spot_img

Tidur Santai di Tipang Mas, tapi Banyak Sampah

NINNA.ID – Seharian saya di Baktiraja. Pertama ke Bakara. Lalu, lebih lama di Tipang. Saya rindu pada suasana penelitian bersama Balai Arkeologi Sumatera Utara pada September tahun lalu. Karena itulah, saya bersama keluarga datang kembali ke sana. Saya ingin bersantai merilekskan badan. Tentu, tidur dengan udara danau akan jauh lebih sejuk daripada angin biasa.

Saya memilih ke Tipang Mas. Saya membawa orang tua ikut serta. Ke Tipang Mas karena nama ini ikonik di telinga orang tua saya. Ceritanya begini. Jadi, dulu, di masa-masa saya kuliah belum ada televisi di rumah. Bahkan, kamar mandi. Semuanya dibuang di ladang belakang rumah. Karena tak ada televisi, maka satu-satunya sumber informasi kala itu adalah radio.

Di radiolah nama Tipang Mas terkenal, setidaknya bagi ibuku. Jadi, rupanya ibuku belum pernah ke sana. Kasihan juga sih. Orang Humbang tapi masih dua kali ke Baktiraja seumur hidupnya? Karena itu, akhirnya, jadilah kami pergi ke sana. Respon ibuku adalah: ininya Tipang Mas? Saya tahu arti respon itu. Sebab, baginya, jika sudah masuk radio, maka akan lebih wah dan megah.

Kata ibuku, tempat ini sangat menyenangkan. Cuma satu kelemahannya kata ibuku, yaitu danau penuh sampah, jorok, dan banyak eceng gondok. Aku menantang ibu: emangnya rumah kita bersih? Ibu ternyata punya jawaban. Ini kan tempat wisata. Kalau rumah, apalagi petani, wajar gak kinclong. Gak sempat mengepel karena mending ke ladang. Jawab ibuku. Ia cerdas ternyata.

Tipang Mas ini, ibuku mulai tak bisa dihentikan mengkritik, adalah tempat wisata. Hak mereka sih untuk kotor karena ini lahan mereka. Tetapi, kewajiban mereka untuk menjaga danau karena ini bukan danau mereka. Apa susahnya membersihkan eceng gondok ini? Ibuku mulai ketus. Bu, soal eceng gondok ini, itu bukan urusan Tipang Mas. Itu urusan pemerintah, kataku.

Na oto do huroa ho, kata ibu secepatnya. Kotor rumahmu, berarti tugas pemerintah? Ibaratnya, ini kan lahan Tipang Mas. Harusnya mereka membersihkan ini, tegasnya. Aku tertawa dan memberi jawab. Bu, membersihkan eceng gondok ini susah. Airnya dalam. Butuh kerja keras, kataku. Ibuku mulai terlihat emosi. Ia mulai menguatkan suaranya. Lihat kerambah ke tengah danau!

Aku pun melihat. Dan, ibu melanjutkan, kalau mereka bisa membuat kerambah, apa susahnya membersihkan eceng gondok? Gak wajar bisa membuat kerambah dan membuat kapal apung ini tapi mereka gak bisa membersihkan eceng gondok. Itu namanya malas dan tak peduli. Lihat, banyak kali ikan ini diambil dari kerambah. Tak perlu seratus kilo ikan untuk menggaji orang membersihkan pinggir danau ini.

TERKAIT  Festival Meriam Bambu pada Natal & Taon Baru di Tanah Batak

Emang mereka tak peduli. Mereka hanya peduli dapat banyak ikan, menjatuhkan banyak pelet, lalu membuang sampah. Hanya untuk buang sampah jadi tugas pemerintah? Untuk apa kalian sekolah-sekolah tinggi jika membersihkan yang jadi kewajibanmu saja tak bisa? Ibuku benar-benar marah. Ia emosi sekali. Janganlah jadi manusia serakah. Ini namanya serakah, kata ibuku.

Jangan kuat-kuat, ma, kataku menenangkan. Tapi, ibuku tetap saja nyerocos. Hanya memang, suaranya mulai pelan. Makin pelan. Dan, semakin jarang. Tapi, aku tahu dari wajahnya, ia marah. Dan, lamat-lamat aku berpikir. Emang masuk akal sih bahwa kebersihan danau, terutama lahan warga adalah kewajiban warga. Berapa banyak sampah yang mereka buang dan berapa uang yang mereka hasilkan?

Mengapa tak mereka sisihkan sedikit untuk membersihkan eceng gondok ini? Mengapa bisa membeli berton-ton pelet tapi tak bisa membuang sampah dan membersihkan danau. Aku malu. Ibuku ternyata lebih pintar. Pulanglah kita Bu? Tanyaku. Ibuku menggeleng. Kita tidur di sini saja dulu. Nanti agak sorean baru kita pulang. Enak tidur diembus angin dan digoyang ombak danau, kata ibuku.

Dan, kami pun golek-golek. Rasanya memang wah. Nyaman. Damai. Hanya, sesekali bau sampah itu menguat. Dan, itu cukup mengganggu. Andai tak ada bau sampah yang merusak hidung dan pemandangan, suasana akan lebih sempurna. Dalam hati aku berandai-andai. Jika saja semua pemilik kerambah ini sepeduli, pasti tahu berterima kasih ke danau dengan menjaga kebersihan.

Sebab, rasanya memang setimpal sih. Masakan kita hanya mengambil tapi tak pernah memberikan? Saya tiba-tiba ingat dengan kolam leleku. Kebetulan saya pernah membuat kolam lele. Saya sering membersihkannya. Nah, kerambah di sini tak pernah dibersihkan. Air danau membersihkannya. Jadi, bau yang mereka berikan sebenarnya sudah melimpah dan mencemari danau.

Untunglah danau ini baik. Danau itu masih memberi ikan yang gemuk meski ia tak dirawat. Kali ini, aku sepakat dengan ibuku. Tak semua jadi salah pemerintah. Ada bagian pemerintah. Ya, ada. Tapi, urusan sekecil ini sesungguhnya kesadaran warga. Seperti kata ibuku, hak mereka untuk tampil kotor. Tapi, kewajiban mereka untuk membersihkan apa yang sudah mereka kotori. Ternyata, untuk bijaksana tak perlu harus sarjana, ya.

 

Penulis     : Riduan Pebriadi Situmorang
Editor        : Mahadi Sitanggang

ARTIKEL TERKAIT

TERBARU