spot_img

Parsorangni Sada Dakdanak (Lahirnya Seorang Anak Dalam Keluarga Batak)

NINNA.ID – SAMOSIR

Sekitar tahun 70-an ke bawah masyarakat di pedesaan Batak, pada umumnya tidak mudah untuk mendapatkan akses dan layanan tenaga medis. Untuk mengurus kesehatan ibu yang akan bersalin, masih mengenal dan percaya pada dukun partus yang kemudian dikenal dengan sibaso.

Sibaso salah seorang perempuan yang telah mendapat ilham atau memiliki talenta untuk menolong ibu melahirkan. Ajaibnya, tanpa pernah mempelajari ilmu kebidanan, sibaso tahu letak bayi hanya dengan memegang perut si ibu yang akan melahirkan. Bahkan tidak jarang juga, ada sibaso yang mampu memprediksi kelahiran si bayi (paima paisorang na).

Ketika bayi sudah lahir para sibaso belum bisa memotong tali pusarnya, harus menunggu ari-ari bayi tersebut diangkat juga dari dalam rahim si ibu. Setela ari-ari keluar barulah kemudian sibaso dapat memotong tali pusar bayi tersebut dengan sebilah bambu tuah dengan ukuran kecil, sehingga terbentuk semacam pisau yang sangat tajam, dikenal dengan sambilu.

Setelah si bayi tadi dibersihkan dan dimandikan, kemudian dibungkus dengan kain sarung khusus untuk bayi atau yang sering disebut lampin. Kemudian bayi tersebut akan dilalo. Dilalo artinya diayun-ayunkan di atas api dengan tujuan agar si bayi jangan gampang terkejut.

Kemudian nenek dan para orang tua yang sudah sepuh, datang untuk melihat kelahiran bayi tersebut untuk mengucapkan suatu kalimat sakral “Ambil bayi ini setan, ambil bayi ini setan, ambil bayi ini setan. Jika kamu tidak mau mengambilnya maka biarkanlah bayi ini menjadi milik kami.”

Ungkapan kata-kata ini bermaksud agar roh-roh jahat yang ingin mengganggu ketenteraman si bayi pergi dari keluarga itu.

Berselang beberapa minggu, kemudian para tetangga, keluarga dan sesepuh yang ada di kampung tersebut akan dipanggil untuk makkaroani hadirnya seorang bayi. Maknanya semacam syukuran untuk kesehatan si ibu dan juga telah bertambahnya seorang manusia di keluarga tersebut.

Ke esokan harinya, ketika Matahari terbit, bayi tersebut akan dibawa ke halaman rumah. Nenek bayi akan mengajak si bayi berbicang bincang seraya menunjukkan arah jalan ke sawah, ke pancuran atau sumber air, dan juga ke pekan atau pasar.

Setelah satu minggu berselang dari makkaroani, si bayi akan dibawa ke sumber air. Menurut kepercayaan orang Batak, menunjukkan kepada si bayi bahwa kehidupan ini tidak boleh lepas dari unsur air.

TERKAIT  Mambukka Debata Ni Parmanuhon (I)

Kemudian, setelah berumur satu bulan si bayi akan dibawa oleh orang tuanya atau biasa juga digendong neneknya ke pekan, disebut maronan-onan.

Membawa bayi ke pasar ini untuk mengenalkan si bayi ke khalayak ramai dan menunjukkan kepada warga atau kampung tetangga, bahwa keluarga itu sudah mendapat tambahan jumlah keluarga.

Tradisinya, ibu si bayi akan membeli pisang sebagai bentuk syukur untuk dibagi-bagikan kepada khalayak ramai yang menyapa si bayi tersebut.

Sebagai rasa syukur, si ibu memberikan pisang kepada yang menyapa bayi. Sebaliknya, si penyapa tadi memberi uang kepada si ibu sebagai rasa suka cita. Suatu budaya berbagi rasa syukur yang indah dan patut dilestarikan.

Salah satu tahap yang penting adalah, saat si bayi dibawa ke rumah tulang atau paman dari garis darah ibu, baik itu abang atau adik kandung si ibu.

Bukan sekedar main ke rumah tulang, orang tua si bayi juga membawa makanan yang sangat enak dalam nuansa adat batak. Kedatangan bayi pertama kali ke rumah tulang ini, dalam budaya Batak dikenal dengan mamboan adat tu tulang. Seorang tulang dalam budaya Batak sangat dihormati. Statusnya diyakini dapat menggantikan posisi kedua orangtua si bayi.

Tulang, lalu memberikan adat mamupus (seperti melulur bagian kepala) bere (keponakan dari adik atau kakak perempuan) dengan cara mambursik (menyembur) air sirih yang telah dikunyah dengan mulutnya. Praktik mamupus ini bermakna agar tondi (jiwa/roh) berenya tidak lemah.

Begitu pentingnya peran tulang ini dalam kehidupan orang Batak, sehingga saat rambut bayi nanti panjang, orang yang berhak memotong rambutnya terlebih dahulu harus tulangnya, dengan istilah manimburi.

Saat proses manimburi ini, ke genggaman tangan mungil si bayi dimasukkan batu keras yang kecil lalu tulang menyampaikan pribahasa Batak yang telah menjadi ucapan sakral dalam proses manimburi.

“Pirma tondim songon parpir ni batu on.” Jika diterjemahkan langsung “Kiranya jiwamu keras sekeras batu ini”

Kalimat itu mengandung makna permohonan kepada Mulajadi Nabolon (Sosok penguasa alam semesta yang dipercaya leluhur Batak) agar si bayi tersebut diberi kesehatan dan kekuatan serta ketabahan dalam menjalani kehidupan ini.

Penulis : Aliman Tua Limbong

ARTIKEL TERKAIT

TERBARU