Cara Warga Danau Toba Ciptakan Peluang Bisnis dari Getah Kemenyan Jadi Parfum

Humbahas, NINNA.ID-Di saat mencari kerja makin sulit—bahkan untuk lulusan kuliah—banyak orang hanya bisa menunggu kesempatan datang. Tapi di Kawasan Danau Toba, ada sekelompok warga yang memilih cara berbeda. Mereka tidak menunggu, melainkan menciptakan peluang sendiri dari apa yang ada di sekitar mereka.

Mereka tidak memulai dari modal besar, bukan pula dari teknologi canggih. Mereka memulai dari sesuatu yang telah lama ada di tanah mereka sendiri—kemenyan.

Kreativitas menjadi titik awal. Dan keberanian untuk berubah menjadi bahan bakarnya.

Inilah yang dilakukan oleh para anggota Koperasi Timbo Benzoin Toba.

Di Humbang Hasundutan, tahun 2026 menjadi momen penting bagi koperasi ini. Dalam Rapat Anggota Tahunan (RAT) pada Sabtu 25 April yang mengusung tema “Penguatan Koperasi melalui Hilirisasi Kemenyan”, arah baru ditegaskan: berhenti hanya menjual getah mentah, dan mulai menciptakan produk bernilai tinggi.

Ketua Koperasi, Marlundu Lumban Gaol, menyampaikan perubahan cara berpikir ini dengan tegas.

“Kami tidak lagi hanya menjual getah kemenyan. Kami ingin mengolahnya menjadi produk yang punya nilai, yang bisa bersaing, bahkan di pasar global.”

Apa yang mereka lakukan bukan sekadar inovasi produk. Ini adalah perubahan paradigma.

BERSPONSOR

Langkah ini tidak berjalan sendiri. Sepanjang tahun, koperasi aktif membangun kolaborasi dengan berbagai lembaga. Pelatihan pengolahan kemenyan dilakukan bersama Bank Indonesia, memperkuat kemampuan anggota dalam produksi hilir.

Tak lama berselang, Lembaga Pembiayaan Ekspor Indonesia datang berkunjung. Mereka tidak sekadar melihat—mereka membuka kemungkinan bahwa produk dari kampung ini bisa menembus pasar ekspor.

Sinyalnya jelas. Kemenyan bukan lagi komoditas pinggiran. Ia sedang naik kelas.

Dari berbagai ide yang muncul, satu produk dipilih sebagai ujung tombak: parfum berbasis kemenyan.

- Advertisement -

Bagi banyak orang, kemenyan identik dengan ritual atau tradisi. Namun di tangan koperasi ini, kemenyan berubah menjadi sesuatu yang lebih modern—parfum dengan karakter aroma unik, kompleks, dan berlapis.

Ada aroma kayu dari hutan, kesegaran tropis dari alam, dan sentuhan lembab dari lanskap Danau Toba. Semua diracik dengan teknik yang tidak sederhana: lapisan demi lapisan aroma, yang berubah seiring waktu.

Nilai tambahnya jauh melampaui bahan mentahnya.

Di sinilah letak kekuatan hilirisasi.

Namun koperasi ini tidak berhenti pada produksi. Mereka memahami satu hal penting: produk tidak akan bergerak tanpa pasar.

TERKAIT  Daftar Bandara Tersibuk di Dunia: Destinasi Udara Terbesar dengan Jutaan Penumpang

Karena itu, anggota koperasi tidak hanya berperan sebagai pemilik—mereka juga menjadi pengguna dan penjual. Dalam keputusan RAT, setiap anggota baru diwajibkan membeli produk koperasi. Dari situ, mereka bisa menjual kembali, menciptakan perputaran ekonomi dari dalam.

Sederhana, tapi strategis.

Ekonomi tidak lagi datang dari luar. Ia dibangun dari dalam komunitas itu sendiri.

Di sisi lain, koperasi juga mulai membenahi fondasinya. Transparansi keuangan, profesionalitas pengurus, dan keterlibatan anggota menjadi perhatian utama. Mereka sadar: tanpa tata kelola yang kuat, pertumbuhan tidak akan bertahan.

Pelan-pelan, koperasi ini juga memisahkan antara aset pribadi dan aset lembaga. Sebuah langkah kecil, tapi penting untuk masa depan.

Yang menarik, mereka juga menyadari bahwa di era sekarang, produk saja tidak cukup.

Cerita atau story telling adalah segalanya.

Kemenyan bukan hanya getah. Ia adalah warisan. Ia adalah hutan. Ia adalah kehidupan petani. Ia adalah identitas.

PARFUM KEMENYAN_1_BENZOIN
Wisatawan yang berkunjung ke Danau Toba mengabadikan momen dengan parfum Kemenyan khas Danau Toba. (foto ©Damayanti)

Karena itu, koperasi akan membangun strategi storytelling—mengemas produk dengan narasi yang kuat. Mereka menyiapkan media sosial, website, dan konten digital agar cerita ini bisa sampai ke pasar yang lebih luas.

Sebab hari ini, orang tidak hanya membeli barang. Mereka membeli makna di baliknya.

Ke depan, koperasi ini bahkan merancang sesuatu yang lebih besar: sebuah pusat kemenyan terpadu.

Tempat di mana produksi, pelatihan, wisata, dan edukasi bertemu. Tempat di mana orang bisa datang, melihat pohon kemenyan, belajar meracik parfum, hingga membawa pulang produknya.

Bukan sekadar bisnis. Ini adalah ekosistem.

Semua ini berangkat dari satu hal sederhana: keberanian untuk tidak hanya menjual apa adanya.

PARFUM KEMENYAN_2_BENZOIN
Wisatawan yang berkunjung ke Danau Toba mengabadikan momen dengan parfum Kemenyan khas Danau Toba. (foto ©Damayanti)

Kemenyan, yang selama berabad-abad dikenal sebagai resin dari pohon Styrax benzoin, kini menemukan bentuk barunya. Dulu ia dibakar sebagai dupa, digunakan dalam ritual, atau diperdagangkan sebagai bahan mentah lintas benua. Kini, ia menjadi simbol inovasi dari desa.

Dari hutan-hutan Sumatra, dari tangan para petani, dari koperasi kecil—lahir sebuah harapan baru.

Bahwa masa depan tidak selalu datang dari luar.

Kadang, ia sudah ada di tanah sendiri. Tinggal diolah, diceritakan, dan diperjuangkan.

Dan warga Danau Toba telah membuktikan itu.

PARFUM KEMENYAN_3_BENZOIN
Wisatawan yang berkunjung ke Danau Toba mengabadikan momen dengan parfum Kemenyan khas Danau Toba. (foto ©Damayanti)

Penulis/Editor: Damayanti Sinaga

BERSPONSOR

ARTIKEL TERKAIT

TERBARU