spot_img

ASALNYA DIKUNJUNGI PRESIDEN JOKO WIDODO

Ulos Sadum Angkola untuk Sri Paus sebagai Master Piece

NINNA.ID – Pada bulan Oktober 1989, Paus Johannes Paulus II mengadakan kunjungan kenegaraan dan pastoral ke Indonesia selama enam hari. Tanggal 13 Oktober 1989 Sri Paus mempersembahkan perayaan ekaristi di lapangan Pacuan Kuda Tuntungan Medan yang dihadiri kurang lebih 100.000 jiwa umat Katolik.

Lama sebelum kunjungan Sri Paus ke Indonesia, panitia lokal di Medan telah merencanakan memberikan sebuah kenangan-kenangan yang ada kaitannya dengan budaya karena Sri Paus Johannes Paulus II adalah seorang Paus yang sangat menghargai budaya. Hal itu juga dibuktikan setiap kali dia mengunjungi sebuah negara pertama-tama dia mencium tanah sebagai tanda dia sangat mencintai negara atau tempat yang dia kunjungi.

Panitia menyimpulkan memberikan ulos yang ada tulisan Ad Multos Annos (semoga panjang umur) karena tepat pada kunjungan ke Medan Paus Johannes Paulus II merayakan ulang tahunnya.

Uskup agung Medan Mgr.A.G.Pius Datubara OFMCap yang menjadi pemimpin umat Katolik di Keuskupan Agung Medan menugaskan  Pastor Leo Joosten OFMCap untuk mencari orang yang mampu menenun ulos khusus untuk Sri Paus.

Pastor Leo Joosten seorang missionaris Belanda  yang cukup lama bertugas di Pulau Samosir langsung menunjuk Nai Marudut untuk mengerjakan ulos tersebut. Saat didatangi pastor Leo Joosten ke rumahnya di Huta Raja, Desa Lumban Suhi-suhi dan memintanya untuk membuat ulos bagi Paus Johannes Paulus II, sungguh ia seperti tidak percaya pada pendengarannya dan terlebih lagi permintaan itu langsung disampaikan seorang pastor Belanda yang sungguh dia kagumi. Antara sangat bangga, senang, dan gamang bercampur aduk dalam hatinya.

Sebelum memulai menenun ulos untuk Paus, Nai Marudut  bermeditasi untuk merenungkan dan memikirkan jenis ulos apa yang paling tepat. Dia juga meminta gambar Sri Paus agar dapat menyesuaikan ukuran ulos yang akan diberi.

Selama dua bulan dia hanya fokus untuk menenun ulos pesanan Uskup Agung Medan dan selama menenun dia rutin dikunjungi oleh pastor Leo Joosten untuk memastikan bahwa ulos itu benar-benar sesuai dengan pesanan uskup agung Medan.

Tipe ulos yang dipilihnya untuk Sri  Paus adalah tipe Sadum Angkola, sebuah tipe ulos yang menurutnya paling sesuai  diberikan kepada Paus saat akan mengadakan Misa Agung di Medan.

Menurut Nai Marudut, ulos Tipe Sadum Angkola paling anggun dan pemakaiannya lebih umum dibandingkan dengan tipe ulos lain. Warna ulos yang dipilihnya untuk ulos Paus adalah dasar hitam dengan kombinasi merah hati.

Dua bulan penuh Nai Marudut bekerja untuk ulos itu. Sebelumnya ulos jenis  apa pun dapat dia kerjakan paling lama tiga minggu. Kesulitan Nai Marudut saat membuat ulos bagi Sri Paus itu menurutnya ada dua.

Pertama adalah keraguannya sendiri, mengapa dia dipilih oleh uskup agung Medan. Jadi ia sangat takut mengecewakan kepercayaan besar yang diberikan oleh uskup agung Medan kepadanya. Dan kesulitan kedua adalah tulisan yang tertera di ulos pesanan itu bukanlah tulisan yang lazim ada dalam sebuah ulos. Jadi sangat sulit untuk mengatur penempatannya. Tulisan dalam ulos itu harus memakai bahasa Latin yakni Ad Multos Annos yang artinya “Semoga Panjang Umur.”

TERKAIT  Babi Ambat, Ritual Menangkal Covid-19

Huruf dalam ulos itu harus ditenun sendiri dalam ulos artinya tidak boleh disablon. Hal ini yang membuat Nai Marudut sangat kesulitan. Namun berkat keyakinan dan kegigihan pantang menyerah, ulos untuk Paus dapat selesai dua Minggu sebelum kunjungan Paus ke Indonesia.

“Ulos untuk Sri Paus itu panjangnya tiga meter dan lebar delapan puluh lima  centimeter. Saya membuat ukuran yang cukup panjang karena saya tahu beliau seorang yang tinggi besar. Dengan ukuran begitu nampak dia sangat anggun saat mengenakan ulos itu.” Jelas Nai Marudut Bangga.

Ketika Sri Paus Johannes Paulus II hadir pada tanggal 13 Oktober 1989 untuk memimpin Misa Agung di lapangan Pacuan Kuda Tuntungan Medan, Nai Marudut diundang secara khusus dan duduk di tribun tamu kehormatan.

Dia melihat dengan  mata kepala sendiri bahwa Sri Paus mengenakan ulos buatan tangannya. Menyaksikan ulos hasil tenunannya dipakai Paus, dia sempat meneteskan air mata saking gembiranya.

Sepanjang hidupnya hingga kini, ulos yang diberikan kepada Sri Paus merupakan mahkota (master piece) dari segala ulos yang pernah dia tenun. Ulos tersebut kini  disimpan dengan baik di museum Vatikan. Atas jerih payahnnya untuk menenun ulos untuk Sri Paus Nai Marudut diganjari pihak keuskupan uang sebanyak Rp 1.000.000,- (satu juta rupiah). Suatu jumlah yang cukup besar pada tahun 1989. Uang tersebut lantas dia bagi-bagi dengan teman sekampungnya dalam bentuk makan bersama.

Kini untuk menyambung hidup, selain masih terus menenun ulos, Nai Marudut juga mengerjakan sebidang tanah yang ditanami padi dan  memelihara dua ekor kerbau. Hidup Nai Marudut tetap sederhana namun Nai Marudut tetap menyimpan sebuah kebanggaan besar.

Sebuah ulos buatannya sendiri kini tersimpan dengan baik di Museum Vatikan sebagai salah satu koleksi Sri Paus. Kebetulan pada bulan Agustus 2015 lalu penulis mengikuti heritage program ke Italia dan Vatikan dan salah satu tujuan adalah mengunjungi museum Vatikan.

Benar ulos tersebut tersimpan di salah satu ruangan museum Vatikan. Ulos tersebut nampak terjaga dengan baik karena suhu dalam ruangan museum tersebut terjamin.

Presiden RI Joko Widodo Kunjungi Kampung Ulos
Hari pertama kunjungan Presiden RI Joko Widodo, 2 Feberuari 2022, ke kawasan Danau Toba, direncanakan mengunjungi “Kampung Ulos” Hutaraja di Desa Lumban Suhisuhi, Kecamatan Pangururan Kabupaten Samosir.

Desa ini memang dikenal sebagai desa penghasil kain tenun ulos. Dan, dari desa inilah, ulos Sadum Angkola bertuliskan Ad Multos Annos untuk Paus Johannes Paulus II ditenun.

Semoga saja dengan kunjungan Bapak Presiden RI Joko Widodo, membuat kain tenun Batak ini semakin digandrungi banyak pihak sampai ke manca negara.

 

Penulis     : P.Moses Elias Situmorang OFMCap
Editor        : Mahadi Sitanggang

 

ARTIKEL TERKAIT

TERBARU