Tour Guide dan Oleh-Oleh Kecil yang Menjaga Harapan di Danau Toba

BERSPONSOR

NINNA.ID-Di Huta Siallagan, Samosir, beberapa ibu duduk di depan rumah atau kios sederhana. Ada yang tersenyum malu, ada yang sibuk memperhatikan tamu asing yang datang menghampiri.

Di tempat seperti itulah pariwisata sebenarnya bekerja—bukan hanya di hotel mewah atau pelabuhan ramai. Tetapi di halaman rumah warga biasa.

Hari itu, seorang tour leader bernama Gisela datang bersama rombongan wisatawan Djoser. Mereka tidak hanya datang mengambil foto lalu pergi.

Mereka berhenti, berbicara dengan warga, membeli suvenir kecil, mencicipi hasil pertanian lokal, mendengar cerita kampung, dan membuat para penjual kecil merasa dihargai.

BERSPONSOR

Mungkin bagi sebagian wisatawan, membeli satu ulos, gantungan kunci, kerajinan berupa Kalender Batak, minyak Atsiri Danau Toba atau apapun itu, hanyalah hal kecil.

Akan tetapi, bagi masyarakat di sekitar Danau Toba, hal kecil itu bisa menjadi alasan sebuah keluarga tetap punya harapan untuk melanjutkan hidup hari itu.

Di tengah derasnya industri pariwisata modern, tindakan sederhana yang dilakukan Gisela terasa berbeda. Ia tidak membawa tamunya hanya melihat pemandangan. Ia memperkenalkan manusia di balik destinasi.

Danau Toba selama ini dikenal dunia karena keindahan alamnya. Namun beberapa tahun terakhir, kawasan ini juga mulai tumbuh melalui program Desa Wisata dan status UNESCO Global Geopark Kaldera Toba.

Program tersebut tidak hanya bertujuan menarik wisatawan, tetapi juga memberdayakan masyarakat desa agar mampu hidup dari kreativitas, budaya, dan hasil pertanian mereka sendiri.

Dari desa-desa wisata di Kawasan Danau Toba, lahirlah banyak pelaku UMKM baru. Ada penenun ulos di Kampung Ulos Hutaraja Samosir, pengrajin tikar pandan di Desa Sigapiton Toba, dan pelaku usaha ekonomi kreatif lainnya tersebar di desa-desa Kawasan Danau Toba lainnya.

Di Kampung Girsang Simalungun misalnya, masyarakat mulai mengembangkan produk kreatif dari hasil pertanian seperti kemiri, kopi, kacang tradisional, hingga produk agroforestri.

MARIA TOUR LEADER
Maria tour leader dari Slovakia tersenyum berfoto bersama wanita pengusaha pembuat Minyak Kemiri (foto: Damayantj)

Di berbagai daerah di Kawasan Danau Toba juga anak-anak muda membentuk sanggar tari untuk menyambut wisatawan. Para ibu mulai menjual makanan dan hasil kebun kepada tamu yang datang.

- Advertisement -

Program desa wisata telah membuat banyak masyarakat desa percaya bahwa kampung mereka punya nilai.

Namun semua itu tidak akan berjalan jika wisatawan datang tanpa peduli kepada masyarakat lokal. Karena itu, sosok seperti Gisela menjadi penting.

Ia menunjukkan bahwa tour leader bukan sekadar orang yang memimpin perjalanan. Seorang tour leader bisa menjadi jembatan antara wisatawan dan masyarakat desa.

Ia bisa menentukan apakah uang wisatawan hanya berputar di perusahaan besar, atau ikut mengalir ke tangan pedagang kecil, petani, dan pengrajin di kampung-kampung sekitar Danau Toba.

GISELA DAN PRODUK DANAU TOBA
Gisela bangga menunjukkan produk khas Danau Toba yang ia beli dari para pengusaha kecil di Danau Toba (foto: istimewa)

Hari ini, banyak makanan yang kita konsumsi sebenarnya menempuh perjalanan ribuan kilometer sebelum sampai ke meja makan. Sistem seperti itu memang praktis, tetapi sering kali membuat petani kecil tersisih.

Sebaliknya, membeli hasil pertanian lokal memberikan dampak yang jauh lebih besar daripada yang kita bayangkan.

Ketika wisatawan membeli kopi lokal, jeruk lokal, andaliman, madu kampung, atau hasil kebun warga, uang itu langsung berputar di desa. Petani bisa membeli kebutuhan keluarga. Anak-anak bisa tetap sekolah. Warung-warung kecil tetap hidup. Desa tetap bergerak.

TERKAIT  Tutupi Logo Manchester United, Haaland dan Penggemar Cilik jadi Viral

Ekonomi lokal tumbuh dari transaksi-transaksi sederhana seperti itu.

Tidak hanya itu, hasil pertanian lokal biasanya lebih segar dan lebih bergizi. Banyak buah dan sayuran kehilangan kualitas setelah menempuh perjalanan panjang. Namun hasil panen dari desa-desa sekitar Danau Toba sering dipetik langsung saat matang dan dijual dalam waktu singkat kepada wisatawan.

Membeli produk lokal juga membantu menjaga lingkungan.

Petani kecil di Kawasan Danau Toba umumnya masih menggunakan pola pertanian tradisional dan lebih dekat dengan alam.

Banyak masyarakat desa mulai memahami pentingnya ekowisata, agroforestri, menjaga hutan, serta melindungi sumber air demi keberlanjutan desa mereka.

Semakin banyak masyarakat membeli hasil pertanian lokal, semakin besar pula alasan bagi warga desa untuk menjaga alam mereka tetap lestari.

Di banyak desa wisata, hubungan antara wisatawan dan masyarakat juga mulai berubah menjadi lebih hangat.

Pasar kecil, warung kopi, homestay, dan tempat penjualan hasil tani menjadi ruang pertemuan manusia. Wisatawan tidak hanya datang sebagai tamu, tetapi juga belajar tentang kehidupan masyarakat lokal.

Percakapan sederhana dengan petani kopi, ibu penjual kacang, atau penenun ulos sering kali meninggalkan kesan lebih mendalam daripada sekadar melihat pemandangan.

Pariwisata akhirnya kembali kepada makna sebenarnya: hubungan antarmanusia.

Data Kementerian Koperasi dan UKM menunjukkan UMKM menyerap sekitar 97 persen tenaga kerja di Indonesia. Di kawasan Danau Toba sendiri, sebagian besar pelaku UMKM adalah perempuan.

Banyak ibu rumah tangga bertahan melewati masa sulit, termasuk saat pandemi, karena menjual makanan, hasil tani, kerajinan tangan, atau membuka homestay kecil di desa wisata.

Artinya, setiap wisatawan sebenarnya punya kekuatan membantu kehidupan masyarakat lokal.

Pariwisata yang sehat bukan hanya tentang jumlah turis yang datang. Pariwisata yang sehat adalah ketika warga lokal ikut tersenyum karena merasa dilibatkan.

Sayangnya, masyarakat desa wisata masih menghadapi banyak tantangan. Modal usaha terbatas. Akses internet belum merata. Biaya logistik mahal. Banyak anak muda memilih meninggalkan desa karena merasa tidak ada masa depan di kampung halaman mereka.

Padahal desa-desa di Danau Toba menyimpan kekayaan luar biasa—alam, budaya, pertanian, musik, tarian, kuliner, dan cerita hidup masyarakatnya.

Karena itu, yang dibutuhkan bukan hanya pembangunan infrastruktur besar, tetapi juga manusia-manusia yang mau peduli.

Orang seperti Gisela membuktikan bahwa pariwisata bisa tetap manusiawi.

Ia mengingatkan bahwa perjalanan bukan hanya tentang mencari tempat indah untuk dipotret. Kadang perjalanan adalah tentang menghargai manusia yang tinggal di balik tempat indah itu.

Dan mungkin, perubahan besar bagi Danau Toba memang bisa dimulai dari tindakan-tindakan kecil:
membeli kopi dari petani lokal,
membeli ulos langsung dari penenun,
membeli madu dari warga desa,
makan di warung kecil,
menginap di homestay masyarakat,
atau sekadar mendengar cerita hidup orang-orang kampung.

Sebab bagi masyarakat lokal, perhatian kecil dari wisatawan bisa berarti sangat besar.

Dan bagi Danau Toba, wisatawan seperti itu adalah harapan.

Penulis/Editor: Damayanti Sinaga

BERSPONSOR

ARTIKEL TERKAIT

TERBARU