SAMOSIR, NINNA.ID – Kesuksesan sebuah event internasional tidak hanya diukur dari jumlah peserta yang datang atau keindahan lintasan yang dilalui. Di balik itu, ada banyak pekerjaan yang sering tidak terlihat publik, termasuk memastikan keselamatan manusia dan hewan dapat berjalan berdampingan.
Menjelang pelaksanaan Trail of the Kings (TOTK) – Lake Toba by UTMB 2026, panitia bersama Yayasan Sahabat Satwa Toba (Toba Animal Friends) memperkuat kolaborasi untuk mengantisipasi keberadaan anjing-anjing yang hidup di sekitar jalur lomba.
Bagi sebagian orang, persoalan ini mungkin terlihat sederhana. Namun di lapangan, keberadaan anjing yang berkeliaran di jalan maupun lintasan dapat menimbulkan risiko keselamatan, baik bagi pelari, wisatawan, maupun masyarakat setempat.
Pendiri Toba Animal Friends, Anita Panggabean atau yang akrab disapa Cecet, mengatakan persoalan anjing liar dan anjing yang dilepas bebas sebenarnya bukan hanya muncul saat event berlangsung. Dalam kehidupan sehari-hari, kondisi tersebut juga sering menjadi penyebab kecelakaan lalu lintas.
Cecet juga mendatangi Kantor Satpol PP Kabupaten Samosir untuk memastikan kejadian penangkapan anjing secara paksa seperti yang sempat terjadi pada penyelenggaraan event tahun lalu tidak terulang kembali tahun ini.
“Kami berharap ada edukasi berkelanjutan kepada masyarakat tentang kepemilikan hewan yang bertanggung jawab, sterilisasi, dan vaksinasi rabies,” ujar Cecet kepada staf Satpol PP di Kantor Satpol PP Samosir, Rabu 10 Juni 2026.

Menurutnya, pengamanan jalur lomba tidak cukup dilakukan dengan tindakan sesaat saat event berlangsung, melainkan harus dibarengi edukasi jangka panjang kepada masyarakat tentang kepemilikan hewan yang bertanggung jawab, sterilisasi, vaksinasi rabies, serta pengelolaan anjing peliharaan.
Langkah ini penting agar keselamatan pelari tetap terjaga tanpa menimbulkan keresahan publik maupun polemik terkait kesejahteraan hewan.
Dalam pertemuan itu, ia mengatakan selama beberapa tahun terakhir, Toba Animal Friends telah bekerja secara konsisten menjalankan program kesejahteraan hewan di Kawasan Danau Toba.
Melalui berbagai program sterilisasi dan pengendalian populasi, organisasi ini telah menginvestasikan dana yang tidak sedikit.
“Untuk program sterilisasi saja sudah ratusan juta rupiah yang dikeluarkan. Sejak beberapa tahun terakhir jumlahnya sudah mencapai miliaran rupiah. Semua itu dilakukan agar populasi anjing dapat dikelola secara lebih baik dan risiko konflik dengan manusia bisa berkurang,” jelasnya.
Komitmen tersebut menjadi modal penting dalam mendukung penyelenggaraan Trail of the Kings 2026.
Alih-alih menggunakan pendekatan represif, panitia dan Toba Animal Friends sepakat membangun sistem pengamanan yang lebih humanis.
Langkah-langkah yang disiapkan antara lain pendataan titik-titik yang berpotensi memiliki konsentrasi anjing tinggi, sosialisasi kepada pemilik anjing di sepanjang lintasan, koordinasi vaksinasi rabies, serta penempatan petugas pemantau di sejumlah titik strategis.
Karena lintasan TOTK melintasi puluhan desa dan huta di Kabupaten Samosir, pengawasan dilakukan dengan sistem bergantian atau shift agar petugas tetap dapat bekerja secara optimal selama perlombaan berlangsung.
Koordinasi juga dilakukan bersama pemerintah desa dan masyarakat setempat. Pendekatan ini dinilai penting karena sebagian besar anjing yang berada di sekitar jalur bukanlah anjing liar sepenuhnya, melainkan hewan yang hidup berdampingan dengan masyarakat.
Bagi panitia TOTK, kolaborasi ini menjadi bukti bahwa kritik dan masukan dari berbagai pihak dapat menghasilkan solusi yang lebih baik.
Pengalaman penyelenggaraan sebelumnya menunjukkan bahwa isu kesejahteraan hewan merupakan perhatian yang tidak bisa diabaikan dalam sebuah event internasional.
Karena itu, tahun ini panitia memilih membuka ruang dialog lebih luas dengan komunitas pecinta hewan agar setiap langkah yang diambil mempertimbangkan aspek keselamatan peserta sekaligus kesejahteraan satwa.
Lebih dari sekadar mendukung sebuah perlombaan, keterlibatan Toba Animal Friends menunjukkan bahwa pengembangan sport tourism di Kawasan Danau Toba dapat berjalan seiring dengan nilai-nilai kemanusiaan, edukasi masyarakat, dan kepedulian terhadap makhluk hidup lainnya.
Melalui kolaborasi tersebut, Trail of the Kings 2026 tidak hanya berupaya menghadirkan lintasan yang aman bagi para pelari, tetapi juga meninggalkan warisan positif berupa meningkatnya kesadaran masyarakat tentang pentingnya pengelolaan hewan peliharaan yang bertanggung jawab.
Pada akhirnya, keberhasilan sebuah event internasional bukan hanya tentang siapa yang pertama mencapai garis finis, melainkan bagaimana seluruh pihak yang terlibat—manusia, masyarakat, dan lingkungan tempat mereka hidup—dapat merasakan manfaatnya bersama.
Penulis/Editor: Damayanti Sinaga



