Tradisi Mandok Hata: Bukan Kristen Saja

BERSPONSOR

NINNA.ID – Orang Batak itu formal. Dari dulunya seperti itu. Jika anak akan berangkat ke rantau, keluarga akan berkumpul. Mereka membuat acara borhat-borhat. Pemberangkatan istilahnya. Tak jarang, mereka memotong ayam. Mengucap syukur. Berdoa. Kepada Tuhan. Juga leluhur.

Merantau seperti keharusan. Terkadang, jadi perpisahan yang lama. Setahun hampir tak akan pulang. Dua tahun. Tiga tahun. Bahkan, sampai sepuluh tahun.

Jadi, berangkat ke rantau berarti berpisah lama. Pulang mungkin jika akan menikah. Atau, jika ada yang meninggal.

Karena itu, sebelum ke rantau mereka berbicara formal. Dari hati ke hati. Semua kerabat ikut serta. Memberi nasihat, memberi harapan. Lama mereka tak akan bicara lagi.

BERSPONSOR

Telepon belum ada. Hanya mengandalkan kantor POS. Padahal, alamat bisa berubah tiba-tiba. Surat bisa nyasar.

Tahun-tahun berlalu. Anak rantau pulang kampung. Pada momen penting. Mungkin tahun baru. Mungkin Paskah. Atau, liburan panjang lain. Anak rantau akan kembali ke rantau.

Mereka akan berpisah lebih lama lagi. Maka, kerabat dipanggil. Mereka kembali berbicara. Dari hati ke hati.

Orang Batak memang serius. Bertemu tanpa bicara seperti sia-sia. Harus selalu ada acara. Karena itu, orang Batak selalu memulai: manghatai ma hita (ayo berbicara).

BERSPONSOR

Lebih formal, terkadang mereka akan berkata: dia laklakna, dia unokna; dia ma hatana, dia nidokna. Itu umpasa.

Artinya secara langsung: mana kulit, mana inti; apa kata-katanya, apa tujuannya? Jadi, orang Batak tak bisa sembarangan datang. Harus ada tujuannya.

TERKAIT  Martutu Aek dan Acara Tardidi (Baptis) pada Orang Batak

Tujuan adat tentu saja. Karena itu, sering kali sesama besan tidak saling mengunjungi meski dekat. Harus ada pembicaraan adat.

Orang Batak memang terlalu formal. Seorang menantu tak bisa datang begitu saja setelah menikah. Setelah punya anak, menantu juga tak bisa datang begitu saja. Ada lagi ritusnya: mangebati.

- Advertisement -

Artinya, Batak sangat formal. Jadi, kita tak perlu heran. Tahun baru, orang merayakan cukup dengan doa.

Orang Batak harus formal. Mereka harus bicara. Dari hati ke hati. Ini momen keluarga berkumpul. Jadi, mereka harus bicara. Bicara yang serius.

Susunan acara mesti dibuat. Ditulis atau sudah luar kepala. Orang mungkin berkata: mandok Hata adalah tradisi Batak Kristen.

Sesungguhnya tidak. Mandok Hata adalah tradisi Batak pada umumnya. Sebab, mereka orang yang formal dan serius. Harus ada laklak dan unokna. Apalagi momen berjumpa sangat langka.

Mereka tak bertatap muka untuk waktu yang lama. Jadi, harus ada momen serius: mandok hata.

Kini, Tanah Rantau makin dekat. Bukan jaraknya, tetapi waktunya. Anak rantau tak lagi pulang sekali setahun. Terkadang setiap ada libur.

Mereka tak lagi berjumpa melalui surat. Sudah melalui telepon. Jadi, wajar tradisi mandok hata mulai longgar. Toh, mereka mulai sering jumpa.

Penulis  :  Riduan Pebriadi Situmorang
Editor    :  Mahadi Sitanggang

BERSPONSOR

ARTIKEL TERKAIT

TERBARU