Parapat, NINNA.ID-Pengusiran dan perlakuan kasar kepada pengunjung kembali terjadi oleh penjaga di Pantai Mess Marihat Pemprovsu Pesanggrahan Soekarno Parapat, Kelurahan Tigaraja, Kecamatan Girsang Sipanganbolon, Kabupaten, Simalungun.
Hal ini dirasakan langsung oleh keluarga A. Damanik (35), warga Kelurahan Girsang saat berkunjung di pantai Pesanggrahan Mess Marihat Pemprovsu, pada Rabu 3 Januari 2024.
Dibeberkan A. Damanik kepada awak media bahwa mereka datang rombongan dan tidak semua bersamaan. Akan tetapi, keluarganya yang lebih dahulu sampai langsung dihardik oleh penjaga pantai. Para penjaga pantai mengharuskan rombongan tersebut untuk sewa tikar.
“Karena rombongan keluarga kami belum semua datang maka rombongan yang duluan sampai belum bisa ambil keputusan, berapa dan sebelah mana ngambil tikarnya,” ujar A. Br Damanik, Jumat 5 Januari 2024 menceritakan kronologis kejadian.
Akan tetapi, karena mereka belum menyewa tikar, keluarga Br. Damanik dimarahin dan diusir oleh penjaga pantai tersebut.
“Awalnya kami datang dan langsung ke kamar mandi. Datang penjaga pantai itu nawarin tikar 150ribu untuk 2 tikar. Tapi kami menyuruh ibu penjaga pantai itu untuk bersabar karena kami masih menunggu saudara. Tapi dia marah dengan mengatakan di pantai tersebut harus sewa tikar dan ban. Tidak boleh mandi gratis dan duduk gratis di pantai itu. Dia mempermalukan kami dengan berteriak, memanggil temannya untuk menjaga dan memarahi kami, ” ujar Br Damanik
Selanjutnya pengakuan Br Damanik, saat mereka dimarahin, seorang laki laki dan wanita penjaga pantai yang datang, juga ikut mempermalukan dan memarahi rombongan keluarganya serta disepelekan dan direndahkan dengan mengatakan keluarga tersebut tidak punya uang.

“Ooo..gak bawa uang kalian ya! Gak ada uang kalian ya, ya udah silakan mandi!” ucap penjaga pantai ditirukan Br Damanik.
Dari peristiwa itu Br Damanik mengaku sangat tersinggung terhadap sikap dan kalimat yang dilontarkan para penjaga pantai itu, karena mereka tidak sepantasnya sekasar itu bicara sebagai pelaku wisata.
Hal senada disampaikan E. Damanik (30) juga menuturkan hal yang sama terkait buruknya sikap serta arogannya pengelola dan penjaga pantai di Pesanggrahan Soekarno tersebut.
”Kita sudah bilang masih menunggu keluarga lain, tapi mereka memaksa dan melontarkan kata-kata yang kurang pantas, (kalo tidak ada uang, gak usah liburan kesini, masa perantau tidak ada uangnya). Saya pikir itu adalah bahasa yang kurang enak didengar oleh para wisatawan apalagi kami juga orang Parapat,” tutur E.Damanik.
Penulis: Damayanti Sinaga
Editor: Damayanti Sinaga



