Samosir, NINNA.ID– Menjelang dimulainya Trail of the Kings (TOTK) – Lake Toba by UTMB 2026 pada Jumat hingga Minggu, 12–14 Juni 2026, seluruh divisi penyelenggara menghadiri technical meeting terakhir pada Kamis 11 Juni 2026.
Rapat teknis ini diadakan di Waterfront City Pangururan dengan tujuan memastikan setiap aspek pelaksanaan event berjalan aman, lancar, dan profesional.
Rapat yang mempertemukan koordinator water station, tim medis, marshal, race management, timing system, relawan, hingga berbagai pemangku kepentingan tersebut berlangsung penuh keseriusan.
Bukan hanya membahas teknis perlombaan, pertemuan itu juga menjadi forum untuk menyamakan persepsi mengenai keselamatan peserta, penanganan keadaan darurat, kesiapsiagaan cuaca ekstrem, hingga peran masyarakat dalam menyambut ribuan tamu yang akan datang ke Samosir.
Dengan peserta yang diperkirakan berasal dari 34 negara, TOTK kini dipandang bukan lagi sekadar lomba lari lintas alam, melainkan ajang internasional yang membawa nama Danau Toba dan Samosir ke panggung dunia.
Keselamatan Pelari Menjadi Prioritas Tertinggi
Dalam sesi yang dipimpin tim medis, berbagai kemungkinan kondisi yang dapat terjadi di lapangan dibahas secara rinci.
Pengalaman penyelenggaraan tahun-tahun sebelumnya menunjukkan bahwa beberapa kasus yang paling sering terjadi adalah hipotermia akibat cuaca dingin, kelelahan karena kekurangan energi, dehidrasi, cedera terkilir, hingga peserta yang pingsan karena kehabisan tenaga.
Tim medis mengingatkan bahwa kondisi cuaca di lintasan trail sangat sulit diprediksi. Peserta bisa mengalami panas terik pada siang hari, namun menghadapi suhu dingin dan hujan ketika memasuki sore atau malam hari.
Karena itu, seluruh petugas di lapangan diminta memahami prosedur dasar penanganan darurat sebelum bantuan medis tiba.
“Yang paling penting adalah melakukan stabilisasi dan mobilisasi yang benar. Jangan terburu-buru melakukan tindakan yang berisiko memperparah kondisi peserta,” pesan tim medis dalam rapat tersebut.
Koordinasi antartim juga menjadi perhatian utama. Jika ditemukan peserta yang mengalami cedera serius atau kondisi kesehatan yang mengkhawatirkan, petugas di setiap water station diminta segera berkomunikasi dengan tim medis terdekat agar penanganan dapat dilakukan secara cepat dan tepat.
Keputusan Medis Bersifat Final
Salah satu poin penting yang disepakati dalam technical meeting adalah bahwa seluruh keputusan yang berkaitan dengan kesehatan peserta berada di tangan tim medis.
Panitia menegaskan bahwa tidak ada kepentingan kompetisi yang lebih penting daripada keselamatan manusia.
Apabila dokter atau petugas medis memutuskan seorang pelari harus menghentikan lomba karena alasan kesehatan, maka keputusan tersebut wajib dihormati oleh seluruh pihak.

“Keputusan tertinggi terkait kesehatan ada di tim medis. Kalau dokter menyatakan peserta harus berhenti, maka peserta harus berhenti. Keselamatan jauh lebih penting daripada mencapai garis finis,” tegas panitia.
Pernyataan ini mendapat dukungan penuh dari seluruh peserta rapat karena keselamatan merupakan prinsip utama dalam penyelenggaraan event trail running bertaraf internasional.
Mengantisipasi Cuaca Ekstrem
Selain kesehatan peserta, technical meeting juga membahas prosedur menghadapi kondisi cuaca ekstrem.
Race Director memiliki kewenangan penuh untuk menghentikan sementara atau bahkan membatalkan perlombaan apabila situasi dinilai membahayakan keselamatan peserta.

Kondisi seperti hujan lebat, badai, petir, angin kencang, maupun suhu panas ekstrem menjadi faktor yang terus dipantau selama event berlangsung.
Apabila kondisi darurat terjadi, instruksi akan disampaikan melalui jaringan komunikasi resmi yang telah dibentuk panitia.
Dalam skenario tersebut, seluruh pelari akan dihentikan di water station terdekat dan diarahkan menuju lokasi yang aman sambil menunggu keputusan berikutnya dari Race Director.
Panitia juga meminta seluruh petugas di lapangan aktif melaporkan perubahan cuaca, terutama jika muncul petir atau hujan deras di area lintasan pegunungan.
Menyambut Dunia di Desa-Desa Samosir
Di luar aspek teknis perlombaan, rapat juga menyoroti pentingnya keterlibatan masyarakat.
TOTK tahun ini akan membawa pelari dari puluhan negara melintasi desa-desa, perbukitan, kawasan hutan, dan jalur tradisional yang menjadi bagian dari kehidupan masyarakat Samosir.
Karena itu, para kepala desa diminta aktif menyosialisasikan kegiatan ini kepada warga agar masyarakat mengetahui jadwal pelari melintas dan dapat ikut menyambut mereka.
Pengalaman tahun lalu menunjukkan bahwa salah satu kenangan paling berkesan bagi peserta justru bukan medali atau garis finis.
Banyak pelari mengaku paling teringat pada senyum warga, sapaan anak-anak, serta teriakan penyemangat yang mereka dengar di sepanjang lintasan.
Seruan sederhana seperti “Spirit!” atau lambaian tangan dari pinggir jalan sering kali menjadi energi tambahan ketika pelari menghadapi tanjakan panjang dan kelelahan.
Karena itu, masyarakat kembali diajak menjadi bagian dari pengalaman yang akan dibawa para pelari pulang ke negara masing-masing.
Jalur Melintasi Jantung Sianjur Mulamula
Sebagian besar lintasan TOTK 2026 akan menembus kawasan Sianjur Mulamula, wilayah yang dikenal sebagai salah satu kawasan paling penting dalam sejarah dan budaya Batak.
Peserta akan melewati berbagai lokasi ikonik seperti Pusuk Buhit, Sitahoan, Bukit Burung, serta sejumlah desa yang menawarkan panorama Danau Toba dari ketinggian.
Karena banyak bagian rute berada jauh dari jalan raya, keterlibatan masyarakat lokal menjadi elemen penting dalam sistem keselamatan perlombaan.
Warga tidak hanya menjadi penonton, tetapi juga bertugas sebagai marshal, penjaga persimpangan, petugas water station, relawan evakuasi, hingga pendukung logistik di lapangan.

Panitia menegaskan bahwa keberhasilan TOTK sangat bergantung pada kerja sama antara penyelenggara dan masyarakat yang tinggal di sepanjang lintasan.
Menjaga Hutan dan Menjaga Nama Baik Danau Toba
Technical meeting juga memberikan perhatian khusus terhadap ancaman kebakaran hutan dan lahan selama musim kemarau.
Masyarakat diimbau untuk tidak melakukan pembakaran lahan, semak, rumput kering maupun sampah selama periode penyelenggaraan event.
Selain berpotensi memicu kebakaran yang lebih besar, asap pembakaran dapat mengganggu kesehatan peserta yang sedang berlari di jalur terbuka.
Para kepala desa diminta memperkuat sosialisasi dan meningkatkan kewaspadaan lingkungan selama pelaksanaan TOTK berlangsung.
Pesan yang muncul berulang kali dalam rapat tersebut sederhana namun penting: keberhasilan event ini bukan hanya tanggung jawab panitia, melainkan tanggung jawab bersama seluruh masyarakat yang tinggal di sekitar lintasan.
Momentum Belajar Menjadi Tuan Rumah Dunia
Di penghujung rapat, muncul pandangan menarik dari peserta yang bergerak di bidang pariwisata.
Menurutnya, TOTK seharusnya tidak hanya dipandang sebagai lomba tahunan, tetapi sebagai sarana pembelajaran bagi masyarakat untuk menjadi pelaku pariwisata yang profesional.
Kehadiran ribuan peserta, pendamping, dan wisatawan merupakan peluang ekonomi yang nyata bagi masyarakat.
Mulai dari homestay, kuliner, jasa transportasi, pemandu wisata, hingga penjualan produk lokal dapat memperoleh manfaat dari kedatangan tamu internasional tersebut.
“Jangan melihat TOTK hanya sebagai event tiga hari. Jadikan ini latihan untuk menyambut lebih banyak wisatawan dan event internasional di masa depan,” ujar Dadang, panitia TOTK.
Bagi panitia, relawan, aparat keamanan, tenaga medis, dan masyarakat yang terlibat, tujuan utamanya bukan sekadar menyelenggarakan perlombaan.
Tujuan yang lebih besar adalah memastikan setiap peserta pulang dengan selamat, membawa pengalaman terbaik tentang Danau Toba, dan menceritakan kepada dunia tentang keramahan masyarakat Samosir yang menjadi jiwa sesungguhnya dari Trail of the Kings 2026.
Penulis/Editor: Damayanti Sinaga



