NINNA.ID-Senang menyatu dengan alam? Hobi mendaki bukit, melihat air terjun, berkemah serta menyatu dengan alam? Taman Eden menjadi tempat kamu menyalurkan hobimu tersebut!
Taman Eden punya banyak hal buat kamu betah berlama-lama habiskan waktumu di sini. Bagaimana tidak?
Kamu bisa belajar banyak di sini, khususnya belajar tentang apa yang dimaksud dengan Geopark Kaldera Toba, apa flora unik di Kawasan Danau Toba, singkatnya kamu akan menikmati ekowisata!
Ekowisata artinya wisata alam. Kata itu didefinisikan sebagai perjalanan yang bertujuan ke kawasan-kawasan alami untuk memahami kebudayaan dan fakta-fakta sehubungan dengan flora dan fauna daerah tersebut, dan tetap berhati-hati agar tidak mengubah kesehatan ekosistem.
Taman Eden berupaya menerapkan prinsi-prinsip paling dasar ekowisata. Misalnya, yang paling mendasar ekowisata yang baik harus memiliki fitur-fitur informasi yang memadai.
Sebelum memulai perjalanan, wisatawan disuguhkan papan informasi tentang apa saja yang ada di dalam Taman Eden.
Ada juga penjaga maupun pemandu wisata yang bersedia untuk menemani Sobat Ninna untuk mengeksplor Taman Eden.
Air Terjun di Taman Eden
Air Terjun ini dinamai Air Terjun Tongguran. Namun lebih dikenal dengan nama Air Terjun Taman Eden.
Karena mengusung ekowisata, para wisatawan diajak untuk turut menjaga kelestarian Taman Eden.
Terutama tidak membuang sampah sembarangan, tidak merusak ekosistem alam.
Saat menikmati air terjun wisatawan dihimbau untuk tidak menggunakan sabun atau sampo.
Tujuannya jelas, agar air yang mengalir tidak tercemar dengan berbagai bahan kimia. Sebab, air ini jugalah yang biasa digunakan untuk mengaliri sawah padi masyarakat sekitar.

(foto: Damayanti)
Berbagai Flora di Taman Eden
Taman Eden juga merupakan tempat bagi kamu belajar tentang flora Danau Toba. Sebelum Covid menghantam, Taman Eden termasuk salah satu tempat wisata yang paling ramai di Kawasan Danau Toba.
Belakangan nama Taman Eden dikenal juga dengan nama Taman Eden 100 yang mengartikan terdapat 100 tanaman di Taman Eden yang merupakan tanaman endemik Danau Toba.
Tanaman yang begitu banyak ini ditujukan Marandus mengingat betapa penting jasanya bagi kehidupan.

Tanaman merupakan sumber pangan dan sandang.
Tanaman merupakan sumber energi, bahan bangunan, dan obat-obatan yang menyelamatkan kehidupan. Binatang, unggas, dan serangga pun bergantung pada tanaman.
Dasar pemikiran seperti inilah yang membuat Marandus tertarik untuk mengembangkan Taman Eden.
Nama Taman Eden juga diambil dari Kitab Suci. Di sana Tuhan memerintahkan manusia pertama yakni Adam dan Hawa untuk menggarap dan mengurus Taman Eden.
Taman Eden yang ukurannya hanya kecil di bumi dimaksud akan diperluas di seluas bumi. Itu tujuan Tuhan sewaktu menciptakan Adam dan Hawa.
Kembali ke Taman Eden di Lumban Rang, Marandus beserta timnya juga melestarikan bibit-bibit di Taman Eden, terkhusus bibit tanaman yang merupakan ciri khas Danau Toba yakni Andaliman.
Dengan semangat yang tinggi, Marandus terus mempopulerkan bumbu khas Batak ini. Bisa jadi, awal ketenaran Taman Eden hingga ke luar negeri berkat tanaman endemik yang satu ini.
Rombongan wisatawan berdatangan untuk mendaki, berkemah serta membeli produk-produk kreatif karya Marandus Sirait, pengelola Taman Eden.
Bukan hanya Marandus saja, ada banyak tenaga kerja yang merupakan penduduk lokal turut menghasilkan produk kreatif di sini.
Camping dan Homestay
Para pengunjung juga bisa berkemah di sini atau tinggal di homestay. Ada 3 unit homestay. Namun, seperti yang disebutkan di atas, para wisatawan diharapkan benar-benar menjaga kelestarian alam saat menginap di sini.

Wisatawan diperbolehkan untuk membawa persediaan selama berada menginap di Taman Eden. Boleh memasak.
Para wisatawan diperbolehkan juga membawa segala perlengkapan untuk berkemah. Akan tetapi bisa juga meminta pihak Taman Eden menyediakan apa yang dibutuhkan.

Untuk tarif pengunjung 10.000 per orang. Tarif berkemah 25ribu per orang. Sewa homestay 250ribu/kamar. Bagi yang ingin berkemah diharapkan untuk membawa tenda masing-masing.
Lokasi Taman Eden
Lokasi Taman Eden tidak jauh dari Kota Parapat. Sekitar 30 menit untuk bisa sampai kesini. Bagi Sobat yang datang dari arah Parapat bisa melihat di sisi kiri setelah melewati Café Binanga atau Jo’s Café. Sebaliknya, dari arah Porsea, Sobat bisa melihat di sebelah kanan.
Papan nama Geopark Kaldera Toba “Taman Eden” akan kelihatan dari jauh. Atau untuk mempermudah travellers, ketikkan saja kata kunci Taman Eden 100. Kamu pun bisa mengikuti Google sembari memastikan Papan nama Taman Eden di jalan besar arah menuju Lumban Rang.
Penulis: Damayanti Sinaga
Editor: Damayanti Sinaga



