Trail of the Kings 2026 Ketika Jejak Raja-Raja Batak Menjadi Jalur Pelari Dunia

BERSPONSOR

Samosir, NINNA.ID– Saat sebagian besar warga masih terlelap, denyut kehidupan di Pulau Samosir akan mulai bergerak sejak dini hari. Lampu-lampu penerangan menyala, para relawan bersiap di pos masing-masing, dan ratusan pelari dari berbagai penjuru dunia berkumpul di garis start.

Mereka datang bukan sekadar untuk berlari.

Mereka datang untuk mengikuti Trail of the Kings (TOTK) 2026, sebuah perlombaan lintas alam yang mengajak peserta menyusuri kawasan yang pernah menjadi pusat peradaban dan kekuasaan raja-raja Batak di Kabupaten Samosir.

Kapan Para Pelari Mulai Berlari?

BERSPONSOR

Trail of the Kings 2026 menghadirkan enam kategori lomba dengan waktu start yang berbeda. Berdasarkan matriks kategori race 2026, lomba akan dimulai pada Sabtu dan Minggu, 13–14 Juni 2026.

Jadwal start penting yang perlu diketahui masyarakat adalah:

  • Pukul 03.00 WIB – kategori ultra jarak terjauh dimulai.
  • Pukul 06.00 WIB – kategori berikutnya mulai dilepas.
  • Pukul 07.00 WIB – kategori menengah mulai berlari.
  • Hari berikutnya pukul 06.00 WIB – kategori jarak pendek dimulai.
  • Pukul 06.20 WIB – kategori berikutnya dilepas.
  • Pukul 07.00 WIB – kategori paling pendek memulai perlombaan.

Karena start pertama berlangsung pukul 03.00 WIB, masyarakat di sepanjang lintasan diharapkan sudah memahami jadwal agar tidak terkejut dengan aktivitas lomba yang berlangsung sejak dini hari.

Apa yang Bisa Dilakukan Masyarakat untuk Menyemangati Pelari?

Liburan wisatawan disambut
Panitia Trail of the Kings 2026 berharap masyarakat Samosir turut menyambut para pelari dengan keramahan khas Batak. foto:ilustrasi/damayanti)

Inilah bagian yang paling istimewa.

Panitia berharap Trail of the Kings bukan hanya menjadi pesta olahraga, tetapi juga pesta budaya dan keramahan masyarakat Samosir.

Masyarakat dan seniman lokal diharapkan hadir menampilkan budaya Batak di titik-titik istirahat pelari (aid station).

Bentuk dukungan yang dapat dilakukan warga antara lain:

- Advertisement -
  • Berdiri di depan rumah atau pinggir jalan untuk memberikan tepuk tangan.
  • Menyapa pelari dengan ramah.
  • Mengibarkan ulos atau atribut budaya Batak.
  • Menampilkan musik tradisional dan kesenian lokal.
  • Menjaga kebersihan lingkungan sepanjang jalur lomba.
  • Membantu memberikan informasi kepada tamu yang datang ke desa mereka.

Bagi pelari internasional, senyuman dan sapaan sederhana dari warga sering kali menjadi kenangan yang lebih berharga daripada medali yang mereka bawa pulang.

Mengapa Disebut “Trail of the Kings”?

Nama Trail of the Kings berarti “Jejak Para Raja”.

Nama ini bukan sekadar terdengar keren. Nama tersebut berkaitan langsung dengan jalur perlombaan yang melintasi kawasan-kawasan bersejarah yang menjadi bagian dari perjalanan peradaban Batak di Samosir.

Para pelari akan melewati daerah seperti Hutaparik, Simangonding, Tanjung Bunga, Naibo, Batu Hapur, Sitao Tao, Limbong Sarimarrihit, Sianjur Mula-Mula, Hobon Pardomuan, Batu Bolon, Janji Martobu, Sapura, Jangak hingga kembali ke Pangururan.

Jalur ini membawa peserta melewati kampung-kampung tua, perbukitan, kawasan budaya, serta wilayah yang menyimpan cerita asal-usul masyarakat Batak.

Data lintasan menunjukkan sedikitnya 36 desa dan huta menjadi bagian dari pengalaman lomba.

Karena itulah TOTK dikenal sebagai lomba trail yang menjadikan budaya sebagai poros utama.

TERKAIT  Rapat Koordinasi Penanganan Karhutla di Samosir Fokus pada Pencegahan

Bahkan panitia mendorong adanya pameran benda-benda budaya Batak, pertunjukan kolosal, dan penampilan seniman lokal agar para pelari dapat merasakan kekayaan budaya Batak secara langsung.

Dengan kata lain, para peserta tidak hanya berlari melintasi gunung dan lembah, tetapi juga melintasi jejak sejarah para raja Batak.

Dari Mana Saja Para Peserta Datang?

Inilah yang membuat masyarakat Samosir patut bangga.

Tahun ini, Trail of The Kings by UTMB mencatat peningkatan partisipasi. Terdaftar 1.015 pelari. Dari jumlah tersebut, 717 peserta berasal dari Indonesia dari berbagai provinsi, tidak hanya dari Sumatera Utara saja. 238 peserta berasal dari luar negeri. Peserta internasional berasal dari 34 negara.

Negara dengan jumlah peserta terbanyak adalah:

  • Malaysia: 71 pelari
  • Singapura: 34 pelari
  • Perancis: 26 pelari
  • Jepang: 19 pelari
  • China: 10 pelari
  • Vietnam: 10 pelari
  • Great Britain: 9 pelari
  • Hong Kong: 6 pelari
  • Taiwan: 6 pelari
  • Australia: 5 pelari

Selain itu ada peserta dari India, Thailand, Amerika Serikat, Kanada, Belgia, Belanda, Jerman, Rusia, Nepal, Brunei Darussalam, Filipina, Korea Selatan, Oman, Afrika Selatan, Chile, Kolombia, Swiss, Spanyol, Lithuania, Republik Ceko dan beberapa negara lainnya.

Sementara peserta Indonesia berasal dari sedikitnya 16 provinsi. Sumatera Utara menjadi penyumbang terbesar dengan 208 pelari.

Selain itu terdapat peserta dari DKI Jakarta, Jawa Barat, Banten, Bali, Jawa Tengah, Jawa Timur, Yogyakarta, Riau, Kepulauan Riau, Kalimantan Timur, Kalimantan Barat, Sulawesi Tengah, Sumatera Barat, Aceh dan daerah lainnya.

Artinya, ketika TOTK berlangsung, Samosir sesungguhnya sedang menerima tamu dari hampir seluruh penjuru Indonesia dan berbagai belahan dunia.

Rundown Penting Trail of the Kings 2026

11–12 Juni 2026

  • Kedatangan peserta domestik dan internasional.
  • Aktivasi shuttle bandara dan pelabuhan.
  • Registrasi dan persiapan lomba.

13 Juni 2026

  • Start kategori ultra mulai pukul 03.00 WIB.
  • Kategori lain dilepas pada pukul 06.00 WIB dan 07.00 WIB.
  • Aktivitas budaya dan hiburan di race central.
  • Dukungan seniman lokal di aid station sepanjang lintasan.

14 Juni 2026

  • Start kategori jarak pendek pukul 06.00 WIB, 06.20 WIB, dan 07.00 WIB.
  • Kedatangan pelari ke garis finis.
  • Perayaan dan penutupan acara.

Ketika Dunia Datang ke Samosir

Bagi masyarakat Samosir, Trail of the Kings bukan sekadar lomba lari.

Ini adalah kesempatan untuk menunjukkan kepada dunia bahwa Kabupaten Samosir memiliki alam yang indah, budaya yang kaya, dan masyarakat yang ramah.

Ketika para pelari melintasi desa-desa, mereka tidak hanya melihat jalan setapak dan bukit-bukit hijau. Mereka melihat wajah masyarakat Batak yang menyambut mereka dengan hangat.

Dan mungkin, bertahun-tahun kemudian, yang mereka ingat bukan hanya beratnya tanjakan Samosir, melainkan senyum warga yang berdiri di pinggir lintasan sambil berkata:

“Horas! Semangat!” atau “Horas! Keep Spirit!”

Penulis/Editor: Damayanti Sinaga

BERSPONSOR

ARTIKEL TERKAIT

TERBARU