spot_img

BAGIAN I

Terjadinya Sarune Etek

NINNA.ID – Banyak masyarakat Batak Toba tidak mengetahui kalau musik tradional yang terdiri dari Sarune Etek dan Hasapi (kecapi) adalah musik pertama Batak Toba. Pemahaman itu muncul berdasarkan kebiasaan orang Batak ketika melakukan acara suka maupun duka sering memainkan musik kecapi dan serunai.

Pada zamannya Godang Hasapi (gendang kecapi) dimainkan hanya pada acara ritual yakni acara memanggil roh nenek moyang terdahulu yang disebut Simangot Silaon Nabolon. Simangot silaon nabolon maksudnya roh nenek moyang paling atas pada satu garis keturunan marga.

Kembali ke alat musik tradisional, maka timbullah pertanyaan apa itu Gondang Hasapi? Dari mana pula asalnya? Begini ceritanya.

Mulanya dikisahkan, ada seorang pengembala yang selalu kreatif terhadap lingkungannya. Sekali waktu dia melihat sebatang pohonDurame (padi) lalu memecahkan bagian ruas batang padi tersebut, dipulos (diremas).

Lalu ditiupnya batang padi tersebut sehingga mengeluarkan bunyi-bunyian. Namun bunyinya sangat rendah.

Penasaran, dia berpikir untuk melobangi batang padi tersebut dan setelah ditiup, bunyinya semakin tinggi. Lalu dia kembali kembali menambah lobang pada batang padi itu, berharap menghasilkan nada lebih tinggi lagi. Dan ternyata benar juga, batang padi yang telah dilobangi bisa bermelodi walapun pada saat itu belum mengenal tangga nada.

TERKAIT  Filosofi Rumah Tradisional Batak Toba (5)

Entah kenapa tanpa disengaja batang padi yang sudah mengeluarkan bunyian tadi terjepit dan akhirnya rusak. Maka dia berpikir untuk melakukan hal yang sama ke bambu kecil. Setelah itu, dia meniup bambu yang sudah dilobangi dan menghasilkan bunyi yang lebih nyaring dari batang padi.

Tidak cukup sampai di situ, si pengembala tadi semakin penasaran. Tidak puas hanya di wadah bambu, dia mencoba membuat hal yang sama dengan bahan dari kayu. Perlakuan yang sama pun dilakukan pada kayu, tapi tetap menggunakan bambu sebagai alat tiupnya.

Setelah ditiup, bunyinya malah tidak sebaik dengan bahan bambu sebelumnya. Maka kembali dia mencoba menambah sambungan semacam cerobong. Berhasil, suaranya nyaring dan menggelegar.

Pada saat dia menemukan nada di batang padi, disebut Sarune Eme dan pada bambu disebut Sarune Bulu. Ditingkatkan lagi ke kayu disebutlah Sarune Etek yang terdiri dari Itit, Ambongambong, Porda dan Sangar.

Itit bahan yang mengekuarkan bunyi, Ambongambong terbuat dari tempurung kelapa, gunanya untuk nenahan bibir ketika meniup serunai. Kayu yang dilobangi disebut Porda, fungsinya untuk membagi nada dan Sangar fungsinya untuk memperkuat suara serunai.

 

Penulis    : Aliman Tua Limbong
Editor       : Mahadi Sitanggang

ARTIKEL TERKAIT

TERBARU