NINNA-Malam 4 Mei 2026, Bandara Kualanamu masih sibuk dan penuh suara orang lalu-lalang. Aku berdiri menunggu tiga tamu spesial dari Slovakia dan Republik Czech. Tak lama kemudian, muncul tiga perempuan dengan koper besar dan wajah lelah setelah perjalanan panjang. Mereka adalah Maria, Pavla, dan Hana.
Kami langsung berfoto bersama. Foto pertama dari perjalanan sebelas hari yang nantinya dipenuhi cerita, tawa, dan banyak kejutan kecil.

Malam itu kami menuju Hotel Emerald Garden di Kota Medan. Awalnya suasana di mobil sedikit canggung, sebagaimana orang-orang yang baru saling mengenal.
Tetapi Maria mulai banyak bertanya, lalu percakapan mengalir begitu saja. Saat itu aku mulai merasa, perjalanan ini pasti akan menyenangkan.
Keesokan paginya kami memulai petualangan di Kota Medan. Kami mengunjungi Masjid Raya Al Mashun dan Istana Maimun.
Saat tiba di masjid, ternyata sedang ada doa bersama dalam jumlah besar. Orang-orang memakai pakaian rapi dan suasananya terasa tenang dan khusyuk.
Di Istana Maimun, ada kejadian lucu. Beberapa anak magang diam-diam memperhatikan Maria, Pavla, dan Hana sambil berbisik, “Bule… bule…”
Sampai akhirnya Maria diminta berfoto bersama. Dalam hitungan menit, tour leader kami berubah jadi bintang dadakan di halaman istana.

Perjalanan menuju Tangkahan cukup panjang. Di tengah jalan kami berhenti di Bosmen Coffee, Kabupaten Langkat. Ternyata kami berempat sama-sama pencinta kopi.

Maria sangat menyukai espresso dan punya standar tinggi untuk secangkir kopi. Untungnya kopi yang kami pesan hari itu berhasil membuatnya tersenyum puas.
Sebelum lanjut jalan, kami membeli pisang dan mangga dari penjual buah pinggir jalan. Maria lalu membagikan pisang itu satu per satu kepada kami.
Dari situlah aku mulai mengajarinya beberapa kata Batak yang lucu. Salah satunya “bodat”. Kami tertawa sepanjang perjalanan hanya karena satu kata sederhana.
Dari situ aku sadar, pariwisata sebenarnya hidup dari hal-hal kecil.
Bukan hanya hotel mewah atau tempat terkenal. Tetapi dari kopi lokal yang diminum bersama, buah yang dibeli langsung dari petani desa, atau warung kecil yang tetap bertahan karena ada wisatawan datang.
Saat wisatawan membeli produk lokal, uang itu ikut membantu kehidupan masyarakat sekitar.
Dan Maria benar-benar suka melakukan itu. Ia tidak hanya mencari tempat cantik untuk difoto, tetapi juga ingin mengenal orang-orang di balik tempat itu.
Saat tiba di Tangkahan, Pavla dan Hana langsung terkejut melihat jembatan gantung panjang yang harus kami lewati sambil membawa koper. Mereka tertawa campur takut.
Beberapa ibu datang membantu mengangkat barang kami. Hal kecil seperti itu sering membuat tamu asing kagum pada keramahan orang Sumatra.

Siang itu kami makan di pinggir sungai. Suara air dan pepohonan membuat makan siang sederhana terasa sangat istimewa.

Lalu petualangan di Sungai pun dimulai.
Kami berjalan menuju air terjun, bermain air, lalu tubing menyusuri sungai. Kadang kami tertawa, kadang berteriak saat ban menghantam batu. Rasanya seperti kembali menjadi anak-anak.

Keesokan harinya kami pergi ke camp gajah. Maria dan Pavla ikut memandikan gajah bersama pawang. Wajah mereka terlihat sangat bahagia terkena cipratan air.
Dari Tangkahan kami melanjutkan perjalanan menuju Bukit Lawang dengan jeep 4×4. Jalan berlumpur membuat mobil berguncang keras dan kami terus tertawa sepanjang perjalanan.

Di Bukit Lawang, suara Sungai Bahorok terdengar sepanjang malam.
Keesokan harinya kami trekking masuk ke hutan Gunung Leuser. Kami berjalan di bawah pohon-pohon besar sambil mencari orangutan.
Saat akhirnya seekor orangutan muncul di atas pohon, semua langsung diam. Pavla dan Hana terlihat kagum.
Hari-hari berikutnya terasa seperti cerita panjang yang terus mengalir.
Kami menikmati udara dingin Berastagi, melihat Gunung Sinabung dari kejauhan. Sempat juga menikmati kopi di Erdillo Café sebelum tiba di Kota Berastagi.
Kembali lagi, Maria puas dengan rasa kopi yang disajikan kafe ini. secangkir kopi espresso itu berhasil membuatnya memutuskan mengambil foto dengan latar belakang Gunung Sinabung.

Kopi yang beraroma kuat, kaya, kental, lembut, manis kepahit-pahitan, manis seperti karamel, dan harum.
Setelah menikmati waktu santai minum kopi, kami lanjut membeli buah-buahan di Pasar Buah Berastagi. Selanjutnya checkin ke Hotel Mickey Holiday.

Pagi-pagi sekali, saat sebagian besar orang masih terlelap, kami memulai perjalanan menuju Gunung Sibayak pukul 04.00 dini hari.
Udara dingin menusuk kulit, langkah terasa berat, dan jalan menanjak seolah menguji seberapa kuat hati kami bertahan.
Di tengah gelapnya pagi, hanya cahaya senter dan semangat yang menemani perjalanan menuju puncak.
Namun justru di sanalah kami belajar bahwa setiap pendakian bukan hanya tentang menaklukkan gunung, melainkan tentang menaklukkan rasa takut, lelah, dan keraguan dalam diri sendiri. Lelah menaklukkan gunung, kami memutuskan kembali ke hotel untuk istirahat.
Setelah beristirahat sejenak dan tentunya mandi di hotel, kami lanjutkan perjalanan menuju Desa Budaya Dokan, sebuah desa tua yang masih menjaga napas budaya Karo hingga hari ini.
Di antara rumah-rumah adat Siwaluh Jabu yang berdiri tanpa paku, kami seperti diajak kembali menelusuri kehidupan ratusan tahun lalu.
Atap ijuk yang mulai berlumut, kayu-kayu tua, hingga kepala kerbau di ujung rumah bukan sekadar hiasan, tetapi simbol warisan, perlindungan, dan filosofi hidup masyarakat Karo yang tetap bertahan di tengah zaman yang terus berubah.
Setelahnya kami melanjutkan perjalanan menuju Air Terjun Sipiso-piso. Di sana mereka terpukau melihat air terjun tinggi yang jatuh langsung menuju Danau Toba.

Berikutnya yang paling dinantikan oleh Maria yakni berjumpa dengan kawan-kawannya di Morias Café Simarjarunjung. Aku selalu bertanya mengapa Maria punya banyak kenalan dimana-dimana.

Tapi lama-kelamaan aku menyimpulkan Maria sama seperti kebanyakan orang Batak yang senang punya banyak kawan. Istilah “Anak Medan” modal pergaulan maka bisa bertahan hidup, lekat dalam kepribadiannya.

Di sini kami menghabiskan waktu cukup lama karena ingin menikmati pemandangan indah, secangkir kopi dan mengobrol bersama kawan-kawan Maria.
Akhirnya kami pun menuju Pelabuhan Tigaraja menuju Samosir.
Ketika tiba di Samosir, suasana berubah lebih santai. Suasana Danau Toba membuat perjalanan kami terasa lebih tenang.
Kami check in ke Hotel Toledo. Kami menginap di sini selama tiga malam.
Besoknya, kami mengunjungi Huta Siallagan dan aku bercerita tentang kursi batu Raja Batak.
Di sana aku melihat Maria, Pavla, dan Hana benar-benar menghargai cerita budaya yang kubagikan.
Bicara tentang adat Batak, aku menjelaskan filosofi ornamen cicak dan empat payudara yang kerap menghiasi Rumah Adat Batak Toba maupun makam leluhur.
Cicak melambangkan orang Batak, sementara empat payudara menggambarkan pentingnya perempuan untuk subur atau mampu menghasilkan keturunan.
Arah mulut cicak menuju payudara menjadi pengingat agar orang Batak tidak melupakan ibu dan kampung halamannya.
Filosofi ini jugalah yang mampu menjelaskan mengapa banyak orang Batak membangun makam di Samosir, bahkan terkadang makam lebih mewah dari rumah mereka sendiri.
Karena dalam kepercayaan suku Batak, itu merupakan penghargaan terhadap orang yang sudah meninggal.
Bagi banyak orang Batak, adat tetap menjadi pegangan utama, bahkan sebelum agama datang melalui misionaris seperti Ludwig Ingwer Nommensen.
Dari Huta Siallagan kami menuju Kampung Ulos Hutaraja, kampung leluhurku. Sebelum tiba, sengaja kutunjukkan Tugu Simanihuruk, salah satu tugu paling mewah di Samosir, agar mereka melihat bagaimana masyarakat Batak menghormati leluhur dan menjaga martabat marga.

Setelah itu kami menikmati kopi di Kampung Ulos Hutaraja sambil menikmati pemandangan yang membuat Maria, Pavla, dan Hana sibuk mengabadikan momen.
Aku lalu mengajak mereka ke Rumah Belajar Hutaraja yang pernah kubuka di rumah warisan nenek buyutku.
Meski sebagai perempuan Batak aku tahu rumah itu kemungkinan besar tidak akan diwariskan kepadaku, aku tetap ingin rumah itu dipergunakan dan bermanfaat.

Dari tempat sederhana itu, aku mengajar anak-anak Bahasa Inggris agar mereka berani menyambut wisatawan asing.
Perjalanan kami lanjut ke Air Terjun Nai Sogop. Akan tetapi hujan sempat menghambat langkah kami. Karena lapar, kami akhirnya makan siang di Panorama Tele.

Maria yang baru pertama kali ke sana tampak sangat antusias mengabadikan pemandangan, bahkan kembali menjadi pusat perhatian anak-anak yang meminta foto bersama.
Setelah hujan reda, kami akhirnya tiba di Nai Sogop. Walau air terjun tampak lebih coklat akibat hujan deras, Maria dan Pavla tetap menikmati suasana alam liar dan menenangkan itu.

Keeksokan harinya adalah hari istirahat panjang bertepatan saat itu Hari Minggu. Dari kami, ada yang ibadah, ada yang sibuk dengan laundry dan berbagai macam kesibukan lainnya.
Perjalanan terus berlanjut menuju Padang Sidempuan dan Bukittinggi.

Akan tetapi sebelumnya kami berhenti di Kampung Girsang, di sinilah tempat tinggalku sekarang. Sebagai seorang yang tak mungkin mendapat warisan tanah, aku mesti memikirkan masa depanku sendiri.
Sengaja ku ajak Maria melihat tempat tinggalku, sebuah gubuk kecil di Kampung Girsang. Aku bercerita bahwa saat tidak membawa tamu, aku sibuk mengurus usaha kecil yang baru saja kubangun, yakni usaha kemiri.

Bukan untuk menjadi kaya, tetapi agar aku bisa bertahan hidup di kampung kecil dengan pergerakan ekonomi yang terbatas ini.
Di sini ada beberapa tetangga yang juga memilki usaha, salah satunya Usaha Gogoni Kopi. Seperti biasa, Maria, Pavla dan Hana senang membeli produk lokal yakni kopi khas Arabika Danau Toba.

Sejak 2018, aku memilih tinggal di Danau Toba dan fokus mempromosikannya melalui pekerjaanku sebagai travel writer dan tour guide.
Namun bagiku, menjadi pemandu wisata bukan hanya soal membawa wisatawan berkeliling, melainkan juga tentang membangun sesuatu yang berarti bagi masyarakat lokal dan masa depanku sendiri.
Karena itu aku mulai bermimpi mengembangkan Kampung Girsang sebagai kampung wisata kecil yang hidup dari kekuatan masyarakatnya sendiri.
Di sini ada kebun kopi, cengkeh, nanas, hingga usaha kecil seperti kopi sangrai, dan lainnya yang dijalankan warga.
Sedikit demi sedikit aku mencoba membantu lewat hal-hal kecil yang bisa kulakukan, termasuk mendukung kelompok pembibitan kopi yang baru kami mulai tahun ini.
Bagiku, perjalanan ini bukan hanya tentang wisata, tetapi tentang memperlihatkan sisi nyata Danau Toba yakni kehidupan masyarakat lokal, mimpi-mimpi kecil, dan berharap kampung ini terus berkembang.
Setelah berkunjung ke kampung ini, kami beranjak menuju Padang Sidempuan. Sebelumnya, kami berkunjung ke Aek Rangat Sipoholon. Selain itu, kami menikmati makan siang di Café Gorga, Tapanuli Utara.

Setelahnya kami menuju Hotel Mega Permata di Padang Sidempuan.
Keesokan harinya, kami lanjut perjalanan menuju Bukit Tinggi. Seperti biasa, kami akan berhenti di sejumlah tempat yang menarik untuk dikunjungi.
Kami berhenti di tempat menempah parang atau pisau. Di sini rata-rata masyarakat memiliki usaha seperti ini. Aku pun tertarik untuk membeli sebilah pisau tajam yang cocok untuk ku pakai mengupas buah.

Akan tetapi, seperti biasa, Maria punya cara untuk membuatku tertawa. Dia menebak kalau pisau itu akan ku pakai jaga diri siapa tahu ada yang berniat jahat padaku.
Maria selalu punya komentar yang buatku bisa tersenyum atau bahkan tertawa terbahak-bahak. Setelah dari sini, kami lanjutkan perjalanan menuju Ekuator.
Namun, seperti biasa, tiap durasi perjalanan dua atau tiga jam, kami akan berhenti apakah di SPBU, Indomaret, Alfamart atau Cafe untuk mengurangi kejenuhan.Akhirnya, Maria yang tahu beberapa tempat ngopi enak mengirimku link Google Maps ke Coffee 805 Panyabungan.

Dari cafe di Penyabungan itu kami mendengar ada bunga bangkai Amorphophallus Titanium di tengah jalan sedang mekar. Lokasinya tidak jauh lagi dari Taman Wisata Equator Bonjol.
Saat itu kami melihat bunga itu menarik banyak perhatian warga yang lalu lalang. Kami sempat berhenti di tengah gerimis dan mengabadikan gambarnya.

Berikutnya kami tiba di Taman Wisata Equator Bonjol, kami berhenti di garis khatulistiwa untuk berfoto bersama.
Kami semua juga mendukung para pedagang kaos yang selalu tak pernah jauh dari kami. Bolak-balik mereka membujuk kami membeli dagangan mereka.
Aku sudah punya 3 kaos Equator karena sudah tiga kali kesini. Maria juga sudah punya banyak stok karena dia sering menjadi Tour Leader membawa tamu dari Eropa Timur.
Akan tetapi, dengan segala bujuk rayuan para pedagang kami akhirnya membeli kaos kembali. Bukan karena butuh. Tapi kami anggap itu cara kami mendukung para pedagang. Kaosnya bisa kami berikan buat orang terdekat kami nantinya.

Setelahnya, kami menuju Hotel Santika Dyandra Bukit Tinggi. Aku sendiri menginap di salah satu penginapan kawan HPI Bukit Tinggi bernama Erwin. Banyak pemandu wisata maupun supir menginap di sini karena harganya terjangkau.


Keesokan harinya, kami menuju Panorama Sianok, Istana Pagaruyung, dan terakhir kami mengunjungi Pusat Oleh-Oleh Kiniko Kopi.
Di sini kita bisa lihat pengelolaan kopi hingga berbagai oleh-oleh khas Sumatera Barat.

Dan tanpa terasa, tibalah hari terakhir yakni hari kesebelas.

Kami menuju Bandara Padang melalui Lembah Anai. Jalan terasa lebih sunyi dibanding hari pertama karena akhirnya aku harus berpisah dengan mereka.
Sebelas hari terasa sangat cepat.
Perjalanan ini bukan hanya tentang tempat-tempat indah di Sumatra.

Tetapi tentang tawa di dalam mobil, di perjalanan, kopi yang diminum bersama, pisang yang dibagi di tengah perjalanan, suara sungai di Tangkahan, orangutan di hutan, dan cerita kecil yang membuat kami terasa seperti teman lama.
Maria, Pavla, dan Hana datang sebagai tamu.
Tetapi mereka pulang sebagai bagian dari cerita yang akan selalu aku ingat.
Dan mungkin, harapan untuk Sumatra memang bisa tumbuh dari perjalanan-perjalanan sederhana seperti ini.
Perjalanan yang membuat wisatawan tidak hanya melihat alam, tetapi juga belajar mencintai manusia dan kehidupan di baliknya.
*Penulis/Editor: Damayanti Sinaga
Tour Guide Sumatra



