Parapat, NINNA.ID-Di sebuah sudut tenang di Kawasan Parapat, tidak jauh dari kemegahan Danau Toba, berdiri sebuah penginapan yang lahir dari perjalanan panjang seorang perempuan yang akrab dipanggil Rohana.
Nama tempat itu kini dikenal sebagai Hana Homestay—sebuah usaha yang tidak hanya dibangun dengan batu dan semen, tetapi juga dengan pengalaman hidup, keberanian mengambil risiko, dan keyakinan bahwa pariwisata bisa menjadi masa depan.
Ide yang Lahir dari Pengalaman Lapangan
Gagasan membangun homestay sebenarnya tidak muncul tiba-tiba. Benihnya mulai tumbuh ketika ia masih bekerja di Dinas Pariwisata Simalungun sekitar tahun 2017.
Selama tiga tahun di sana, ia banyak melihat bagaimana sektor pariwisata bekerja.
Salah satu pengalaman yang paling membekas terjadi ketika ia mengikuti kunjungan ke sebuah desa wisata di Tangkahan Kabupaten Langkat.
Ada pelatihan yang membuatnya tinggal dan belajar di sana selama dua malam.
Yang mengejutkann bukanlah kemewahan fasilitas, melainkan justru kesederhanaannya.
Kamar-kamar yang ia lihat sangat sederhana. Bangunannya bahkan tampak biasa saja. Namun wisatawan, termasuk wisatawan asing, terus berdatangan dan menginap di sana.
Pengalaman itu memunculkan pertanyaan besar di dalam pikirannya.
Jika tempat sederhana seperti itu bisa hidup dari pariwisata, mengapa kawasan di sekitar Danau Toba yang jauh lebih terkenal tidak memanfaatkan peluang yang sama?
Pertanyaan itulah yang kemudian terus tinggal di benaknya.

Dari Program Kampung Warna-Warni ke Mimpi Homestay
Belakangan ia dipercaya untuk memimpin Kelurahan Parapat selama dua tahun sebelum akhirnya pindah tugas.
Selama menjabat sebagai Lurah, ia ikut terlibat dalam berbagai program pembangunan lingkungan, termasuk program kampung warna-warni yang mendorong masyarakat memperbaiki rumah dan lingkungan agar lebih menarik.
Dari situ ia melihat satu hal penting: banyak warga sebenarnya memiliki potensi untuk terlibat dalam pariwisata.
Rumah-rumah bisa menjadi penginapan.
Lingkungan bisa menjadi daya tarik wisata.
Namun di tengah proses itu, muncul sebuah pemikiran yang lebih pribadi.
Jika masyarakat bisa membangun usaha sendiri, mengapa ia tidak mencoba melakukan hal yang sama?
Panggilan Hidup Tidak Menjadi Petani
Pilihan untuk membangun homestay juga dipengaruhi oleh latar belakang hidupnya.
Wanita yang memiliki tiga orang anak ini lahir dan besar di Pematangsiantar, dalam keluarga pedagang. Dunia usaha sudah tidak asing baginya sejak kecil.
Ia juga menyadari bahwa dirinya tidak memiliki bakat di bidang pertanian, meskipun banyak orang di daerahnya hidup dari bertani. Sempat berusaha bertani. Namun, ia belakangan menyadari panggilan hidupnya bukan menjadi petani.
Karena itu wanita yang kerap disapa Mak Rio ini mulai memikirkan usaha yang lebih sesuai dengan pengalamannya—usaha yang bisa dikelola dengan pendekatan pelayanan dan hubungan dengan orang.
Pariwisata menjadi pilihan yang terasa paling masuk akal.
Modal Keberanian: Pinjaman dan Risiko
Namun mimpi tidak bisa berdiri tanpa modal.
Sekitar tahun 2015, jauh sebelum homestay itu benar-benar dibangun, ia mengambil langkah yang cukup berani: meminjam uang ke Bank Sumut untuk membeli lahan yang saat ini ia tempati dan jadikan Hana Homestay.
Awalnya lahan yang ia beli hanyalah lahan tempat rumahnya berdiri. Belakangan, ia membeli lahan dimana Hana Homestay berdiri. Proses pembelian lahan tidak mudah.
Semua proses itu memakan waktu.
Membangun Sedikit Demi Sedikit
Pembangunan homestay tidak dijalankan sekaligus. Berjalan bertahap, mengikuti kemampuan keuangan yang ada.
Pinjaman kembali diambil.
Tabungan dikumpulkan.
Bangunan mulai berdiri perlahan.
Dalam perjalanan itu, ada masa ketika uang terasa habis tanpa terasa. Pengeluaran datang dari berbagai arah: bahan bangunan, tenaga kerja, hingga kebutuhan hidup sehari-hari.
Namun Rohana tetap berpegang pada satu prinsip sederhana: Kalau tidak berani meminjam untuk membangun sesuatu, maka mungkin tidak akan ada apa-apa karya atau usaha yang dibangun.
Sebuah Usaha yang Selesai Setelah Bertahun-tahun
Bangunan Hana Homestay akhirnya benar-benar selesai sekitar tahun 2025. Artinya, perjalanan dari pembelian tanah hingga bangunan berdiri memakan waktu hampir satu dekade.
Seluruh kamar sudah siap menerima tamu.
Lampu menyala setiap malam. Air mengalir. Tempat tidur tersusun rapi.
Namun baginya, perjalanan ini belum selesai.
Utang pembangunan masih harus dilunasi. Biaya operasional terus berjalan. Sementara jumlah wisatawan di Parapat masih naik turun akibat pengaruh berbagai faktor.
Optimisme yang Realistis
Meski demikian, wanita yang masih menjabat sebagai ASN ini tidak menutup diri terhadap kenyataan.
Ia tahu bahwa homestay ini mungkin tidak bisa langsung menutup semua biaya hanya dari tamu yang datang. Dibutuhkan kerja keras dan penghasilan lain untuk menopangnya.
Namun baginya, yang paling penting adalah satu hal:
Ia telah meninggalkan sebuah karya nyata.
Bagi banyak pegawai negeri yang pensiun, yang tersisa sering kali hanya cerita dan kadang hutang. Tetapi ia ingin meninggalkan sesuatu yang berbeda—sebuah usaha yang bisa terus hidup, bahkan setelah ia tidak lagi bekerja.
Sebuah Awal Baru
Hari ini, Hana Homestay masih berada pada fase awal. Masa ketika setiap tamu yang datang terasa sangat berarti.
Namun jika melihat perjalanan panjang yang melahirkannya, tempat ini sebenarnya lebih dari sekadar penginapan.
Ia adalah bukti bahwa sebuah ide bisa tumbuh dari pengalaman sederhana.
Bahwa keberanian mengambil risiko bisa membuka jalan baru.
Dan bahwa mimpi yang ditanam bertahun-tahun lalu, suatu hari bisa benar-benar berdiri dalam bentuk bangunan nyata.

Di tengah perbukitan Parapat persisnya di Jalan Anggarajim mendekati Simpang Girsang 1, Hana Homestay menjadi saksi bahwa sebuah mimpi kecil—ketika dijaga dengan tekun—bisa berubah menjadi rumah bagi banyak cerita perjalanan orang lain.
Saat ini, Hana Homestay memiliki 7 kamar. Masing-masing kamar memiliki kamar mandi. Ada dapur bersama atau berbagi. Untuk pemesanan, bisa menghubungi no kontak Hana Homestay di Telepon atau Whatsapp 081973970678.
Penulis/Editor: Damayanti Sinaga



