Simalungun, NINNA.ID – Pengembangan destinasi wisata tidak cukup hanya membangun infrastruktur atau mempercantik lokasi wisata. Yang tidak kalah penting adalah menyiapkan sumber daya manusia yang mampu menjelaskan nilai dan keunikan sebuah destinasi kepada wisatawan.
Inilah yang menjadi salah satu tujuan pelatihan pemandu wisata yang digagas BPODT. Menariknya, pelatihan yang berlangsung selama dua hari yakni Rabu-Kamis 3-4 Juni 2026 tidak hanya dilakukan di dalam ruangan.
Para peserta langsung diajak turun ke lapangan untuk melihat dan memahami potensi wisata yang ada di Kampung Girsang, Kecamatan Girsang Sipangan Bolon, Kabupaten Simalungun.
Karena keterbatasan waktu, peserta hanya mengunjungi tiga lokasi. Namun ketiga lokasi tersebut dipilih karena mewakili tiga pilar utama UNESCO Global Geopark, yaitu biodiversitas, budaya, dan geologi.
Ketiganya menjadi fondasi penting jika Kampung Girsang ingin berkembang sebagai kampung wisata berbasis Geopark Kaldera Toba.
Belajar dari Kebun yang Dimiliki Masyarakat
Lokasi pertama yang dikunjungi adalah Botanical Garden di Huta Simanjorang.
Berbeda dengan taman botani pada umumnya, kawasan ini merupakan kebun yang dikelola masyarakat. Di dalamnya tumbuh berbagai jenis tanaman seperti kopi, kakao, kemiri, andaliman, jahe, kunyit, nenas, alpukat, durian, hingga berbagai tanaman hutan.

Bagi peserta pelatihan, lokasi ini menjadi contoh nyata bagaimana kekayaan biodiversitas dapat menjadi daya tarik wisata.
Selama ini banyak orang melihat kebun hanya sebagai tempat produksi pertanian. Namun melalui pendekatan Geopark, kebun juga dapat menjadi sarana edukasi.
Wisatawan bisa belajar tentang tanaman rempah, tanaman obat, kopi, hingga memahami mengapa kawasan Danau Toba memiliki tanah yang sangat subur.
Peserta pelatihan juga diajak memahami bahwa seorang pemandu wisata harus mampu menghubungkan antara kondisi alam, pertanian, dan kehidupan masyarakat.
Dengan cara itu, wisatawan tidak hanya datang untuk melihat pemandangan, tetapi juga memperoleh pengetahuan dan pengalaman yang bermakna.
Rumah Batak Menjadi Kekuatan Budaya
Perjalanan kemudian dilanjutkan ke Huta Sidasuhut.
Di huta ini masih berdiri Rumah Adat Batak Toba yang diwariskan turun-temurun dan tetap dihuni oleh keturunan pemiliknya.
Kondisi ini menjadi nilai lebih karena wisatawan dapat melihat langsung bagaimana warisan budaya tetap hidup di tengah masyarakat modern.

Para peserta belajar bahwa wisata budaya bukan hanya tentang bangunan tua. Yang lebih penting adalah cerita dan nilai yang terkandung di dalamnya.
Rumah adat menjadi pintu masuk untuk menjelaskan sejarah kampung, sistem sosial masyarakat Batak, nilai kekeluargaan, serta budaya marsiadapari atau gotong royong yang masih dijalankan hingga saat ini.
Bagi Kampung Girsang, keberadaan rumah adat yang masih asli merupakan aset wisata yang tidak bisa dibangun secara instan.
Warisan ini sudah ada dan tinggal diperkuat melalui pengelolaan yang baik serta kemampuan masyarakat untuk menceritakannya kepada wisatawan.
Mual Bolon dan Pentingnya Menjaga Lingkungan
Lokasi terakhir adalah Mual Bolon di Kampung Girsang 2.
Di tempat ini peserta diajak memahami hubungan antara lingkungan dan kehidupan masyarakat. Mata air yang mengalir sepanjang tahun menjadi sumber air penting bagi pertanian dan kebutuhan warga.
Melalui kunjungan ini, peserta belajar bahwa menjaga lingkungan bukan hanya soal konservasi, tetapi juga menjaga sumber penghidupan masyarakat.

Air yang tersedia karena hutan masih terjaga membantu mengairi sawah dan kebun warga.
Dari sinilah muncul pelajaran bahwa pengembangan wisata harus berjalan seiring dengan upaya menjaga alam. Jika lingkungan rusak, maka daya tarik wisata juga akan berkurang.
Modal Besar Menjadi Kampung Wisata
Pelatihan lapangan ini sekaligus memperlihatkan bahwa Kampung Girsang memiliki modal yang kuat untuk berkembang menjadi kampung wisata.
Tidak semua kampung memiliki kombinasi antara keindahan alam, kekayaan pertanian, budaya yang masih hidup, serta lokasi yang berada dalam kawasan Geopark Kaldera Toba. Kampung Girsang memiliki semuanya.
Namun pengembangan kampung wisata tidak cukup mengandalkan potensi yang sudah ada.
Masyarakat juga perlu memiliki kemampuan menjadi tuan rumah yang baik, termasuk kemampuan memandu wisatawan dan menyampaikan cerita tentang kampung mereka sendiri.
Karena itu, pelatihan pemandu wisata menjadi langkah penting. Ketika masyarakat mampu menjelaskan kekayaan alam, budaya, dan sejarah kampungnya dengan baik, maka wisatawan akan memperoleh pengalaman yang lebih berkesan.
Dampaknya bukan hanya pada meningkatnya kunjungan wisata, tetapi juga terbukanya peluang ekonomi baru bagi masyarakat melalui homestay, kuliner, produk pertanian, kerajinan, dan berbagai usaha lokal lainnya.

Melalui pelatihan ini, BPODT menunjukkan bahwa pengembangan pariwisata tidak selalu harus dimulai dari proyek besar.
Kadang-kadang, langkah awal yang paling penting adalah menyiapkan masyarakat agar mampu mengenali, menjaga, dan mempromosikan potensi yang sudah mereka miliki.
Kampung Girsang menjadi contoh bagaimana alam, budaya, dan pertanian dapat diintegrasikan menjadi pengalaman wisata yang memberi manfaat langsung bagi masyarakat setempat.
Penulis/Editor:Damayanti Sinaga



