Pemandu Wisata Geopark Danau Toba Dibekali Keterampilan dan Storytelling

BERSPONSOR

TOBA, NINNA.ID— Pemandu wisata sering disebut sebagai wajah pertama sebuah destinasi. Dari merekalah wisatawan memperoleh kesan awal, memahami sebuah tempat, dan membawa pulang cerita yang akan terus mereka sebarkan kepada orang lain.

Kesadaran itulah yang menjadi dasar dilaksanakannya Pelatihan Pengembangan Kapasitas SDM Pemandu Wisata Geopark Danau Toba, sebuah kegiatan yang mempertemukan pemandu wisata, pengelola destinasi, pengelola Geopark Kaldera Toba UNESCO Global Geopark, serta Badan Pelaksana Otorita Danau Toba (BPODT).

Pelatihan yang berlangsung selama dua hari yakni Rabu-Kamis 3-4 Juni 2026 diadakan oleh BPODT guna mencetak storyteller Geopark Kaldera Toba.

Pelatihan ini hadir bukan sekadar untuk menambah pengetahuan, tetapi untuk menyamakan persepsi tentang apa yang sebenarnya dimiliki Danau Toba dan bagaimana kekayaan tersebut dapat diceritakan kepada dunia.

“Geopark Kaldera Toba merupakan wadah yang memiliki kekayaan geologi, budaya, dan alam yang luar biasa. Oleh karena itu, pengelolaan dan pengembangannya memerlukan kolaborasi seluruh pihak agar manfaatnya dapat dirasakan masyarakat sekaligus menjaga kelestariannya,” kata Direktur Utama Badan Pelaksana Otorita Danau Toba (BPODT), Arditama Nusantara Putra dalam sambutan pembukaan kegiatan pelatihan.

Harapannya sederhana namun besar yakni para peserta tidak hanya memahami konsep geopark, tetapi juga menjadi agen perubahan yang mampu menggerakkan masyarakat dan mendukung keberlanjutan Toba Caldera UNESCO Global Geopark.

Kebutuhan Akan Pengetahuan yang Utuh

Pelaksana Tugas Direktur Industri Pariwisata dan Kelembagaan Pariwisata BPODT, Detty Silaban, mengungkapkan bahwa pelatihan ini lahir dari kebutuhan nyata di lapangan.

Selama ini banyak pemandu wisata telah memahami destinasi-destinasi unggulan di Danau Toba. Namun pemahaman mengenai Geopark sebagai sebuah konsep yang menyatukan geologi, budaya, dan keanekaragaman hayati masih perlu diperkuat.

“Kita melihat perlu adanya kebutuhan terkait product knowledge mengenai Geopark yang perlu diberikan kepada para pemandu wisata. Banyak hal yang perlu dipahami secara holistik, secara menyeluruh,” ujarnya.

Menurutnya, pemahaman yang utuh akan membantu pemandu wisata tidak hanya mengantar wisatawan berpindah dari satu lokasi ke lokasi lain.

Akan tetapi juga mampu menerjemahkan makna yang terkandung di balik setiap bentang alam, tradisi, dan kehidupan masyarakat yang mereka jumpai. Karena itulah pelatihan dirancang tidak hanya berisi teori di dalam ruangan.

- Advertisement -

Para peserta juga dijadwalkan melakukan praktik lapangan ke geosite-geosite di kawasan Kaldera Toba dan menyusuri desa wisata untuk mengasah kemampuan interpretasi serta storytelling.

Geopark Bukan Sekadar Pariwisata

Dalam sesi pertama pelatihan, Petrus Parlindungan Purba sebagai Manager Divisi Pengelolaan Geologi, Keragaman Geologi, dan Keragaman Budaya mengajak peserta memahami geopark dari fondasi yang paling mendasar.

Menurutnya, masih banyak orang menganggap geopark hanya identik dengan pariwisata. Padahal geopark memiliki misi yang jauh lebih luas.

“Geopark memiliki tiga pilar utama, yaitu pendidikan, konservasi, dan pemberdayaan masyarakat,” jelasnya.

Begitu pula unsur penyusunnya. Geopark tidak hanya berbicara tentang geologi, tetapi juga tentang keragaman hayati dan keragaman budaya.

Ketiga unsur tersebut harus hadir dalam pengalaman wisata yang ditawarkan kepada pengunjung.

Selama ini, menurut Petrus, banyak pemandu wisata lebih sering menceritakan budaya Batak. Sementara cerita mengenai geologi dan keanekaragaman hayati masih belum banyak disampaikan.

Padahal justru di situlah keunikan Danau Toba sebagai UNESCO Global Geopark.

“Bagaimana ketiga unsur ini menjadi bagian dari pengalaman wisata yang kita tawarkan. Karena selama ini mungkin lebih banyak kita bicara budaya. Kita sangat jarang bicara mengenai keanekaragaman hayati, apalagi geologinya,” jelasnya.

TERKAIT  Stake Holder Pariwisata Danau Toba Didorong Perhatikan Akses Infrastruktur Samosir

Danau Toba dalam Panggung Dunia

Dalam pemaparannya, Petrus juga mengingatkan bahwa status UNESCO Global Geopark bukanlah penghargaan yang diberikan sekali untuk selamanya.

Status tersebut harus terus dijaga melalui proses revalidasi berkala yang dilakukan UNESCO setiap empat tahun.

Toba Caldera memperoleh pengakuan sebagai UNESCO Global Geopark pada tahun 2020. Setelah menerima kartu kuning pada revalidasi sebelumnya, berbagai perbaikan dilakukan oleh para pemangku kepentingan.

Upaya itu membuahkan hasil ketika pada revalidasi tahun 2025 Danau Toba berhasil memperoleh green card, tanda bahwa kawasan ini dinilai memenuhi rekomendasi UNESCO dan layak mempertahankan status geopark globalnya.

Pencapaian tersebut menjadi kebanggaan sekaligus tanggung jawab besar.

Dengan luas kawasan yang membentang di tujuh kabupaten dan mencakup 16 geosite utama, pengelolaan Danau Toba membutuhkan kerja sama lintas sektor yang tidak sederhana.

Karena itu, menurut Petrus, keberhasilan geopark tidak bisa hanya diukur dari jumlah wisatawan yang datang, tetapi dari sejauh mana masyarakat memperoleh manfaat ekonomi, lingkungan tetap terjaga, dan nilai budaya terus diwariskan.

Foto bersama dengan peserta pelatihan
BP Geopark, Staf BPODT berfoto bersama dengan peserta pelatihan (foto: BPODT)

Mencari Hubungan antara Geo, Bio, dan Culture

Salah satu pesan penting yang disampaikan kepada para peserta adalah perlunya membangun storytelling yang menghubungkan geologi, keanekaragaman hayati, dan budaya.

Menurut Petrus, para asesor UNESCO yang datang ke Danau Toba selalu menanyakan keterkaitan antara ketiga unsur tersebut.

Mereka tidak hanya ingin mengetahui bagaimana Kaldera Toba terbentuk, tetapi juga bagaimana bentang alam itu memengaruhi kehidupan masyarakat, jenis tumbuhan yang tumbuh, tradisi yang berkembang, hingga cara orang Batak memandang alam.

Inilah tantangan baru bagi para pemandu wisata.

Mereka tidak cukup hanya menghafal fakta-fakta geologi atau sejarah. Mereka harus mampu merangkainya menjadi cerita yang hidup dan mudah dipahami wisatawan.

Cerita tentang letusan supervulkan yang membentuk kaldera raksasa, misalnya, harus bisa dihubungkan dengan lahirnya tanah subur, berkembangnya pertanian, munculnya perkampungan, serta terbentuknya tradisi dan kebudayaan Batak yang dikenal dunia saat ini.

Ketika keterhubungan itu berhasil disampaikan, wisatawan tidak hanya melihat pemandangan. Mereka memahami makna.

Dari Pelatihan Menuju Gerakan Bersama

Pelatihan ini mungkin hanya berlangsung dua hari. Namun bagi para peserta, proses belajar sesungguhnya baru dimulai setelah mereka kembali ke lapangan.

Ketua Badan Pengelola Toba Caldera UNESCO Global Geopark, Azizul Siregar, menegaskan bahwa tujuan utama kegiatan ini bukan menghasilkan kesempurnaan dalam waktu singkat, melainkan membangun persepsi yang sama.

“Kita ingin berbicara bagaimana sebenarnya geopark itu dan apa yang bisa kita jual, apa yang bisa kita konversi dari status geopark untuk keberlanjutan pembangunan geowisata, sosial, lingkungan, dan manfaat ekonomi bagi masyarakat,” ujarnya.

Baginya, pelatihan ini adalah ruang berbagi. Narasumber membawa konsep dan pengetahuan. Sementara para pemandu wisata membawa pengalaman nyata dari lapangan.

Ketika keduanya bertemu, kesenjangan antara teori dan praktik dapat diperkecil.

Di situlah masa depan geowisata Danau Toba sedang dibangun.

Bukan hanya melalui pembangunan fisik atau promosi besar-besaran. Tetapi melalui manusia-manusia yang memahami tanah tempat mereka berpijak dan mampu menceritakannya dengan penuh makna.

Sebab pada akhirnya, kekuatan terbesar Danau Toba bukan hanya terletak pada kaldera raksasanya, melainkan pada orang-orang yang menjaga dan menghidupkan kisahnya untuk dunia.

Penulis/Editor: Damayanti Sinaga

BERSPONSOR

ARTIKEL TERKAIT

TERBARU