilintasi atau diinjak. Bila diinjak maka akan mendapat bala.

Para sombaon dan sumangot hadir dan berbicara melalui seseorang. Hal itu terjadi pada saat seseorang itu mengalami kesurupan.

Kesurupan dapat terjadi pada pesta margondang (bergendang). Saat kesurupan Sumangot atau sombaon menuntut sesajen yang harus dipersembahkan kepada dia.

menjadi medium (seseorang yang mengalami keserupan) tak soal siapa yang mau dipilih dan bagaimana pendidikannya. Roh sendiri yang akan memilih siapa akan jadi perantaranya dan tidak terduga-duga.

Soal kesurupan rasanya sia-sia untuk menerangkannya dari sisi akal budi tetapi yang pasti bahwa hal itu sering terjadi. Pribadi yang dikuasai biasanya lepas kendali dan seakan kehilangan kesadaran.(Tulisan ini akan kami sajikan bersambung setiap hari Minggu, Rabu dan Sabtu)

 

Penulis Pastor Moses Elias Situmorang (Direktur Rumah Pembinaan Fransiskan Nagahuta, P.Siantar-Sumut dan calon Peserta PPRA 63-64 Lemhannas RI)
Editor     : Mahadi Sitanggang

 

ARTIKEL TERKAIT

TERBARU