spot_img

Mitos-mitos Batak untuk Membentuk Karakter Seseorang

NINNA.ID – Selepas kenaikan kelas 2 SD tahun 1998 aku tinggal di Samosir untuk mengurus neneknya Mama. Neneknya Mama, kupanggil Inang Namatua. Dalam Bahasa Batak Inang Namatua artinya Mama yang sudah tua. Bagiku Inang Namatua itu sosok penuh mitos. Ada beberapa mitos yang Inang ajarkan dan sampai saat ini aku masih mengingatnya. Salah satunya pantangan buang sampah di malam hari.

Inang paling marah jika aku buang sampah di malam hari. Dia bilang buang sampah di malam hari itu buang rezeki. Saat itu aku ragu dan mempertanyakan hal tersebut. Akan tetapi, aku tetap taat sama arahan Inang Namatua. Tetangga-tetangga di Hutaraja Samosir pun meyakini hal tersebut. Saat mereka menyapu rumah di malam hari, sampah akan ditempatkan di balik pintu. Tidak boleh dibuang. Sampah itu akan dibuang keesokan harinya.

Aku pernah menyaksikan kerabatku memarahi cucunya menyapu sampah dan membuangnya ke bawah tangga. Saat itu dia bilang begini,” Jangan buang sampah malam-malam. Itu sama saja kau buang rezeki. Sial itu”.

Selama di rumah Inang, aku tidak pernah membuang sampah di malam hari. Akan tetapi, beranjak besar, aku terus menguji pernyataan itu. Pernah berteman dengan beberapa suku lain selain Batak seperti Tionghoa, Melayu, Ambon dan lainnya. Melihat mereka punya kebiasaan membuang sampah di malam hari, membuatku sadar itu hanya mitos. Aku juga memerhatikan mereka tetap kaya raya sekalipun sering buang sampah di malam hari.

Penasaran akan mitos ini, belum lama ini aku mengajukan pertanyaan tentang mitos ini ke Mamaku. Mama menjawab,” Ah Inang Namatua yang ajarkan itu. Mama tidak pertahankan itu lagi! Mama juga tidak tahu alasan di balik mitos itu.”

Mama tidak lagi mengikuti kebiasaan tersebut sekalipun sejak kecil Inang Namatua mengajarkan itu ke dia. Jika di rumah kami sampah sudah menumpuk, itu akan langsung di buang. Namun, jika ada kerabat yang masih mempertahankan mitos tersebut, aku tidak memaksakan pandanganku. Kalau lagi di rumah kerabat yang masih mempertahankan kebiasaan akan mitos tersebut, aku pun tidak akan buang sampah di malam hari demi menghargai keyakinan mereka akan mitos tersebut.

Ada sejumlah mitos lain yang Inang Namatua ajarkan ke aku dan Mamaku. Mitos ini juga sudah akrab di telinga kebanyakan orang Batak. Misalnya, tidak boleh menjahit di malam hari dan tidak boleh gunting rambut di malam hari.

Pernah karena gerah, aku meminta seorang sahabat memangkas rambutku di malam hari. Tapi tidak ada sesuatu aneh kurasakan. Adekku yang seorang tukang jahit. sering harus mengejar target jahitannya di malam hari.

Kupikir kebanyakan orang Batak sudah tidak lagi mempertahankan mitos ini.

Permisi ke “Si Opung”
Salah satu mitos yang hingga saat ini masih tetap dijalankan oleh penduduk di sekitar Danau Toba, terutama suku Batak Toba yaitu mengucapkan permisi. Jika sesak buang air kecil di tengah jalan dan terpaksa harus berhenti untuk membuangnya di jalan, harus permisi. Khususnya jika membuangnya tidak jauh dari kuburan atau pohon besar. Bahkan saat berjalan di kesunyian di tempat-tempat sakral perlu permisi. Dalam Bahasa Batak Toba begini, “Santabi da opung”.

“Santabi da opung” artinya permisi ya Opung, walau faktanya tidak ada “opung (seorang kakek)” di tempat itu. Permisi itu diucapkan karena ada keyakinan orang yang sudah mati masih  dapat melihat dan mendengar apapun yang dilakukan orang yang masih hidup. Bahkan dapat mencelakakan orang yang masih hidup jika mereka bertindak tidak sopan.

TERKAIT  Roh – Pancaran Jiwa Dalam Diri Orang Batak Toba (XIIII)

Bagiku yang tidak biasa dengan mistis seperti itu, ada perasaan aneh untuk ucapkan hal tersebut. Kawan-kawan SD-ku sesama penggembala kerbau yang mengajariku untuk ucapkan itu. Setiap pagi sebelum ke sekolah, kami harus keluarkan kerbau dari kandang dan menempatkannya di rerumputan hijau. Kami sering melewati kuburan-kuburan. Sesering itu juga kami mengucapkan permisi kepada penghuni kuburan yang tidak kelihatan.

Kawanku Merli Situmorang, Mando Situmorang dan Lisa Situmorang seingatku yang pertama kali menjelaskan ke aku tentang ini. Mereka pun diajarkan oleh orang tua mereka untuk ucapkan itu. Jadi, setiap kali kami melewati tempat-tempat sakral atau kuburan, kami harus menahan tawa dan canda kami dan ucapkan permisi.

“Mamaku bilang tidak boleh sembarangan bicara di tempat-tempat sakral seperti ini. Nanti terjadi apa-apa sama kita. Dulu ada orang yang hilang di sini karena “cakap kotor” (tidak senonoh). Ada juga yang buang air kecil tanpa permisi, lantas sakit,” kata Lisa ke kami kala itu.

Pernyataan itu jadi pengingat bagiku tidak boleh sembarangan bicara atau bertindak sesuka hati jika melewati tempat sakral. Aku jadi lebih waspada jika melewati tempat sakral. Sering sekali saat sendirian menggembalakan kerbau di padang rumput yang sepi, aku terus berdoa agar tidak terjadi hal-hal mistis.

Tidak hanya kuburan, sejumlah tempat wisata juga dianggap keramat. Salah satunya Pemandian Aek Rangat. Karena rumah Inang Namatua tidak jauh dari Pemandian Aek Rangat, kami sering ke sana. Aku pernah dengar cerita ular besar yang menelan anak yang cakap kotor di Pemandian Aek Rangat Samosir.

Katanya ular tersebut mendadak muncul dan menelan anak tersebut. Saat mendengar itu, aku jadi waspada untuk tidak mengeluarkan kata-kata sembarangan.

Namun, seraya waktu berlalu aku sering menguji kata-kata tersebut. Setiap ke Aek Rangat aku penasaran, akankah aku menemukan ular besar. Sebenarnya aku sendiri takut bila jumpa ular. Tapi rasa penasaranku terhadap ular besar tersebut buatku ingin melihat langsung peristiwa itu.

Tahun demi tahun, setiap ada kesempatan ke Aek Rangat, hal utama paling ku antisipasi yaitu ular besar. Buat kerabatku yang baru pertama kali ke Aek Rangat, aku segera mengingatkan mereka untuk tidak cakap kotor. Aku akan menyampaikan cerita yang sama tentang ular besar tersebut meskipun aku sendiri tidak yakin pasti akan hal tersebut.

Namun, satu peristiwa buatku sadar alasan di balik mitos ini. Suatu kali aku ajak teman-teman ke Aek Rangat. Suasana begitu tenang dan nyaman sebelum akhirnya sejumlah anak muda muncul. Kami mendengar mereka cakap kotor. Ada yang tanpa malu berpakaian terlalu ketat di warung usai mandi di Aek Rangat.

Aku dan teman-teman merasa risih dan ingin segera meninggalkan warung tersebut. Sepanjang perjalanan aku berpikir, kenapa mereka tidak ditelan ular besar? Kenapa tidak terjadi apa-apa dengan mereka?

Aku jadi menyimpulkan cerita tentang ular besar itu hanya mitos. Namun, di sisi lain aku merasa mitos itu berhasil membentuk sikap orang-orang, khususnya di zaman dulu agar orang-orang menjaga sopan santun. Menjaga tutur kata saat mengunjungi tempat-tempat tertentu. Sebaliknya, orang-orang zaman sekarang, kurang menjaga sopan santun karena mereka tidak lagi menghargai nilai-nilai agama ataupun budaya.

 

Penulis     : Damayanti Sinaga
Editor        : Mahadi Sitanggang

ARTIKEL TERKAIT

TERBARU