Desa-Desa di Samosir Siap Menyukseskan Pelaksanaan Trail of The Kings

BERSPONSOR

SAMOSIR, NINNA.ID – Menjelang pelaksanaan Trail of the Kings (TOTK) – Lake Toba by UTMB 2026 pada 12–14 Juni mendatang, suasana persiapan mulai terasa hingga ke desa-desa yang akan dilintasi para pelari.

Bagi masyarakat Samosir, event ini bukan sekadar perlombaan lari lintas alam, melainkan kesempatan memperlihatkan keramahan, keindahan alam, dan kesiapan masyarakat Danau Toba kepada dunia.

Kesadaran itu terlihat dalam rapat koordinasi yang digelar Pemerintah Kecamatan Sianjur Mulamula bersama para kepala desa, perangkat desa, serta berbagai pihak yang terlibat dalam penyelenggaraan event internasional tersebut.

Di ruang rapat, pembahasan tidak hanya berkisar pada teknis perlombaan. Yang dibicarakan justru lebih luas antara lain bagaimana masyarakat menyambut tamu dari puluhan negara, bagaimana menjaga keselamatan peserta, hingga bagaimana memastikan tidak terjadi kebakaran hutan dan lahan selama event berlangsung.

BERSPONSOR

Tamu dari 34 Negara Akan Melintas di Desa-Desa Samosir

Salah satu hal yang berulang kali ditekankan dalam rapat adalah bahwa TOTK bukan lagi event lokal.

Tahun ini, peserta diperkirakan datang dari sekitar 34 negara. Mereka tidak hanya berlari melewati jalur pegunungan, hutan, dan perkampungan, tetapi juga akan membawa pulang cerita tentang masyarakat yang mereka temui sepanjang perjalanan.

Karena itu, para kepala desa diminta aktif menyosialisasikan kegiatan ini kepada masyarakat. Warga perlu mengetahui kapan pelari akan melintas, jalur mana yang digunakan, serta bagaimana cara terbaik menyambut mereka.

Panitia bahkan menilai antusiasme warga menjadi salah satu daya tarik yang paling diingat peserta tahun lalu.

MEGAN FROM AUSTRALIA
“Spirit Woman!” Seruan sederhana dari warga dan anak-anak di sepanjang lintasan ternyata menjadi kenangan paling berharga bagi salah satu peserta Trail of the Kings 2025. Saat event berlangsung, mari sambut para pelari dengan senyum, semangat, dan keramahan. Bisa jadi, dukungan kita akan menjadi cerita yang mereka bawa pulang ke negaranya. (Screenshot postingan Instagram peserta TOTK 2025)

Bukan garis finis atau medali yang banyak diceritakan pelari kepada panitia, melainkan momen-momen sederhana ketika mereka melihat warga berdiri di depan rumah, anak-anak melambaikan tangan, atau ibu-ibu memberi semangat dari pinggir jalan.

Bagi pelari yang berjam-jam bergulat dengan tanjakan dan medan berat, dukungan spontan masyarakat menjadi energi tambahan yang tidak terlupakan.

Karena itu, tahun ini masyarakat kembali diajak hadir di titik-titik lintasan untuk memberikan semangat kepada peserta.

- Advertisement -

Jalur Menembus Jantung Sianjur Mulamula

Sebagian besar lintasan TOTK tahun ini akan melintasi Kawasan Sianjur Mulamula.

Rute dirancang lebih banyak melewati jalan setapak, jalur tradisional, kawasan perbukitan, hingga area hutan yang selama ini menjadi bagian dari kehidupan masyarakat setempat.

Para peserta akan melintasi Kawasan seperti Pusuk Buhit, Sitahoan, Bukit Burung, dan sejumlah desa yang selama ini dikenal memiliki panorama alam Danau Toba yang menakjubkan.

Karena banyak bagian lintasan berada jauh dari jalan raya, peran masyarakat lokal menjadi sangat penting.

Mereka bukan hanya menjadi penonton, tetapi juga bagian dari sistem keselamatan event melalui keterlibatan sebagai marshal, penjaga persimpangan, petugas water station, hingga relawan yang membantu mengarahkan pelari.

Dalam rapat juga dibahas perlunya koordinasi yang lebih baik dibanding tahun sebelumnya, termasuk memastikan setiap petugas memahami tugas masing-masing dan memiliki komunikasi yang lancar dengan panitia.

Trail of the Kings (TOTK)
Rizal dari panitia Trail of the Kings (TOTK) memaparkan rute yang akan dilintasi para peserta kepada para kepala desa dan pemangku kepentingan dalam rapat koordinasi di Kantor Camat Sianjur MulaMula. Sebagian besar lintasan akan melewati jalur perbukitan, hutan, dan desa-desa di kawasan Sianjur MulaMula yang menjadi fokus persiapan menjelang pelaksanaan TOTK 2026.

Menjaga Hutan Saat Musim Kemarau

Di tengah persiapan menyambut ribuan peserta dan pendamping, perhatian besar juga diberikan pada ancaman kebakaran hutan dan lahan.

Memasuki musim kemarau, cuaca panas diperkirakan akan meningkat. Karena itu, pemerintah mengimbau masyarakat untuk tidak melakukan pembakaran lahan, semak, rumput kering maupun sampah selama periode penyelenggaraan event.

Asap dari pembakaran dikhawatirkan mengganggu peserta yang sedang berlari, terutama di jalur-jalur yang berada dekat permukiman dan lahan pertanian.

TERKAIT  Kelaparan Global: Menanggapi Krisis Saat Ini dengan Memikirkan Masa Depan

Lebih dari itu, kebakaran yang tidak terkendali dapat merusak citra destinasi yang sedang berusaha menunjukkan wajah terbaiknya kepada dunia.

Para kepala desa diminta aktif melakukan sosialisasi kepada masyarakat, menghidupkan kembali patroli lingkungan, serta melibatkan kelompok masyarakat yang selama ini bergerak dalam pencegahan kebakaran.

“Kami meminta seluruh kepala desa yang wilayahnya dilintasi peserta Trail of the Kings untuk aktif menyosialisasikan pentingnya pencegahan kebakaran kepada masyarakat, menghidupkan kembali patroli lingkungan, serta melibatkan kelompok-kelompok masyarakat yang selama ini bergerak dalam upaya pencegahan kebakaran hutan dan lahan, ujar Camat Sianjur MulaMula, Andri Pandapotan Limbong pada Rapat Koordinasi yang digelar Pemerintah Kecamatan Sianjur Mulamula pada Senin 8 Juni 2026,

Pesan yang ingin disampaikan sederhana yakni suksesnya TOTK bukan hanya tanggung jawab panitia, tetapi tanggung jawab bersama seluruh masyarakat yang berada di sekitar lintasan.

Peluang Ekonomi

Di sela rapat, muncul satu pesan yang menarik.

Seorang peserta rapat yang juga bergerak di bidang pariwisata mengingatkan bahwa TOTK seharusnya tidak hanya dipandang sebagai event olahraga tahunan.

Menurutnya, event ini adalah momentum untuk melatih masyarakat agar semakin siap menjadi pelaku pariwisata.

Ia berharap masyarakat lokal tidak hanya menjadi penonton, tetapi juga mengambil manfaat ekonomi dari kedatangan wisatawan.

Mulai dari menyediakan homestay, menjadi pemandu wisata, membuka usaha kuliner, menjual produk lokal, hingga menyediakan layanan transportasi.

Ia juga menekankan pentingnya memberikan ruang yang lebih besar kepada masyarakat lokal dalam setiap kegiatan yang berkaitan dengan event.

MEGAN FROM AUSTRALIA_TOUR BERSAMA BUTET INDONESIAN GUIDE
Seorang peserta Trail of the Kings menikmati tur keliling Samosir bersama pemandu lokal. Contoh sederhana bagaimana event dapat membuka peluang usaha dan pendapatan bagi masyarakat sekitar. (Screenshot postingan Instagram peserta TOTK 2025)

Bagi dirinya, kehadiran wisatawan internasional adalah kesempatan belajar sekaligus kesempatan menunjukkan bahwa masyarakat Danau Toba mampu menjadi tuan rumah yang profesional.

“Jangan hanya menunggu TOTK setahun sekali. Jadikan ini sebagai latihan untuk menyambut lebih banyak event di masa depan,” pesannya.

Menjadikan Budaya sebagai Sambutan

Selain soal keselamatan dan teknis perlombaan, rapat juga membahas bagaimana menghadirkan nuansa budaya di sepanjang lintasan.

Muncul usulan agar masyarakat desa menghadirkan penyambutan sederhana namun khas Batak di beberapa titik strategis.

Tidak harus besar dan mahal. Kehadiran gondang, sorak penyemangat, atau sekadar sambutan hangat dari warga dinilai sudah cukup memberikan pengalaman berbeda bagi para pelari.

Bagi peserta internasional, pengalaman yang paling berkesan sering kali bukan fasilitas mewah, melainkan interaksi langsung dengan masyarakat lokal.

Karena itu, semangat gotong royong dan keramahan warga menjadi modal yang tak kalah penting dibanding keindahan alam yang dimiliki Samosir.

Lebih dari Sekadar Perlombaan

Menjelang hari pelaksanaan, satu hal menjadi semakin jelas.

Trail of the Kings bukan hanya tentang siapa yang tercepat mencapai garis finis.

Event ini adalah panggung besar tempat Samosir memperkenalkan dirinya kepada dunia.

Setiap rumah yang terlihat dari lintasan, setiap senyum warga yang menyapa pelari, setiap hutan yang tetap hijau tanpa kebakaran, hingga setiap relawan yang berjaga di persimpangan akan menjadi bagian dari cerita yang dibawa pulang para peserta ke negaranya masing-masing.

Karena itulah, persiapan yang dilakukan hari ini sesungguhnya bukan hanya untuk menyukseskan sebuah lomba.

Ini adalah upaya bersama menjaga nama baik Samosir dan Danau Toba di mata dunia.

Penulis/Editor: Damayanti Sinaga

BERSPONSOR

ARTIKEL TERKAIT

TERBARU