spot_img

RUHUT PARUMAEN RO

Budaya Menyambut Kedatangan Calon Menantu Perempuan

SAMOSIR – Pada umumnya ketika seorang pemuda hendak menentukan pilihan pasangan hidup, harus terlebih dahulu memberitahu kepada orangtuanya. Lantas orang tua akan menanyakan boru (marga) apa dan di mana tempat tinggalnya. Setelah informasi yang diperlukan sudah jelas, kemudian orang tua laki-laki akan membuat keputusan untuk anaknya.

Tidak jarang terjadi, ketika orang tua si laki-laki mengenal orang tua si perempuan calon menantu, menjadi penentu apakah pilihan anaknya disetujui atau malah dilarang.

Hal ini biasanya disebabkan beberapa faktor, di antaranya keberadaan status keluarga dari si calon menantu, atau bisa juga disebabkan karena keluarga tersebut sering bertengkar, ada pula karena orang tua si perempuan itu sombong dan masih banyak hal lainnya yang menjadi pertimbangan.

Demikian juga dengan orang tua si perempuan menjadi hal yang lumrah melakukan penilaian kepada pihak laki-laki. Namun jika orang tua si laki-laki tadi merestuinya, maka pihak perempuan biasanya akan pergi menjumpai orang pintar Si titi ari” (ahli perbintangan) untuk menanyakan kapan waktu yang tepat menyambut kedatangan pihak keluarga laki-laki.

Minta petunjuk juga sampai pada proses pernikahan dan resepsinya, supaya pihak keluarga pun tahu mempersiapkan keperluan yang segala sesuatu agar terhindar dari marabahaya serta tidak melanggar hukum alam menurut kepercayaan adat batak.

Setelah tiba waktu yang telah ditentukan pihak laki laki, maka calon istri dijemput ke rumah keluarga laki-laki. Lantas si perempuan, dengan izin keluarga akan berangkat bersama calon suami dan harus mengajak seseorang teman dari pihak keluarganya. Misalnya dari garis namborunya (bibi) atau bisa juga salah satu teman yang selalu bersama dan sangat dekat dengan si perempuan.

Dalam perjalanan ke rumah keluarga laki-laki, ada tradisi mangambat pangalua (mencegat di tengah jalan) oleh pihak ketiga. Maka si Laki laki harus merogoh kantungnya memberikan sejumlah uang kepada pemuda yang mencegat tadi. Setelah melewati tradisi ini, perjalanan pun akan mulus sampai ke rumah orang tua si laki-laki. Mereka pun disebut sebagai pangoli (calon mempelai).

Sementara itu, sanak saudara si laki-laki yang tinggal di kampung, sudah mempersiapkan tikar kecil (Lage tiar) untuk menyambut mereka. Sesuai tradisi Batak, lage tiar ini mengandung arti agar calon parumaen yang datang ini sehat dan tidak kekurangan sesuatu apapun, tegar dan kuat hingga sampai akhir hidupnya,

TERKAIT  Sipaha Lima, Ritual Peringatan Lahirnya Raja Sisingamangaraja

Di rumah keluarga laki-laki, calon pengantin disambut sanak keluarga terdekat. Kemudian pangoli tersebut disarankan duduk di atas lage tiar. Keluarga pihak laki-laki lalu mengambil sejumput “beras si pir ni tondi” dan diletakkan pada kepala kedua calon mempelai, pertanda selamat atas kedatangan calon istri tersebut.

Melengkapi proses ini biasanya diadakan jamuan makan sederhana dengan selalu menyediakan namarmiak (lomok;babi muda). Makanan itu akan diberikan orang tua laki-laki kepada calon  mempelai dan diletakkan di hadapannya.

Setelah selesai acara makan, dilanjutkan dengan tradisi saling bertanya di antara kedua keluarga itu. Biasanya pendamping perempuan akan menanyakan apa pesan dan kesan pihak laki-laki kepada pihak perempuan, lalu parhata (juru bicara) akan menjawab bahwa kedatangan parumaen (menantu) mereka sudah direstui dan mereka daulat menjadi paniaran (sosok ibu) bagi  marga generasi si laki-laki.

Pada kesempatan itulah, parhata menyampaikan, bahwa tetua pihak laki-laki akan segera datang ke rumah orang tua perempuan, untuk menyampaikan hal-hal yang berkaitan dengan adat istiadat yang sepantasnya untuk calon pengantin.

Pendamping perempuan lalu membawa pesan tersebut dan segala informasi yang berkaitan dengan kelanjutan adat istiadat, untuk disampaikan kepada pihak keluarga perempuan.

 

Penulis : Aliman Tua Limbong
Editor    : Mahadi Sitanggang

ARTIKEL TERKAIT

TERBARU