Pergantian Pimpinan BPODT, Saatnya Luruskan Arah, Bukan Sekadar Ganti Orang

NINNA.ID-Pergantian pimpinan Badan Pelaksana Otorita Danau Toba (BPODT) bukan sekadar ganti orang. Ini momen penting untuk mengecek ulang: pengelolaan Danau Toba mau dibawa ke mana?

Sejak awal, Danau Toba sudah disepakati sebagai kawasan berbasis geopark—bukan sekadar tempat wisata ramai-ramai. Statusnya sebagai UNESCO Global Geopark berarti kawasan ini harus dijaga dengan tiga prinsip utama: konservasi (menjaga alam), edukasi (memberi pengetahuan), dan keberlanjutan (tidak merusak untuk jangka panjang).

Intinya Sederhana:

Pariwisata di Danau Toba itu alat, bukan tujuan.

Tujuannya tetap: alam terjaga, masyarakat sejahtera, pengetahuan berkembang.

Masalah yang Terjadi Sekarang

Di lapangan, arah ini mulai bergeser.

Yang dikejar justru:

BERSPONSOR
  • jumlah wisatawan sebanyak-banyaknya
  • pembangunan cepat
  • investasi jangka pendek

Akibatnya, Danau Toba yang sebenarnya rapuh jadi tertekan:

  • hutan di hulu rusak
  • air danau tercemar
  • aktivitas wisata makin tidak terkendali

Padahal Danau Toba itu ekosistem tertutup—sekali rusak, dampaknya bisa panjang dan sulit dipulihkan.

Desa Sigapiton
Kawasan The Kaldera, Sibisa, yang dikelola oleh BPODT longsor parah (foto:ist)

Masalah Bukan Cuma di Lapangan, Tapi di Sistem

Secara konsep, pengelolaan Danau Toba sudah punya “kompas”, yaitu
Toba Caldera UNESCO Global Geopark

- Advertisement -

Harusnya:

  • Geopark ini yang menentukan arah (berbasis ilmu dan batas alam)
  • BPODT yang menjalankan
TERKAIT  Melirik Peluang Usaha Jasa Kuliner di Kawasan Harian

Tapi yang terjadi:

  • arah sering ditentukan oleh proyek dan investasi
  • geopark tidak dijadikan acuan utama

Akibatnya: kebijakan jadi melenceng dari rencana awal.

Apa yang Harus Diperbaiki?

Pergantian pimpinan BPODT harus jadi titik balik.

Pemimpin baru harus:

  • paham konsep geopark, bukan sekadar pariwisata
  • berani menolak pembangunan yang merusak
  • bisa menyatukan sektor (lingkungan, pariwisata, pemerintah daerah)
  • berpihak ke masyarakat lokal, bukan hanya investor

Risikonya Kalau Dibiarkan

Kalau arah ini tidak diperbaiki:

  • status UNESCO bisa dicabut
  • kerusakan alam bisa permanen
  • pariwisata justru akan mati sendiri

Karena kalau alam rusak, orang juga tidak akan datang lagi.

Harapan ke Depan

Kalau momen ini dimanfaatkan dengan benar, Danau Toba bisa jadi contoh dunia:

  • wisata jalan
  • alam tetap terjaga
  • masyarakat lokal ikut menikmati

Kesimpulan Tegas

Danau Toba tidak butuh arah baru.
Arah sudah ada sejak 2013.

Yang dibutuhkan sekarang cuma dua hal:
konsistensi dan keberanian untuk kembali ke jalur yang benar.

Karena Danau Toba itu bukan proyek jangka pendek.
Ini warisan dunia yang harus dijaga, bukan dihancurkan.

Penulis: Wilmar Simanjorang
Editor: Damayanti Sinaga

*Wimar mantan bupati Samosir sangat aktif memperhatikan Toba Caldera Unesco Global Geopark.

BERSPONSOR

ARTIKEL TERKAIT

TERBARU