spot_img

Pidong Sitapitapi Kita, Sudah pada Ke mana, ya?

NINNA.ID – Saya kelahiran tahun 1987-an. Tepatnya di salah satu pelosok Humbang Hasundutan di Desa Hutapaung Utara, Kecamatan Pollung. Saya tak sedang ingin memberikan atau memamerkan usia, apalagi perkenalan. Saya ingin menyampaikan sebuah keistimewaan masa lalu. Sebab, cukup banyak keistimewaan masa lalu yang kini tak bisa lagi dinikmati generasi muda sekarang ini.

Salah satu keistimewaan itu adalah mendengar suara burung Sitapitapi. Entah mengapa namanya disebut demikian. Tetapi, nama itu cukup banyak diabadikan, seperti nama grup kesenian dan sebagainya. Mungkin, karena nama burung itu cukup unik. Di tempat kami sendiri, nama Sitapitapi sering menjadi ledekan di antara kami. Dan, memang, dulunya kata Sitapitapi cukup sering menjadi perumpamaan bagi kami.

Oh, iya, Sitapitapi dalam bahasa Indonesia sering disebut burung Kacer Gacor.

Silakan cari di google. Cukup banyak pasti. Nah, dalam namanya di bahasa Indonesia disebut: gacor. Disebut gacor karena memang burung ini cukup berisik. Hampir selalu berkicau. Karena itulah, di zaman kami, jika siswa selalu ribut, guru akan berkata: sai hera Sitapitapi do ho (betullah kau seperti burung Kacer Gacor).

Namun, saya baru sadar sekira dua tahun lalu. Tepatnya pada tahun 2019. Itu ketika saya sudah kembali bekerja dan ditempatkan di kampung halaman. Ceritanya, kami sedang pergi mencari sarang burung jalak. Di tengah pencarian, tiba-tiba kawan berkata ungkapan itu lagi sambil bercanda: sai hera burung Sitapitapi. Sontak saya berkata setelah mendengar, apakah kalian masih melihat Sitapitapi?

Pada pencarian sarang buruk jalak kali ini, dominan kami cuma ikut-ikutan. Daripada tidak ada kegiatan. Maka, kami pun pergi. Namun, ada satu orang yang hobi mengumpulkan burung. Bahkan, beberapa kali sudah menjualnya. Ia pun berkata bahwa pidong Sitapitapi sudah lama mulai tidak ada di kampung kami. Saya percaya padanya. Sebab, setelah kami mencari dari google, harga burung ini memang cukup lumayan.

Jadi, lumayan logis banyak orang memburunya. Tetapi, siapa, ya? Saya seperti tak banyak melihat pemburu burung. Nah, dari sanalah saya belajar satu hal: tekadang kita tidak sadar bahwa ada yang pelan-pelan hilang. Seperti burung Sitapitapi ini. Dulu sekali, sampai saya masih SMP, kuingat betul bahwa pidong Sitapitapi masih cukup banyak. Suaranya masih sering kami dengar. Bahkan, saya tahu persis gerakan burung ini.

Sewaktu SMA, karena saya bersekolah di Siantar, saya mulai tak ingat lagi. Tetapi, pada kurun waktu SD sampai SMP, sambil menggembala atau mencari rumput atau main-main di ladang dan sawah, saya sering melihat burung ini. Merayap di tengah sawah. Burung ini nyaris tak pernah berjalan, kecuali melompat. Tentu saja juga terbang. Ia berbeda dengan burung lain. Burung ini lebih sering kakinya hanya satu menyentuh tanah.

TERKAIT  Cerita Parhaminjon (2)

Namun, jika berada di ranting, kakinya akan turun dua-duanya. Mungkin, burung ini merasa tak aman merayap di tanah sehingga tak yakin menurunkan kedua kakinya. Tetapi, kecuali ditembak, rasanya mustahil menangkap burung ini. Begitu kita mendekat, ia akan terbang. Maksud saya, jika kini burung ini sudah mulai tidak ada, burung ini mungkin ditembak dari kejauhan. Tetapi, siapa yang tega menembaknya?

Saya ragu jika burung ini ditembak. Seumur saya, saya belum pernah mendengar Sitapitapi dimasak lalu dimakan. Kecuali burung-burung yang lebih besar lainnya. Artinya, jika burung ini mulai langka, maka ada banyak penyebabnya. Pertama, dari segi reproduksi. Mungkin saja jenis burung ini tidak bertahan dalam metabolisme dan reproduksi. Ini terjadi barangkali karena kelangkaan makanan pokok mereka.

Saya katakan begitu karena kini juga ikan-ikan kecil di sawah mulai hampir tak ada lagi. Dulu sekali, ikan gabus masih gampang ditangkap. Sekarang ini, oh, sudah sangat jarang. Tentu penyebabnya bukan karena penangkapan semata. Ini karena bahan makanan berkurang serta anak-anaknya bermatian. Bermatian karena penggunaan pestisida sangat banyak di kali-kali sawah. Inilah yang mungkin terjadi pada burung Sitapitapi.

Bahan makanannya mungkin berkurang sehingga asupan vitamin untuk metabolisme dan reproduksinya menurun. Tetapi, itu satu hal. Hal lain ada pula. Benar, mungkin burung ini diburu tidak dengan ditembak. Sebab, untuk apa mendapatkan burung yang sudah mati, bukan? Jadi, burung ini ditangkap hidup-hidup dengan cara menjebaknya di sangkar burung Sitapitapi lainnya. Begitu berulang hingga kini kita mendapat fakta, burung ini hampir punah.

Bahkan, setelah saya amati dan beberapa kali ke ladang, untuk daerah kami di Pollung Humbang Hasundutan, burung ini sepertinya sudah benar-benar punah. Sawah pun tidak semeriah dulu lagi dengan kicauan burung yang lumayan gacor ini. Praktisnya, jika ada generasi muda bertanya tentang pidong Sitapitapi, kita akan susah untuk menunjukkannya secara langsung, kecuali dari YouTube.

Dan, itulah keistimewaan kita dulu. Kita bisa melihat dan mendengar suara burung ini secara langsung. Bukan dari google atau YouTube. Saya tak tahu bagaimana cara kita mengembalikan pidong Sitapitapi ini kembali. Tetapi, saya punya hitung-hitungan. Dalam 20 tahun terakhir, setidaknya ada 3 jenis burung yang mulai tak pernah saya lihat. Saya jadi bertanya, untuk 20 tahun lagi, burung mana yang akan segera punah, ya?

Semoga kita mengerti arti tulisan ini. Sekali lagi, semoga mengerti.

 

Penulis    : Riduan Pebriadi Situmorang
Editor       : Mahadi Sitanggang

ARTIKEL TERKAIT

TERBARU