spot_img

BAGIAN I

Perempuan Sebagai “Boru Ni Raja” dalam Budaya Batak Toba

NINNA.ID – Perbedaan anatomi tubuh laki-laki dan perempuan  sudah dirancang Sang Pencipta agar keduanya bisa bersatu menjadi satu daging. Daya tarik seksual menjadi bukti bahwa tubuh manusia, laki-laki dan perempuan berbicara secara lantang tentang kenyataan Sang Pencipta sendiri.

Meskipun demikian ada perbedaan dalam  cara bereaksi terhadap “rangsangan” seksual. Dengan pengecualiaan untuk kasus-kasus tertentu, secara garis besar bisa dikatakan bahwa laki-laki mudah mendapat rangsangan seksual lewat apa yang dilihatnya. Sementara itu perempuan lebih bereaksi terhadap apa yang dirasakannya. 

Sejak dulu hingga sekarang posisi perempuan sangat dijaga kesakralannya dalam budaya dan tradisi Batak Toba.

Ada predikat mulia yang dialamatkan kepada perempuan,  khususnya ibu seperti : boru ni raja, Inang nauli lagu, Inang parsonduk bolon, Inang Nalambok malilu, Inang Pangintubu, Soripada.

Pandangan Umum tentang Perempuan
Salah satu tema yang paling banyak dibicarakan dewasa ini adalah tindakan kekerasan dan ketidakadilan terhadap  perempuan  dan ibu dalam keluarga. Bentuknya beraneka ragam:  perbedaan pada kesempatan kerja, objek diskriminasi dalam adat, pelecehan seksual, dll.

Perempuan, yang akar katanya ‘puan’, yang berarti ‘nyonya tuan’, menjadi hanya kata saja yang tidak memperlihatkan lagi hakekatnya yang harus ‘dipertuan’, melainkan menjadi ‘puan’ yang diperhamba.

TERKAIT  Sejarah Islam Terlihat dari Tarombo Sori Mahumet

Sering terjadi bahwa yang dicari-cari dari perempuan adalah kemanisan dan kecantikannya. Pembicaraan di tempat rekreasi, komunitas, warung,  kantor,  dan di tempat lain yang  menjadi titik tolak pembicaraan  seputar perempuan di antara pria adalah kemolekan dan keanggunannya.

Pembicaraan tentang perempuan  pertama-tama bukan untuk membuat pujian yang tulus akan tetapi lebih sebagai pemuas kenikmatan. Karena kenikmatan yang menjadi fokus pembicaraan, maka begitu omongan menyingkap diri si pembicara serta penyingkapan itu tidak mengenakkannya, maka pembicara akan mengelakkan thema pembicaraan menjadi penghinaan terhadap perempuan.

Dalam bayangan banyak laki-laki, perempuan yang ‘memesona’ itu adalah yang memiliki wajah yang ayu, sorot mata yang lembut, senyum yang meneduhkan jiwa, dan  yang mampu membuat gembira.

Sering terjadi pula yang dicari dari perempuan hanya kemanisan dan kecantikannya. Sehingga tidak jarang perkawinan terjadi hanya karena melihat kecantikan luar semata saja, dan terbukti banyak yang setelah pudar kecantikannya lalu ditinggalkan seperti terungkap dalam pepatah  “habis manis sepah dibuang”. Ungkapan ini menunjukkan kesombongan, ketidakadilan,  dan keegoisan laki-laki.(bersambung ke hari Sabtu)

 

Penulis  : Pastor Moses Elias Situmorang OFMCap (Direktur Rumah Pembinaan Fransiskan Nagahuta, Simalungun-Sumut)
Editor     : Mahadi Sitanggang

ARTIKEL TERKAIT

TERBARU