Geopark Kaldera Toba: Antara Rencana dan Kenyataan

NINNA.ID-Merawat Danau Toba itu sering kita bicarakan dengan kalimat yang indah-indah: keseimbangan, keberlanjutan, konservasi. Semua terdengar akademis, rapi, dan meyakinkan. Tetapi di lapangan, Danau Toba tidak hidup dari kata-kata. Ia hidup dari apa yang benar-benar kita lakukan—atau justru tidak kita lakukan.

Sebagai kawasan dengan nilai geologi, ekologi, dan budaya kelas dunia, Danau Toba memang pantas menyandang status UNESCO Global Geopark. Masalahnya, kita tampaknya lebih sibuk merawat status itu daripada merawat ekosistemnya. Label internasional diperlakukan seperti medali—dipajang, dibanggakan, tetapi lupa dirawat maknanya.

Jarak antara komitmen dan kenyataan itu hari ini terasa terlalu lebar untuk diabaikan.

Hulu: kita menebang, lalu pura-pura menanam

Mari mulai dari hulu. Di atas sana, di daerah tangkapan air, persoalannya sebenarnya terang-benderang, hanya saja sering dibungkus dengan istilah halus seperti “perubahan tata guna lahan”.

Padahal, kalau mau jujur, kita sedang berbicara tentang penebangan kayu dan tekanan industri kehutanan.

Hutan yang seharusnya menjadi “menara air” bagi Danau Toba terus menyusut. Lereng-lereng dibuka, pohon-pohon hilang, tanah kehilangan pegangan. Ketika hujan turun, air tidak lagi meresap, tetapi berlari—membawa tanah, membawa lumpur, dan akhirnya membawa masalah ke danau.

Lucunya—atau ironisnya—setiap kali masalah muncul, kita ramai-ramai menanam pohon. Seolah-olah satu bibit bisa menebus satu bukit yang sudah gundul. Ini bukan soal anti-reboisasi, tetapi soal kejujuran: kita tidak bisa terus menebang dengan satu tangan dan menanam dengan tangan yang lain, lalu berharap alam tidak menghitungnya.

Geopark Kaldera Toba
Jejak pembalakan hutan di kawasan yang bertuliskan Hutan Lindung di daerah Sitahoan, Simalungun, Kawasan Danau Toba (foto:damayanti)

Industri kayu juga tidak berhenti pada penebangan. Ia membuka jalan, memecah hutan, dan setelah itu—diam-diam—mengundang perubahan permanen. Kawasan yang terbuka jarang kembali menjadi hutan; ia berubah menjadi ladang, kebun, atau permukiman. Sekali fungsi ekologis hilang, tidak mudah mengembalikannya.

BERSPONSOR

Hilir: danau jadi tempat buang bersama

Turun ke hilir, ceritanya berbeda, tetapi ujungnya sama: tekanan yang terus menumpuk.

Keramba jaring apung tumbuh seperti jamur di musim hujan. Ikan memang tumbuh, ekonomi bergerak, tetapi limbah juga ikut berkembang. Pakan yang tidak termakan, kotoran ikan—semuanya masuk ke danau. Kita seperti memberi makan ikan, tetapi sekaligus “memberi racun” pada airnya.

Di darat, rumah-rumah berdiri semakin dekat dengan danau. Sayangnya, tidak semua diikuti dengan sistem pengelolaan limbah yang layak. Sampah dan air limbah masih dengan mudah menemukan jalan ke Danau Toba.

Pariwisata? Ini ironi berikutnya. Kita menjual keindahan danau, tetapi belum sepenuhnya siap menjaga kebersihannya. Wisatawan datang menikmati, tetapi sistem kita belum selalu siap mengelola dampaknya.

- Advertisement -

Akhirnya, Danau Toba seperti menjadi “rekening bersama”—semua setor, tetapi tidak ada yang benar-benar menghitung saldo kerusakannya.

TERKAIT  Mantri Kesenian Toba Di-Prank Nadiem Makarim

Solusi banyak, tetapi berjalan sendiri-sendiri

Kalau ditanya solusi, kita tidak kekurangan. Reboisasi ada, penataan keramba ada, program sampah ada, sanitasi ada. Bahkan rapatnya pun tidak kurang.

Masalahnya sederhana: semua ada, tetapi tidak menyatu.

Program berjalan seperti orkestra tanpa dirigen. Masing-masing memainkan bagiannya, tetapi tidak menghasilkan harmoni. Yang terjadi justru kebisingan kebijakan—ramai di atas kertas, tetapi lemah di lapangan.

Kita ini sebenarnya tidak kekurangan rencana. Kita kekurangan konsistensi.

Geopark: hidup menjelang asesor, redup setelahnya

Dalam konteks inilah peran Toba Caldera UNESCO Global Geopark menjadi menarik untuk dicermati.

Di atas kertas, geopark adalah konsep yang luar biasa: menggabungkan konservasi, edukasi, dan pemberdayaan masyarakat. Tetapi di lapangan, muncul pertanyaan sederhana dari warga: “Geopark itu sebenarnya apa, dan manfaatnya di mana?”

Ada pola yang sulit dibantah. Menjelang revalidasi UNESCO, semua bergerak cepat:

  • papan informasi diperbaiki
  • kegiatan digiatkan
  • koordinasi diperkuat

Tetapi setelah asesor pulang, gaungnya ikut meredup. Seolah-olah geopark itu hadir mengikuti jadwal penilaian, bukan kebutuhan kawasan.

Kalau boleh jujur sedikit—dengan nada yang agak jenaka tetapi serius—jangan-jangan yang paling konsisten dari geopark kita justru jadwal revalidasinya, bukan implementasinya.

Antara label dan realitas

Masalah Danau Toba hari ini bukan semata soal lingkungan, tetapi soal kejujuran dalam tata kelola. Kita punya label global, tetapi praktik lokal kita belum sepenuhnya mencerminkan standar itu.

Ketika hulu rusak oleh deforestasi dan industri kayu, dan hilir terbebani oleh limbah dan aktivitas ekonomi, maka geopark seharusnya menjadi solusi yang menjembatani. Namun jembatan itu belum sepenuhnya tersambung.

Geopark tidak boleh berhenti sebagai proyek, apalagi sebagai seremoni. Ia harus menjadi sistem yang bekerja setiap hari, bahkan ketika tidak ada asesor yang datang.

Penutup: berhenti berpura-pura, mulai bekerja

Danau Toba tidak membutuhkan lebih banyak slogan. Ia membutuhkan konsistensi. Ia membutuhkan keberanian untuk menertibkan yang merusak, sekaligus keteguhan untuk membangun yang berkelanjutan.

Kita tidak bisa terus menyalahkan masa lalu sambil mengulangi kesalahan yang sama hari ini.

Pada akhirnya, pertanyaannya sederhana: apakah kita ingin Danau Toba tetap hidup sebagai ekosistem, atau cukup sebagai cerita dalam brosur wisata?

Jika geopark benar-benar ingin “turun ke tapak”, maka ia harus berhenti menjadi agenda musiman dan mulai menjadi komitmen harian. Kalau tidak, kita hanya akan terus sibuk menjaga status—sementara Danau Toba perlahan kehilangan substansinya.

Penulis: Dr. Wilmar Eliaser Simandjorang, Dip.Ec., Dipl.Plan., M.Si
Editor: Damayanti Sinaga

BERSPONSOR

ARTIKEL TERKAIT

TERBARU