Oleh: Dr. Wilmar Eliaser Simandjorang, Dipl.Ec., M.Si
Ketua Pusat Studi Geopark Indonesia / Penggiat Lingkungan
Di Balik Lukisan Indah, Tersimpan Luka yang Dalam
Danau Toba bukan sekadar lanskap megah di jantung Sumatera. Ia adalah nadi kehidupan, saksi leluhur, dan rumah ribuan makhluk hidup. Tapi kini, danau itu meringis—menyimpan derita yang sunyi, nyaris tak terdengar.
Di sela nyanyian angin dan gelombang, ada jeritan yang tak lagi terdengar: suara burung yang hilang, gesekan ranting yang lenyap, dan gemuruh air yang terganti isak udara beracun.
Hutan-hutan penjaga Danau Toba—dari Pusuk Buhit hingga Bakkara—terbakar nyaris tiap tahun. Tapi entah mengapa, semua itu tak dianggap bencana.
Tidak ada sirene. Tidak ada empati. Hanya langit yang memerah dan tanah yang membara.
Api yang Membakar, Tapi Tak Pernah Dikenang
Kebakaran di sekitar Toba nyaris menjadi rutinitas musiman. Namun, siapa yang benar-benar peduli?
Pohon demi pohon tumbang, karbon mencemari langit, satwa kehilangan rumah. Tapi pemadaman hanya datang bila hujan turun. Selebihnya, kita diam.
Dan ketika kita diam saat alam disakiti, bukankah itu juga kejahatan?
Ketika Lagu Alam Menjadi Ratapan
Dulu, Danau Toba menyanyikan lagu kehidupan: gemericik air, lengking burung, lolongan malam.
Kini, irama itu berubah:
- Desis api membakar akar
- Isak hewan mencari arah
- Mesin gergaji menggantikan nyanyian alam
- Asap menggantikan oksigen
Hutan-hutan bisu. “Silent Forest” bukan istilah ilmiah semata—tapi kenyataan yang menyayat hati.
Dalam budaya Batak, Aek Natio adalah simbol kesucian. Tapi kesucian itu kini keruh, tak lagi jernih.
Pencemaran dari rumah tangga, pertanian, dan industri pariwisata mengubah danau ini menjadi kolam limbah. Ikan endemik menghilang. Budaya kehilangan rohnya.
Dan saat air kehilangan maknanya, kita kehilangan warisan.

Nama Danau Toba kini ramai disebut dalam brosur wisata, proposal proyek, dan rencana investasi. Tapi sayangnya, tak satu pun memulai dari cinta.
Hotel dibangun tanpa sistem limbah. Hutan ditebang demi parkir wisatawan. Gulma air meledak, ikan mati, suhu air berubah. Toba bukan lagi ekosistem, tapi panggung selfie.
Kita sedang membunuh yang kita puja.
Siapa yang Akan Menjawab Jeritan Ini?
Pemerintah pusat, daerah, investor, pelaku wisata—semua punya bagian dalam kerusakan ini.
Pengawasan lemah, penegakan hukum minim, kebijakan hanya mengejar target, bukan keberlanjutan.
Apakah kita akan terus menyalahkan waktu? Atau kita mau mengakui: ini tanggung jawab kita bersama?
Kami Menuntut, Bukan Meminta
Kami, warga yang mencintai Toba, menuntut:
- Hentikan pembukaan lahan dan pembalakan liar.
- Tegakkan hukum bagi pembakar dan pencemar.
- Pulihkan ekosistem dengan tanaman lokal.
- Bangun sistem limbah terpadu, bukan kosmetik pariwisata.
- Lindungi spesies endemik yang tersisa.
- Libatkan masyarakat adat dalam setiap kebijakan.
- Audit semua proyek infrastruktur: apakah mereka merusak atau menjaga?
Jangan Diam. Jangan Lengah.
Jika kamu pernah tersenyum di tepi danau ini—kamu harus bersuara.
Jika kamu pernah menulis puisi untuk hijaunya bukit—kamu harus bertindak.
Diam adalah bentuk pengkhianatan terhadap alam.
Suara burung boleh hilang, tapi jangan biarkan suara manusia ikut bisu.
Masih Ada Waktu, Tapi Tidak Banyak
Danau Toba belum mati. Tapi ia sedang sekarat.
Kita masih bisa menyelamatkannya. Tapi tidak dengan rencana. Hanya dengan aksi.
Kita bisa menjadi generasi penyembuh, atau generasi yang tercatat sebagai perusak.
Pilihan itu—ada di tangan kita.
Tapi jangan tunggu terlalu lama.
Karena alam tak pernah menunggu. Ia hanya memberi peringatan. Dan setelah itu—balas dendam.
Editor: Damayanti Sinaga



