Tigaras, NINNA.ID– Infrastruktur jalan adalah urat nadi pembangunan. Namun di Sumatera Utara, janji perbaikan jalan yang berulang kali disampaikan Gubernur Sumatera Utara Bobby Nasution justru berubah menjadi deretan kekecewaan.
Dari Tigaras di tepi Danau Toba, Labuhanbatu hingga Bahorok di pintu gerbang Taman Nasional Gunung Leuser, masyarakat semakin jenuh dengan retorika tanpa realisasi.
Timeline Janji Bobby: 2025–2026
April 2025: Janji 100 Km Jalan di Selatan Sumut
Saat meninjau jalan rusak parah di Labuhanbatu, Padanglawas Utara (Paluta), hingga Tapanuli Selatan (Tapsel), Bobby berkomitmen memperbaiki jalan provinsi sepanjang lebih dari 100 kilometer.
“Kondisinya rusak berat. Banyak titik rawan longsor yang harus ditangani agar pembangunan nanti tidak sia-sia,” ujar Bobby saat berada di Kecamatan Aek Bilah (22–23 April 2025).
Pemprov Sumut bahkan mengumumkan alokasi lebih dari Rp100 miliar ditambah Rp20 miliar untuk pembangunan jembatan Aek Bilah.
“Sebagian dikerjakan tahun ini, sisanya tahun depan,” katanya.
Namun hingga Oktober 2025, warga mulai mempertanyakan progresnya. Jalan-jalan itu masih dalam kondisi lama: penuh lubang dan membahayakan pengendara.

Mei 2025: Janji 2 Km Jalan Menuju Pelabuhan Tigaras
Di Desa Tigaras, Kabupaten Simalungun, janji lain dilontarkan. Bobby berkomitmen memperbaiki jalan 2 km menuju Pelabuhan Tigaras—gerbang penting wisata Danau Toba.

“Mungkin Pak Bobby perlu diingatkan soal kata-kata yang sudah keluar dari ucapannya. Kita tagih sampai itu terwujud,” ucap seorang warga.
Namun, lima bulan setelah janji itu, warga masih melewati jalan penuh genangan air dan lubang menganga.
“Setiap hari kami melewati jalan ini. Kalau hujan, licin dan becek. Sangat berbahaya,” kata Erik Sinaga, warga setempat.
Wisatawan pun ikut kecewa. “Ini pertama kali saya ke Pelabuhan Tigaras, tapi akses jalannya sangat buruk. Padahal Danau Toba ini destinasi internasional,” ujar Tania, pengunjung asal Medan.
Operator transportasi mulai melihat potensi jalur alternatif via Tigaras. Namun, seperti diungkapkan Masta Sidabalok dari Parisma, potensi itu terhenti akibat buruknya infrastruktur.
“Kalau jalannya mulus, kami bisa menambah frekuensi angkutan. Tapi kalau rusak terus, wisatawan malas lewat sini.”
September 2025: Janji 5 Km Jalan ke Bukit Lawang
Bobby kembali melontarkan janji baru di Bukit Lawang, Bahorok, Kabupaten Langkat—destinasi wisata kelas dunia. Saat meninjau pasar dan berbincang dengan pedagang (26 September 2025), ia menyampaikan rencana pembangunan jalan sepanjang 5 km pada 2026.
“Untuk tahun depan kita akan merencanakan pembangunan sepanjang 5 km terlebih dahulu. Kita ketahui panjang jalan di daerah wisata Bahorok ini kurang lebih 54,5 km,” katanya.
Bobby menegaskan pembangunan akan dilakukan bertahap, menyesuaikan dengan anggaran, disertai drainase dan dinding penahan agar jalan kokoh.
Akan tetapi bagi warga, janji ini justru terasa seperti pengulangan pola lama: menunda dengan alasan anggaran.
Tokoh masyarakat Hasan Basri mengingatkan: “Perbaikan jalan terakhir dilakukan sekitar 15 tahun lalu.”
Masyarakat Butuh Bukti, Bukan Janji
Dari selatan Sumut hingga ke Danau Toba dan Bahorok, pola yang sama terus berulang: janji diumbar, tetapi jalan tetap rusak.
Masyarakat Tigaras yang bergabung dalam Paguyuban Wisata Tigaras menegaskan:
“Kami tidak butuh kunjungan seremonial atau kata-kata manis. Kami butuh jalan yang bisa dilewati dengan aman.”
Sangkin kesal menunggu jalan yang tak kunjung juga diperbaiki, Paguyuban Wisata Tigaras bergotong-royong untuk menutup jalan berlobang dengan bebatuan. Hal ini dilakukan demi mengurangi jalan yang berlubang parah di musim hujan.
Bagi warga, jalan bukan sekadar aspal. Jalan adalah akses ekonomi, wajah wisata, sekaligus martabat daerah. Rusaknya infrastruktur membuat distribusi hasil pertanian terganggu, wisatawan enggan datang, dan warga harus mempertaruhkan keselamatan setiap kali melintas.
Kini, masyarakat Sumatera Utara hanya menuntut satu hal: bukti nyata. Alat berat yang benar-benar bekerja di lapangan, aspal baru yang terbentang, dan jalan yang bisa dilalui tanpa rasa takut. Karena bagi mereka, setiap janji yang tak ditepati adalah luka kolektif.
Penulis/Editor: Damayanti Sinaga



