Dijou Au Mulak: Menghidupkan Lagi Kenangan tentang Lagu Nahum Situmorang

NINNA.IDDi tengah derasnya arus musik populer, nama Nahum Situmorang—komponis besar yang pernah menjadi nadi kebudayaan Batak—perlahan tenggelam di balik ingatan generasi muda.

Lagu-lagunya yang dulu menjadi penanda identitas dan ruang batin orang Batak kini mulai jarang diperdengarkan. Padahal, lewat karyanya, Nahum menaburkan cerita, nilai, dan rasa yang membangun siapa kita hari ini.

Kesadaran untuk merawat kembali ingatan itulah yang menggerakkan Sanggar Seni Budaya Melodious.

Lewat sebuah drama musikal bertajuk “Dijou Au Mulak”, mereka mencoba membuka pintu nostalgia, sekaligus mempertemukan kembali generasi muda dengan karya-karya sang komponis besar.

Judul pertunjukan ini sengaja dipilih—bukan hanya sebagai penghormatan, tetapi juga ajakan untuk kembali pulang pada akar budaya sendiri.

NAHUM SITUMORANG
Ketika cerita rakyat bertemu karya Nahum Situmorang

Opera Batak yang Dihidupkan Kembali

Dalam penuturannya, sang sutradara Marfenas Sihombing menjelaskan bahwa “Dijou Au Mulak” akan digarap dalam gaya Opera Batak, bentuk teater rakyat yang menggabungkan musik, dialog, dan gerak.

Lagu-lagu Nahum Situmorang akan menjadi bingkai yang mengikat alur cerita—muncul sesuai situasi dramatik, mempertebal emosi, sekaligus menjadi jembatan antara legenda dengan musik tradisi.

BERSPONSOR

“Lagu-lagu Nahum itu seperti roh yang menuntun cerita,” ujar Marfenas. “Ia tidak hanya hadir sebagai hiburan, tapi sebagai penjelas suasana, penegas pesan, dan pengingat identitas.”

Legenda 400 Tahun dari Humbang Hasundutan

Marfenas membawa penonton menyusuri sebuah kisah tua dari kampung halamannya, Humbang Hasundutan—kisah tentang lahirnya Tao Silosung dan Tao Sipinggan, dua danau purba yang dipercayai sudah berusia sekitar empat abad.

Masyarakat setempat menganggap wilayah itu sakral; siapa pun yang datang ke sana diyakini tak akan berani berbuat jahat.

- Advertisement -

Legenda itu bercerita tentang dua saudara kandung: Sahang Maima dan Datu Dalu, keturunan seorang tabib yang juga ahli bela diri. Dari sang ayah, keduanya mewarisi kekuatan fisik yang luar biasa.

Namun, seperti banyak tragedi dalam cerita rakyat, kekuatan itu justru menjadi awal perpecahan.

TERKAIT  Rudal Rusia Hantam Kota-Kota Ukraina, Memutus Aliran Listik ke Pembangkit Nuklir

Perselisihan kecil berubah menjadi pertarungan besar. Dalam kemarahan, salah satu dari mereka melempar losung—lesung kayu tempat menumbuk padi—dan yang lainnya membalas dengan melempar pinggan, piring besar. Kedua benda itu jatuh di lokasi berbeda.

Dari tempat losung jatuh, terbentuklah danau menyerupai lesung: Tao Silosung. Dari lokasi piring jatuh terbentuk danau bundar: Tao Sipinggan.

Dramatik, puitis, sekaligus tragis. Dan kini, legenda itu akan kembali hidup di panggung—dibalut melodi dan syair ciptaan Nahum Situmorang.

Sinergi Seniman Humbang

Tidak hanya membawa cerita daerahnya ke pentas, Marfenas juga menghadirkan pendekatan sutradara yang matang.

Reputasinya sebagai seniman Humbang Hasundutan membuat karya ini dinantikan banyak pihak. Ia bekerja bersama Ruth Melody Misbow Siallagan, pimpinan Sanggar Seni Budaya Melodious, yang selama ini konsisten mengembangkan seni tradisi di berbagai forum.

Pertunjukan ini sendiri difasilitasi oleh BPK Wilayah II Medan, sebuah dukungan yang memberi ruang bagi seniman untuk mengekspresikan identitas Batak secara lebih luas dan berkelanjutan.

Lebih dari Sekadar Pertunjukan

“Dijou Au Mulak” bukan sekadar hiburan. Ia adalah gerakan kultural—upaya membangkitkan kembali memori kolektif tentang seorang komponis besar yang pernah mengukirkan jati diri Batak dalam bentuk nada dan lirik.

Lewat pertunjukan ini, lagu-lagu Nahum tidak hanya diperdengarkan kembali, tetapi dihidupkan dalam konteks baru, dalam cerita yang menyentuh dan relevan.

Di tengah perubahan zaman, di mana tradisi sering terpinggirkan oleh budaya serba instan, karya seperti ini mengingatkan kita bahwa identitas tidak lahir begitu saja; ia dirawat, dibangun, dan dihidupkan bersama.

Dan mungkin, lewat “Dijou Au Mulak”, kita semua diajak pulang—pulang kepada musik yang membesarkan kita, kepada cerita yang membentuk kita, dan kepada budaya yang seharusnya tetap berdiri di garis depan ingatan.

Penulis/Editor: Damayanti Sinaga

BERSPONSOR

ARTIKEL TERKAIT

TERBARU