ALTI Audiensi ke KONI Samosir, Membuka Jalan Baru bagi Masa Depan Trail Running di Samosir

BERSPONSOR

SAMOSIR, NINNA.ID – Semangat yang lahir dari penyelenggaraan Trail of the Kings (TOTK) – Lake Toba by UTMB ternyata tidak berhenti di garis finis. Bahkan sebelum event internasional tersebut berlangsung, Asosiasi Lari Trail Indonesia (ALTI) Samosir yang dipimpin Lorista Limbong melakukan audiensi dengan KONI Kabupaten Samosir guna membahas langkah besar berikutnya menghadirkan organisasi cabang olahraga lari lintas alam di bawah naungan KONI Samosir.

Pertemuan tersebut disambut positif oleh Ketua KONI Samosir, Rismawati Simarmata. Baginya, inisiatif ini merupakan momentum yang tepat untuk memastikan warisan Trail of the Kings tidak berhenti hanya sebagai event tahunan, tetapi berkembang menjadi gerakan olahraga yang berkelanjutan.

“Kalau sudah ada cabang olahraga yang menangani lari lintas alam, maka setiap peluang event yang berkaitan dengan trail running bisa langsung kita tindak lanjuti. Jangan sampai momentum sebesar ini lewat begitu saja,” ujar Risma.

Menurutnya, keberadaan organisasi resmi menjadi penting agar pembinaan atlet, pemeliharaan jalur, hingga penyelenggaraan event dapat dilakukan secara lebih terstruktur.

BERSPONSOR
KONI SAMOSIR BERSAMA ALTI SAMOSIR
Pengurus KONI Kabupaten Samosir berfoto bersama perwakilan Asosiasi Lari Trail Indonesia (ALTI) Samosir usai audiensi di Kantor KONI Samosir, Selasa, 9 Juni 2026. (foto © KONI Samosir)

Dari TOTK Menuju Organisasi yang Berkelanjutan

Lorista Limbong menjelaskan bahwa gagasan membentuk kepengurusan ALTI Samosir telah terbentuk usai event Trail of the Kings 2025.

Melalui berbagai diskusi dengan komunitas trail running dan pengurus tingkat provinsi, muncul dorongan agar Samosir memiliki wadah resmi yang dapat mengembangkan olahraga tersebut secara berkelanjutan.

Namun proses pembentukan organisasi tidak semudah yang dibayangkan.

Sebagian calon pengurus yang semula bersedia terlibat ternyata harus melanjutkan pendidikan ke luar daerah, bekerja di tempat lain, bahkan ada yang bertugas di luar Sumatera.

Karena itu, mereka kini sedang menyusun kembali formasi kepengurusan yang benar-benar siap bekerja untuk mengembangkan olahraga trail running di Samosir.

“Kami sedang mencari orang-orang yang memang mau bekerja bersama memperkenalkan dan membudayakan olahraga ini di Samosir,” kata Lorista kepada NINNA, Selasa 9 Juni 2026.

Menurutnya, tantangan terbesar bukan mencari nama untuk mengisi struktur organisasi, melainkan menemukan orang-orang yang memiliki komitmen jangka panjang.

- Advertisement -

Jalur Trail Jangan Kembali Menjadi Hutan

Salah satu poin penting yang dibahas dalam audiensi tersebut adalah keberlanjutan jalur-jalur yang telah dibuka untuk Trail of the Kings.

Panitia TOTK melalui Creation sebelumnya telah menyampaikan harapan agar jalur yang sudah dibangun tidak dibiarkan kembali tertutup semak dan terlupakan setelah event selesai.

“Panitia berharap jalur-jalur itu tetap dipelihara. Jadi kalau nanti ada event lagi, tidak perlu mengulang semuanya dari nol. Masyarakat lokal juga bisa semakin terbiasa mengelola event sendiri,” ujar Tense Manalu, panitia TOTK dari Jakarta.

Bahkan, pihak penyelenggara berharap suatu saat masyarakat Samosir dapat menjadi penyelenggara utama event-event trail running mereka sendiri.

TERKAIT  Cadangan Devisa Indonesia Januari 2023 Capai 139,4 Miliar Dolar AS

“Bahkan ke depan yang menjadi penyelenggaranya bukan lagi Creation tapi masyarakat Samosir. Itu kan kabar baik. Artinya ada kesempatan besar yang sedang dibuka untuk masyarakat Samosir,” katanya.

Belajar dari Trail of the Kings

Audiensi tersebut juga membahas bagaimana pengalaman selama TOTK dapat menjadi modal berharga bagi masyarakat lokal.

Selama penyelenggaraan event internasional itu, banyak warga Samosir yang terlibat sebagai marshal, pemandu jalur, relawan, pelaku UMKM, hingga pengelola homestay.

Pengalaman tersebut dinilai sebagai sekolah lapangan yang sangat berharga.

Jika dikelola dengan baik, Samosir tidak hanya akan memiliki atlet trail running, tetapi juga sumber daya manusia yang mampu mengelola event olahraga secara mandiri.

“Kalau terus menjadi penonton, kita tidak akan pernah belajar. Tapi kalau mulai terlibat dan mengambil peran, suatu hari kita bisa membuat event sendiri,” kata Risma.

Event Tahunan Milik Samosir

Selain membahas trail running, pertemuan tersebut juga menyinggung peluang menghidupkan berbagai event olahraga berbasis alam lainnya.

Setelah berakhirnya sejumlah event nasional seperti Aquabike dan F1 Powerboat, muncul gagasan agar masyarakat dan organisasi olahraga mulai menciptakan agenda olahraga tahunan yang lahir dari kekuatan lokal.

Menurut Sekretaris KONI Samosir Rudi Simbolon, olahraga air, dayung tradisional(Solu Bolon), hingga lari lintas alam memiliki peluang besar untuk berkembang apabila dikelola secara serius.

Karena itu, ia mendorong agar setiap cabang olahraga mulai memikirkan konsep event yang dapat menjadi identitas daerah sekaligus mendatangkan manfaat ekonomi bagi masyarakat.

Menuju Porprov 2026

Bagi KONI Samosir, pembentukan organisasi lari lintas alam bukan hanya soal administrasi organisasi.

Langkah tersebut juga berkaitan dengan persiapan menghadapi Pekan Olahraga Provinsi Sumatera Utara 2026.

Keberadaan cabang olahraga yang aktif akan memudahkan proses pencarian bakat, pembinaan atlet, hingga penyelenggaraan kompetisi lokal sebagai bagian dari persiapan menuju ajang yang lebih tinggi.

Dengan bentang alam yang dimiliki Samosir, banyak pihak meyakini daerah ini memiliki potensi besar melahirkan atlet-atlet trail running yang mampu bersaing di tingkat provinsi maupun nasional.

Audiensi antara Lorista Limbong dan KONI Samosir menjadi langkah awal menuju cita-cita tersebut.

Jika proses pembentukan organisasi berjalan lancar dan jalur-jalur warisan Trail of the Kings terus dipelihara, maka bukan tidak mungkin beberapa tahun ke depan Samosir tidak hanya dikenal sebagai tuan rumah event internasional, tetapi juga sebagai daerah yang mampu melahirkan atlet, komunitas, dan penyelenggara event trail running yang mandiri.

Sebab warisan terbesar Trail of the Kings bukanlah medali atau jumlah peserta yang datang setiap tahun, melainkan lahirnya ekosistem olahraga yang tetap hidup jauh setelah garis finis ditinggalkan.

Penulis/Editor: Damayanti Sinaga

BERSPONSOR

ARTIKEL TERKAIT

TERBARU