NINNA.ID – Jauh dari pemberitaan media sosial pada tahun 2015 lalu, majalah Nova menempatkan Nai Marudut boru Situmorang sebagai Perempuan Inspiratif Bidang Seni dan Budaya. Beliau mendapat Penghargaan sebagai Perempuan Inspiratif Nasional tahun 2015 yang diserahkan oleh Dr Martha Tilaar karena kesetiaan menenun ulos setiap hari mulai dari usia remajanya.
Saya menjadi promotor untuk Nai Marudut memberi testimoni bahwa ibu yang akrab disapa Op Valen ini sungguh bekerja dengan hati dan jiwa. Desember 2021 lalu saya lama berdiskusi dengan beliau tentang makna dan nilai ulos.

foto: internet
Di tepi Danau Toba yang indah di Pulau Samosir ada sebuah desa bernama Desa Lumban Suhisuhi yang asri, hijau, dan hampir semua rumahnya masih berupa rumah tradisionil Batak yang sudah berumur puluhan tahun bahkan ada yang sudah di atas seratus tahun.
Desa ini telah dicanangkan oleh Presiden Joko Widodo sebagai kampung ulos. Penduduk desa Lumban Suhi-suhi hidup dari pertanian dan sebagai nelayan. Kaum prempuan lebih banyak bekerja sebagai penenun ulos (kain tradisionil etnis Batak) secara manual.
Di Huta Raja, Desa Lumban Suhisuhi Toruan yang indah dan kaya akan budaya inilah, pada tanggal 15 April 1954 lahir seorang anak prempuan dari pasangan penuh kasih Bapak Partibi Situmorang dan Mahanna boru Simarmata. Oleh bapaknya, anak itu diberi nama Sonta boru Situmorang yang kira-kira berarti pembawa cahaya.
Pada umur dua tahun Sonta boru Situmorang yang merupakan anak keempat dari lima bersaudara dua laki-laki, tiga prempuan dibaptis oleh Pastor Radboud Waterreus OFMCap seorang missionaris yang cukup lama berkarya di Samosir.
Ketika dibaptis Sonta boru Situmorang diberi nama tambahan, Leonarda, artinya singa pemberani namun punya hati nurani. Maka nama lengkapnya menjadi Sonta Leonarda boru Situmorang.
Masa kanak-kanak Sonta Leonarda dihabiskan dengan bermain di halaman kampung yang luas dan seputar Danau Toba.
Martumba yakni menari sekaligus bernyanyi merupakan permainan yang disenangi oleh Sonta kecil. Belaian mesra dari bundanya terkasih sungguh dirasakan oleh Sonta yang membuat dia tumbuh menjadi anak yang ceria dan selalu optimis dalam hidup.
Ketika Sonta Leonarga boru Situmorang berumur 8 tahun dia masuk sekolah dasar negeri Lumban Suhi-suhi. Sonta Menyelesaikan masa pendidikan SD dengan baik dan hampir tidak ada hambatan.
Sesudah tamat SD Sonta melanjutkan pendidikan ke Sekolah Menengah Pertama Negeri II Pangururan, kurang lebih 15 KM dari Lumban Suhisuhi.
Dunia pendidikan formal sebenarnya sangat dia minati, tetapi karena pada masa itu laki-laki lebih diutamakan, maka Sonta memilih berhenti sekolah agar abangnya laki-laki dapat melanjut ke jenjang yang lebih tinggi.
Sonta dengan rela meninggalkan bangku SMP dan memusatkan diri sebagai penenun ulos tradisionil mengikuti jejak ibunya. Sejak umur 15 tahun Sonta sudah mahir menenun ulos.
Kemahiran Sonta menenun ulos dan juga kepandaian dalam urusan tarik suara, sungguh memikat hati banyak pemuda. Ketika Sonta berumur 21 tahun dia kawin dengan seorang lelaki Batak bermarga Naibaho.
Dari hasil perkawinannya lahir seorang laki-laki yang diberi nama Marudut. Maka sesuai dengan adat dan istiadat orang Batak bila seseorang sudah kawin dan memiliki anak maka tidak boleh lagi dipanggil nama aslinya. Ada tambahan sesuai dengan nama anak pertama.
Sesudah memiliki anak nama Sonta Leonarda boru Situmorang berubah menjadi NAI MARUDUT BORU SITUMORANG (artinya ibunya si Marudut boru Situmorang). Sejak memiliki anak hingga kini Sonta akrab dipanggil Nai Marudut boru Situmorang.
Penulis : P Moses Elias Situmorang OFMCap
Editor : Damayanti Sinaga



