spot_img

TOBA : Tempat Orang Batak Asli

NINNA.ID – Hampir setahun sudah saya mengupload video di channel saya berjudul “Batakku Sayang, Batakku Malang: Karo-Mandailing bukan Batak?” Sejak saya unggah di channel Youtube saya, ratusan orang sudah berkomentar. Komentarnya sangat beragam. Benar-benar beragam.

Namun, ada satu komentar yang menggelitik. Begini bunyi komentarnya: “Toba itu kemungkinan singkatan tempat orang Batak asli”. Kalau soal genetis, komentar ini tentu saja keliru. Tidak ada yang benar-benar asli di dunia ini. Dilihat dari teori keilmuan, kita ini bahkan berasal dari Africa (Out of Africa). Jadi, pada hulu sejarah, kita bukan asli nusantara, apalagi Batak?

Namun, soal ideologis dan kebanggaan, singkatan itu ada benarnya. Paling tidak, sejauh ini, sependek pengetahuan saya, belum ada orang Toba yang memproklamirkan gerakan Toba bukan Batak.

Jadi, di satu sisi, singkatan Toba di atas (tempat orang Batak asli), terutama jika dilihat sebagai sebuah kebanggaaan, adalah benar adanya.

Sekali lagi, ini soal kebanggaan. Ini bukan soal genetika. Sebab, bicara genetika, itu sudah hal yang rumit. Jokowi adalah orang Batak. Ia marga Siregar. Bukan kemauannya begitu, tetapi tuntutan adat lantaran putrinya menikah. Kisah yang identik sangat mungkin terjadi di awal-awal sejarah. Artinya, sangat mungkin dulunya ada batakisasi karena banyak alasan.

Konon, salah satu cabang marga di Karo ada dari India. Lantas, apakah marga itu Karo asli secara genetis? Diragukan tentu saja. Tetapi, saya yakin, soal ideologis dan kebanggaan, orang India yang dikarokan itu sangat bangga sebagai Karo. Di tubuhnya mengalir darah India secara genealogis, tetapi di hatinya membuncah jiwa Karo secara ideologis.

Apa yang mau saya sampaikan? Yang mau saya sampaikan sebenarnya bahwa genealogis tak perlu diperdebatkan. Itu urusan ilmiah. Bahkan bisa bersifat eksakta jika sudah dikaitkan dengan bidang genetika di kedokteran. Sangat mungkin pula terjadi bahwa jangan-jangan ada di antara kita yang justru bukan keturunan Batak secara genealogis dulunya.

Namun, jika itu terjadi pada saya lantaran leluhur saya, misalnya, dibatakkan atas alasan tertentu, yang semula ia Cina lalu menjadi Batak, dan kemudian diketahui dari genetika, saya pada akhirnya akan tetap lebih bangga sebagai Batak, bukan sebagai Cina. Jadi, sudah jelas, ini urusan kebanggaan dan pengakuan, bukan urusan klaim-mengklaim.

TERKAIT  Menggali Sejarah Si Raja Batak

Saya memang tahu, Batak sebagai istilah masih relatif baru. Justru, Batak sebagai nama bukan atas inisiatif sendiri. Nama Batak sifatnya julukan dari bangsa lain. Namun, rasanya hampir semua dari kita adalah julukan dari orang lain. Indonesia sendiri adalah nama yang diberikan orang lain. Tetapi, apakah karena itu kita dengan tegas berkata dan berdeklamasi: wahai Saudaraku, aku ini bukan Indonesia?

Demikianlah saya membaca gerakan aku bukan Batak. Saya tak tahu motivasi gerakan ini. Murni ilmu? Mungkin politik? Atau biar ramai saja? Jangan-jangan hanya seru-seruan biar tren? Entahlah. Tetapi, jika dilihat dari ideologis, rasanya hal seperti itu mustahil terjadi. Sangat mustahil. Mudah saja untuk menjelaskan.

Begini, misalnya. Kita andaikan mereka yang melakukan gerakan deklamasi bukan Batak ini menemukan titik terang dari genetika bahwa mereka, misalnya, ternyata orang Aceh. Ini hanya contoh. Jangan dibawa dalam hati. Lalu, apakah mereka akan begitu saja suka, lalu memproklamirkan: kami ini suku Aceh. Turunannya, tradisi marga dihilangkan dan diganti dengan tradisi Aceh? Apa mereka mau?

Saya ragu sekali. Karena itu, saya membaca gerakan ini hanya gerakan ikut tren. Bahwa itu penting, saya bersetuju. Harus ada sikap meragui dalam sikap keilmuan. Justru saya mau bilang, demi eksistensi dan kemajuan sejarah dan pengetahuan, gerakan seperti ini perlu, bahkan dibutuhkan. Tetapi, pertanyannya, setelah menemukan jati diri, misalnya, lalu apa langkah lanjutan?

Maaf, saya tidak sedang menonjolkan bahwa Batak asli adalah Toba. Bukan itu poin saya. Secara teori keilmuan, Toba bukan Batak. Itu fakta pahit yang harus diterima. Sebab, Batak sebagai kosakata adalah istilah yang kemudian menyusul. Namun, saya meyakini, istilah itu kini sudah menjadi darah dan daging. Ia sudah menjadi tidak hanya identitas, tetapi juga ideologi.

Karena itu, jika di kemudian hari, misalnya, teknologi membuktikan bahwa saya bukan Batak asli, bahkan bukan Toba asli lantaran leluhur kami, misalnya, adalah orang yang dibatakkan, dengan alasan apa pun, saya akan tetap berkata lantang: aku Batak. Tapi, ya, ini saya pribadi. Setiap orang berbeda, tentu saja. Persoalannya, untuk apa sih tampil beda jika tujuannya cuma sebatas berbeda saja?

 

Penulis   : Riduan Pebriadi Situmorang
Editor      : Mahadi Sitanggang

ARTIKEL TERKAIT

TERBARU