Yang Hilang dalam Tradisi Natalan Orang Batak

BERSPONSOR

NINNA.ID – Natal sudah seperti hari biasa. Bagi saya tepatnya. Tidak ada perayaan apa-apa. Kecuali gereja. Ibadah. Cukup. Natal jadi sebatas doa dan doa.

Dulu tidak seperti itu. Tapi, begitulah. Zaman selalu berubah. Mungkin, tak perlu kita mendewakan masa silam. Masa silam, ya, biarlah masa silam. Masa sekarang, masa sekarang.

Walau begitu, mari bercerita. Ini waktu SD. Orangtua akan ke pekan. Biasanya, minggu pertama bulan Desember, mereka jadi tak biasa. Mereka akan bertanya: apa nanti kubawa? Tak pernah kami dengar orang tua bertanya begitu. Kali ini, mereka bertanya. Kami akan menjawab: banyakin beli minyak tanah.

Minyak tanah lebih berharga daripada gorengan. Kebahagiaan kami bukan pada perut. Padahal, perut kami keroncongan. Kami belum seperti anak-anak saat ini.

BERSPONSOR

Anak-anak saat ini sudah kelebihan makanan. Dibuang-buang kalau tak suka. Kami justru kekurangan makanan. Kekurangan sekali.

Saya masih ingat betul. Hobi kami berjalan sepulang gereja. Mencari makanan yang mungkin dibuang. Dibuang orang kota saat berjalan. Jadi, sambil jalan, kami mencari.

Orang kota memang hobi buang makanan. Hobi itu membuat kami senang. Jatuh kue. Atau kerupuk. Atau apa saja. Langsung kami makan.

Kami akan mencari bambu. Kebetulan, di sekeliling kampung, bambu tumbuh. Kami akan menebangnya. Mungkin, orang akan berpikir, mudah menebang bambu.

BERSPONSOR

Untuk patah saja, mudah memang. Tapi, kalau sampai sangkut, kami harus bekerja keras. Menariknya sampai jatuh. Gatal di kulit tak peduli.

TERKAIT  Berbahasa Batak di Forum Internasional, Berbahasa Indonesia di Forum Batak

Bambu itu segera kami bawa ke pekarangan. Di sanalah kami bertukang. Kami membuat meriam bambu. Kampung sebelah melakukannya juga. Kampung sebelahnya lagi. Dan, sebelahnya lagi.

Artinya, semua kampung membuat meriam bambu. Kami akan memakainya. Siang. Malam. Pokoknya, kapan ada waktu.

Malam jadi meriah. Suara letupan dari kampung sebelah kami sambut dengan letupan baru. Begitulah malam kami lewati.

- Advertisement -

Listrik saat itu belum sampai. Jadi, terang bulan atau bintang masih alami. Esoknya, kami mungkin jumpa di gereja. Atau, di sekolah. Kami akan saling mengklaim kemenangan tentang meriam paling kuat.

Kami suka untuk bercerita. Kadang kami melebih-lebihkan. Tetapi, di situlah kenikmatannya. Kami tertawa.

Melihat alis mata teman yang gosong. Atau rambutnya. Hampir tiap tahun alis kami gosong. Gosong kena api meriam ketika meniup. Tetapi, kebahagiaan lebih penting dari penampilan.

Penampilan itu sekilas. Kebahagiaan itu abadi. Pengalaman itu jadi kenangan. Zaman memang menukar meriam jadi mercon. Tapi, zaman tak bisa menukar kenangan itu.

Kini, Natal sudah biasa-biasa. Euforianya di mata kanak-kanak mulai redup. Saya melihatnya begitu. Entahlah bagi kanak-kanak. Bisa jadi Natal ini luar biasa.

Penulis  : Riduan Pebriadi Situmorang
Editor    : Mahadi Sitanggang

BERSPONSOR

ARTIKEL TERKAIT

TERBARU