spot_img

Torsani Ulos Mangiring

SAMOSIR – “Hasilkan saja dulu, bagaimana orang mau membeli kalau barangnya tidak ada? Soal pasar pasti  akan datang”.

inilah yang disampaikan Sepwan Partogi Sinaga, pria pelaku budaya asal Siambalo Pangururan kepada 50 partonun (penenun) yang mengikut pelatihan selama seminggu di Lumban Sitohang Desa Lumban Suhisuhi Kecamatan Pangururan Kabupaten Samosir.

Lalu Tetti Naibaho, kurator yang dipercayakan Balai Pelestari Nilai Budaya (BPNB) Provinsi Aceh kepada ninnA.id mengatakan, bahwa para partonun yang mengikuti workshop akan menghasilkan 50 Ulos Mangiring dengan motif dan kreasi yang berbeda.

Bagi traveler yang penasaran dengan hasil karya partonun menggunakan pewarna alami itu, silahkan berkunjung ke Kota Balige Kabupaten Toba, tepatnya di Museum Batak TB. Silalahi Centre pada tanggal 29 – 30 Oktober 2021.

Torsani Ulos Mangiring, bermakna penggunaan doa dan adat yang melekat dalam penggunaan Ulos Mangiring tersebut.

Ulos Mangiring mungkin saja sudah dikenal banyak orang Batak, karena seringsekali Ulos Mangiring ini diberikan sebagai gendongan untuk bayi yang baru lahir. Dan Ulos Mangiring juga digunakan sebagai talitali (ikat  kepala) bagi laki-laki dan sebagai handehande (selendang) untuk perempuan.

Mangiring songon goarnai do, adong do di ulos Mangiring on gatip na marsipairing-iringan

Mangiring seperti namanya, ada motif garis pada ulos Mangiring yang beriringan,” jelas Sepwan mengawali penuturan Ulos Mangiring.

Beberapa jenis dengan motif dan makna yang berbeda dari Ulos Mangiring dijelaskan Sepwan kepada ninnA.id. Di lokasi yang sama, ulos ini juga dipamerkan kepada traveler. Terdapat puluhan Ulos Mangiring dengan motif dan nama yang berbeda, dan tentunya sarat dengan makna yang berbeda-beda pula.

TERKAIT  Manumbuk Numbuk, Ritual Pasahat Babi Sirompur

Salah satunya Ulos Mangiring Padang ursa (rusa), karena “gatip (motif/garis)” seperti tanduk rusa bercabang di atas. Dahulu, yang memakai Ulos Mangiring Padang Ursa sebagai talitali adalah, orang dengan status sosial yang berada.

Untuk dolidoli (pemuda yang belum menikah), Sepwan menjelaskan, Ulos Mangiring Silobang adalah talitali mereka. Kenapa disebut “Silobang” karena tidak terdapat motif kayu di dalamnya, yang maknanya adalah “dang hot dope marharajaon (belum mempunyai kerajaan sendiri bermakna keluarga).

Banyak kisah, cerita dan makna yang sangat kuat dari Ulos Mangiring sebagai Ulos Tohonan, yang berarti ulos pemberian dengan doa dan adat yang melekat di dalamnya.

 

Penulis   : Febe

Editor    : Mahadi Sitanggang

 

ARTIKEL TERKAIT

TERBARU