spot_img

Warna Danau: Persembahan Budaya dari BPNB, Sayang untuk Dilewatkan

NINNA.ID – Saya sudah membaca tuntas naskah drama Warna Danau. Naskah ini ditulis dengan rapi oleh  Thompson Hs, Direktur Pusat Latihan Opera Batak (PLOt) Siantar dan salah satu kurator untuk Program Pendukungnya DSP (Destinasi Super Prioritas) Danau Toba.

Naskah ini betul-betul penuh. Artinya, ia padat akan informasi dan pengetahuan. Di naskah ini, segala keragaman warna budaya di 4 puak sekitar Danau Toba ditampilkan. Karena itulah barangkali mengapa naskah ini dijuduli demikian: “Warna Danau”.

Apa yang spesial di naskah ini? Banyak. Namun, yang spesial menurut saya adalah prosesnya yang panjang dan berjenjang. Panjang sekali. Dan, terutama lagi: pemerannya melibatkan semua puak di kawasan Danau Toba (KDT). Ada Karo. Ada Simalungun. Ada Pakpak. Tentu saja Toba. Intinya, semua puak tradisional di KDT ikut serta.

Perekrutannya selektif. Dimulai dari Simalungun. Disusul daerah Karo dan Pakpak. Terakhir di Toba. Semua proses perekrutan ini dimulai dari Maret 2021. Semua sanggar di KDT diundang dan diharapkan terlibat.

Teknisnya, masing-masing sanggar mengutus kader terbaiknya untuk belajar pada maestro. Namanya belajar berarti ada materi. Ada tentang tradisi, lakon, musik, tari, dan sebagainya. Para peserta yang diseleksi berusia tidak lebih dari 25 tahun.

Persiapan panjang dan selektif ini tentu akan menjadi nama lain bahwa pertunjukan ini adalah pertunjukan akbar. Saya sudah cukup lama menunggu hasil final dari kegiatan ini. Sayang, pada prosesnya terdapat beberapa kendala medis. Setelah perekrutan dari Simalungun, Karo-Dairi, Toba direncanakan akan ada latihan bersama dari peserta terseleksi.

Namun, dalam proses latihan 10 hari sempat 6 pemain dan 1 pelatih terpapar Covid-19 di Parapat. Setelah sembuh, latihan bertahap tetap dilanjutkan. Kini, persiapan semakin dimatangkan di Balige. Pematangan ini adalah sebagai persiapan untuk tampil akbar di Hotel Labersa, Balige, pada 13 November nanti sebelum menyusul di Jakarta, Padang, dan Medan.

Maksud saya, mumpung lagi di Toba, pada 13 November ini, ada baiknya kita menontonnya. Dengan menontonnya, seperti disebutkan di awal, kita akan mendapatkan informasi dan pengetahuan yang padat tentang adab dan kebiasaan masyarakat di sekitar Danau Toba. Pengetahuan-pengetahuan itu berupa kecerdasan tradisional yang sudah kita miliki dan kita warisi.

Dalam naskah itu, misalnya, Thompson Hs memasukkan penanggalan dan nama-nama hari dalam tradisi Batak. Penanggalan dan penamaan hari ini seperti diketahui menjadi bukti awal bahwa orang puak-puak tradisional sudah mempunyai kalender. Atau, dalam arti yang lebih modern mereka mempunyai pengetahuan astronomi.

Mereka sudah tahu hari baik. Tahu hari buruk. Tahu kapan menanam. Tahu kapan berpesta. Pengetahuan ini tentu berasal dari refleksi sadar yang diwarisi dari satu generasi ke generasi lain. Saya tiba-tiba merenung. Renungan itu tentang generasi saat ini yang makin jauh dari refleksi. Tanda-tanda alam tak lagi dibaca dan dipelajari. Sebuah ironi tentu saja: makin belajar melalui sekolah, tetapi makin tidak tahu.

Pertunjukan ini sebagai bentuk penyadaran. Penyadaran bahwa kita harus belajar. Belajar tidak hanya dari gejala alam. Lebih penting dari itu: belajar dari pengetahuan tradisional yang pernah awet. Belajar, misalnya, bahwa dulu leluhur kita punya siasat untuk membela diri. Ada dengan mossak di Toba. Ndikkar dari Karo. Dihar dari Simalungun.

TERKAIT  Nahum Situmorang, Komponis Batak yang Dilupakan

Dari naskah diketahui, pertunjukan ini akan diperkaya dengan musik tradisional khas. Ndikkar dari Karo diiringi gong Karo. Demikian juga dengan Toba. Pun dari Simalungun. Tentu, sangat menarik membayangkan ketiga ragam beladiri tradisional ini berdampingan sebagai pewarna tambahan dalam sebuah pertunjukan seni. Saya sendiri sudah melihatnya sekilas dari rilis mini melalui video singkat.

Dilihat dari rilis video singkat itu, ada beberapa adegan di beberapa tempat. Di bawah air terjun. Ada buku laklak. Ada atraksi dihar dari pelatih mewakili Simalungun. Juga koreografi yang dikreasikan sumber tradisi. Saya belum dapat meraba bagaimana pertunjukan ini. Dari segi naskah, sekali lagi, ini sangat padat. Tentu butuh kerja keras untuk memvisualisasikan naskah ini dalam satu panggung besar.

Sebab, cerita menarik tak selalu bisa dibawakan dengan menarik. Butuh kejelian dan keharmonisan antara naskah, sutradara, dan pemain. Yang tak luput dan bisa menjadi penentu adalah aksesori yang dibutuhkan. Kebetulan, pertunjukan ini akan juga memamerkan secara digital berbagai Warisan Budaya Tak Benda Indonesia (WBTBI) dari daerah KDT.

Rasa penasaran kita adalah bagaimana cerita dengan informasi yang padat ini bisa diramu dengan baik. Bagaimana Sordam dimainkan lalu disertai dengan penampakan digital di layar? Mari sama-sama menunggu. Yang pasti, apresiasi besar harus diberikan kepada para sanggar terpilih, kepada para seniman terlibat, kepada kru yang kompeten di bidangnya.

Sejumlah profesional dilibatkan untuk mengadon produksi BPNB Aceh itu. Ada Oktavianus Matondang dan Brevin Tarigan (garapan Musik) Peri Sagala dan Agung Prabowo (Koreografi), Sultan Saragih (Astrada), Saddam Dasuha (Pelatih Silat), Andi Lase (Properti), dan Ojak Manalu (Artistik). Seniman dari Bandar Aceh juga melengkapi Tim “Warna Danau” dengan Dekwan (Visual/Panggung) dan Mirza Katimon (Stage Manager).

BPNB Aceh berkomitmen teguh dalam memproduksi “Warna Danau” sebagai upaya mendukung  Destinasi Super Prioritas (DSP) Danau Toba dari potensi warisan budaya. Dan, terakhir, kepada peramu cerita yang padat informasi ini, yaitu Thompson Hs. Menjadi ditunggu program besar lainnya, semisal pertemuan penulis Batak yang tentu saja juga sangat penting dalam mematangkan serta mempromosikan KDT.

Belum ada pertemuan penulis sejauh ini di KDT. Di Bali sudah ada dan sudah mendunia, yaitu Ubud Writers. Jika hal identik dibuat, tentu menjadi sebuah fenomena baru, bukan? Ya, teknisnya bisa juga dibuat seperti “Warna Danau”, yaitu dengan menyeleksi para penulis di sekitar danau. Bisa dibayangkan, gaungnya juga akan besar

Oh, iya, sampai catatan ini dibuat, para penonton sudah diundang secara terbatas, termasuk stakeholder budaya di Kawasan Danau Toba. Horas, Mejuahjuah, Njuahnjuah!

 

Penulis    : Riduan Pebriadi Situmorang
Editor       : Mahadi Sitanggang

ARTIKEL TERKAIT

TERBARU