spot_img

Tiga Menit Menyeberangi Danau Toba Hanya Ada di Sini

NINNA.ID – SAMOSIR

Bagi masyarakat yang pernah berkunjung ke pulau Samosir dan menikmati jasa penyeberangan kapal motor penyeberangan ferry, tentu tidak asing dengan KMP Tao Toba I dan II di Dermaga Tomok, KMP Ihan Batak di Dermaga Ambarita dan KMP Sumut I dan Sumut II di Dermaga Simanindo.

Dikelola secara modern dan profesional dengan waktu 45 hingga 60 menit menyeberangi Danau Toba, tidak begitu banyak yang ingin tahu siapa di belakang usaha itu. Semua pasti menerka, pemiliknya konglomerat di bidang perkapalan atau pemerintah.

Namun, kali ini ada kejutan dari seorang pengusaha lokal yang memiliki usaha angkutan penyeberangan mobil hingga truk colt diesel di Danau Toba. Dikelola secara tradisional melayani penyeberangan mobil dari Dermaga Tarabunga di Kecamatan Palipi di pulau Samosir dengan rute tujuan ke Desa Tamba, Kecamatan Sitiotio  di daratan pulau Sumatera dan sebaliknya.

Ama Douglas Simbolon demikian dia dipanggil. Pria yang pulang kampung dari rantau Jakarta ini mengaku, usaha penyeberangan dimulainya sejak tahun 2012, setelah tanah rantau tidak bisa memberikan jaminan masa depan baginya.

Saat memulai usaha itu, ia tidak memiliki pengalaman tentang kapal. Modalnya hanya yakin dan tekad serta mimpinya, 10 tahun ke depan dari tahun 2012, pulau Samosir  akan hebat dan dikunjungi banyak orang.

Enam bulan pertama usahanya dengan satu unit kapal, ia akui harus mengalami kerugian besar. Berbagai pemeliharaan kapal dan masih enggannya warga menikmati layanan kapal itu, bagaikan gelombang kerugian yang menerjang.

“Saya tetap optimis kala itu, meski rugi pada enam bulan hingga satu tahun, namun tekad saya bulat. Saya pun mencoba memberikan pelayanan selama 24 jam. Warga yang hendak menyeberang pada malam hari tetap saya layani. Itulah awal usaha penyeberangan saya mulai dinikmati masyarakat,” katanya.

TERKAIT  Dikalahkan Lelah, Tetap Berharap Samosir Kembali Ramai
kapal
Kapal penyeberangan milik Ama Douglas Simbolon, membantu distribusi kebutuhan masyarakat.(Foto/NINNA)

Kapal milik milik Simbolon terlihat mampu menampung 7 hingga 10 unit mobil pribadi. Di lokasi dermaga, tidak terlihat pemberlakuan trip penyeberangan, sehingga setiap mobil yang tiba di dermaga bisa langsung diseberangkan.

“Tidak ada trip. Satu mobil yang mau nyeberang, langsung kita seberangkan. Jadi pengemudi mobil tidak perlu tunggu lama, bayar ongkosnya, langsung menyeberang,” ungkap Simbolon.

Untuk ongkos tiket sudah digolongkan dan sudah tercatat di dermaga yang sekaligus rumah tempat tinggalnya. Untuk sepeda motor + pengendara Rp 5.000, sepeda motor beroncengan Rp 7.000, mobil pribadi + orang Rp 50.000, truk colt diesel Rp 100.000, anak sekolah Rp 1000, dan ongkos untuk satu orang hanya Rp 3.000.

Kapal
Tiket penyeberangan dilayani dari sini.(Foto/NINNA)

Saat NINNA ikut menikmati penyeberangan dari pulau Samosir menuju daratan pulau Sumatera, ternyata jarak yang ditempuh hanya 3 hingga 5 menit. Ini merupakan waktu tersingkat melintasi Danau Toba, bahkan tak sampai menghabiskan satu batang rokok.

Selama 10 tahun menjalani usahanya, semua menggunakan uang sendiri. Bahkan untuk penataan dermaga ia kembali merogoh kantong pribadi. Ada memang alat keselamatan seperti pelampung penumpung,  itupun baru dibagikan pasca tragedi kapal Sinar Bangun yang tenggelam di jalur Simanindo menuju Tigaras beberapa tahun lalu.

Walau angkutan kapal tidak pernah sarat dan nahkodanya diyakini sudah berpengalaman, ke depannya dia tetap mempersiapkan nahkodanya agar memperoleh sertifikat berlayar.

Kapal penyeberangan milik Simbolon ini telah mengantongi ijin pelayaran dari Kementerian Perhubungan dan selalu di bawah pengawasan tentang laik tidaknya melakukan pelayaran. Skala usahanya itu memang belum sebanding dengan penyeberangan KMP Tao Toba apalagi KMP Ihan Batak, namun tiap bulan ikut berkontribusi untuk pendatapan asli daerah Pemerintah Kabupaten Samosir.

Penulis          : Jogi Sianturi

Editor             : Mahadi Sitanggang

ARTIKEL TERKAIT

TERBARU