Peternakan Ayam di Percut Sei Tuan Didesak Tutup

BERSPONSOR

MEDAN – Petenakan ayam di Percut Sei Tuan semakin meresahkan. Warga mulai mendesak peternakan ayam itu segera ditutup. Sejumlah warga didampingi oleh Kepala Lingkungan 9 Mabar Hilir dan warga dari Jalan Cemara Abadi menyampaikan desakan itu kepada pejabat pemerintah di aula Kepala Desa Sampali Percut Sei Tuan, Rabu (19/10/2022).

“Kehadiran kami di sini mewakili masyarakat yang terkena dampak. Kami sudah tidak nyaman lagi akibat kegiatan pabrik tersebut. Kami tidak berkeberatan orang menjalankan usaha di lingkungan kami. Hanya saja jangan sampai merugikan kesehatan dan lingkungan orang banyak,” ujar Pandi Louise Pakpahan Warga Cemara Abadi mengawali keluhan warga.

Pernyataannya disusul oleh pernyataan dari warga lain yang juga meminta agar peternakan tersebut ditutup karena dinilai tidak cocok berada di tengah-tengah pemukiman padat penduduk, khususnya bersebelahan dengan deretan warga yang memiliki anak-anak kecil.

Rajiman Kepala Lingkungan 9 Mabar Hilir ikut menyampaikan pengaduan. Ia mengatakan telah empat kali menjumpai pemilik peternakan, Hendra dan orang tuanya yakni Alim memprotes dampak kegiatan pabrik tersebut. Namun, aduan langsung tersebut tidak digubris oleh pemilik pabrik. Sebaliknya, pemilik pabrik dinilai malah terus menambah jumlah ternaknya.

BERSPONSOR

Batas Waktu Seminggu

Pegawai Kepala Desa Sampali yang diwakili oleh Kepala Dusun 19 dan lainnya, sepakat untuk melanjutkan pertemuan pada 27 Oktober 2022 pukul 10.00 WIB. Meminta pemilik pabrik untuk menutup atau memindahkan pabriknya.

TERKAIT  Ziarah ke Makam Pendiri, Agenda HUT Perguruan TAKO ke-60
Petenakan ayam
Pertemuan warga dengan pemerintah desa di aula Kepala Desa Sampali Percut Sei Tuan,, mendesak penutupan peternakan ayam.(foto:damayanti)

“Kami berikan waktu seminggu buat Ibu Mega (mewakili pengusaha) untuk berdiskusi kepada pihak keluarga Ibu untuk membahas mengenai ini. Jadi, minggu depan kita sudah dapat keputusan apa yang akan Ibu lakukan terkait pabrik ini,” ujar pegawai Kepala Desa Sampali.

Sebelum pertemuan tersebut berakhir, para warga juga memastikan pertemuan pada 27 Oktober bukan lagi sekadar pertemuan. Akan tetapi, warga sudah mengetahui dan menyaksikan langsung pemilik peternakan menandatangani persetujuan untuk menutup atau memindahkan usahanya tersebut secara tertulis dan bermeterai.

BERSPONSOR

Dampak Kehadiran Peternakan

Petenakan ayam yang hampir tiga tahun berdiri itu telah mengundang lalat dan serangga bersarang di pemukiman warga sekitarnya. Warga merasa risih, jijik dan tidak nyaman akibat dikerumuni lalat.

Masyarakat menyatakan peternakan tersebut telah memicu penyakit bagi warga sekitar. Kerumunan lalat-lalat telah menyebabkan para pelanggan meninggalkan kedai milik warga sekitar. Warga yang tinggal sekitar 1-kilometer dari pabrik juga masih terkena dampak kerumunan lalat.

Peternakan ayam
Warga menggunakan berbagai cara untuk membasmi lalat yang diduga bersumber dari peternakan ayam.(foto:damayanti)

“Hanya lalat terus yang terbang kesana kemari. Dulunya gak separah ini. Tapi kok akhir-akhir ini makin ngeri kali ku lihat lalat berhinggapan dimana-mana. Ah, seramlah lihat lingkungan kami ini!” ujar boru Sijabat yang tinggal sekitar 500-meter dari lokasi pabrik.

- Advertisement -

Penulis : Damayanti Sinaga
Editor  : Mahadi Sitanggang

BERSPONSOR

ARTIKEL TERKAIT

TERBARU