spot_img

Tenun Ulos Batak Masuk Pasar Mode

NINNA.ID – Sempat terkesan ditinggalkan, kini generasi muda Batak kembali bergairah menjadi petenun ulos. Tentu saja faktor kenaikan harganya yang fantastis dan masuknya ulos ke pasar mode, menjadi daya tarik tersendiri.

Lesunya pasar ulos, membuat sektor ini tidak mampu memberikan kesejahteraan kepada para petenunnya. Harga ulos berkualitas yang sebelumnya di kisaran Rp 650 ribu, setelah masuk ke industri mode, meroket hingga Rp 7 juta rupiah.

Wajah Nurmasito Sihombing (38) tampak riang saat menenun ulos di Desa Enda Portibi, Kecamatan Siatas Barita, Kabupaten Tapanuli Utara, Sumatera Utara, Selasa (12/10/2021). Jemarinya bergerak lincah di antara benang untuk membentuk motif ulos Tumtuman berwarna putih dengan corak merah.

 

industri mode3
Jemari Nurmasito Sihombing (38), lincah teliti menyusun benang saat menenun ulos di Desa Enda Portibi, Kecamatan Siatas Barita, Kabupaten Tapanuli Utara, Sumatera Utara, Selasa (12/10/2021).(Foto:kompas/niksonsianga)

”Ulos Tumtuman sekarang sedang tren sebagai bahan sarung dan selendang pengantin serta untuk koleksi. Ulos yang saya tenun ini dipesan perancang busana Torang Sitorus,” kata Nurmasito.

Tenun ulos di sejumlah daerah di kawasan Danau Toba mulai menggeliat dalam beberapa tahun ini setelah ulos masuk ke industri mode (fashion). Dengan penghasilan yang lebih baik, pekerjaan sebagai petenun kini semakin diminati masyarakat di kawasan Danau Toba.

Pagi itu, Nurmasito ditemani oleh petenun ulos yang masih muda dari Kecamatan Sipoholon, Tapanuli Utara, Irawati Simorangkir (32). Mereka membentuk kelompok petenun ulos untuk menghasilkan ulos yang lebih berkualitas agar bisa masuk ke industri mode dan koleksi kain bernilai tinggi.

Ia belajar menenun dari mertuanya. Pekerjaan menenun pun digeluti karena dia tidak punya pilihan lain. Partonun, begitu mereka biasa disebut, sempat menjadi istilah yang sangat identik dengan kemiskinan.

Partonun ini sebenarnya seniman, sama seperti pelukis dan penyanyi. Mereka menghasilkan produk seni bernilai tinggi.

 Sebelumnya, Nurmasito menenun ulos yang digunakan untuk satu setel sarung dan selendang selama dua pekan. Dengan pengerjaan yang rumit, ia hanya mendapat Rp 650.000-Rp 1 juta untuk satu setel bahan sarung dan selendang. Padahal, modal untuk benang sudah Rp 300.000.

Jika bisa menenun dua setel ulos dalam sebulan, seorang petenun hanya mendapat sekitar Rp 1 juta. ”Padahal, kami mengerjakannya dari pagi hingga larut malam. Kami hanya beristirahat untuk makan dan membereskan pekerjaan rumah tangga,” katanya.

Nurmasito pun merasakan ketidakadilan ketika dia mengetahui ulos yang ia tenun dijual Rp 2,5 juta oleh tauke. ”Saya sangat miris melihat hanya dalam dua hari dia menjualnya lebih dari dua kali lipat dari harga yang saya terima. Padahal, saya menghabiskan waktu dua minggu untuk membuatnya,” katanya.

Nurmasito akhirnya bertemu dengan Torang Sitorus yang datang ke kampungnya. Torang menyebut bahwa ulos yang mereka tenun bisa dijual dengan harga lebih tinggi, tetapi kualitasnya harus diperbaiki.

Sebagaimana petenun lain, Nurmasito sebelumnya menenun ulos dengan kualitas seadanya. Mereka membagi dua bahan ulos untuk sarung agar pengerjaannya lebih cepat. Setelah selesai ditenun baru disambung dengan cara dijahit. Mereka juga menggunakan benang dan pewarna kualitas rendah serta motif yang disederhanakan.

Setelah memasuki industri mode, kain ulos kembali ditenun dalam satu lembar kain utuh. Benang yang digunakan adalah benang berkualitas, seperti katun mercerized. Beberapa petenun menggunakan benang yang diimpor dari Jepang dan India.

Petenun juga menggali kembali motif ulos tradisional. Pengerjaannya pun lebih lama, bisa memakan waktu hingga satu bulan. ”Ada beberapa motif yang lagi tren saat ini, seperti Tumtuman dan Bintang Maratur,” kata Nurmasito.

TERKAIT  Maragat dan Minum Tuak, Kearifan Lokal Masyarakat Batak
Industri mode
Irawati Simorangkir (32) dan Nurmasito Sihombing (38) menenun ulos di Desa Enda Portibi, Kecamatan Siatas Barita, Kabupaten Tapanuli Utara, Sumatera Utara, Selasa (12/10/2021).(Foto;kompas/niksonsinaga)

Irawati adalah salah seorang anggota kelompok yang bergabung dengan Nurmasito. Meski masih muda, ia bersemangat karena harga yang ia dapat cukup setimpal dengan kerja kerasnya. Satu setel ulos Tumtuman yang biasa digunakan untuk sarung dan selendang ia jual Rp 6,5 juta.

Namun, ketika pasar untuk pakaian pengantin lesu karena pandemi Covid-19, harganya sempat jatuh hingga Rp 5 juta. ”Namun, harga itu masih cukup baik untuk kami. Saat ini, semakin banyak anak muda yang mencoba belajar bertenun ulos,” katanya.

Irawati sangat puas dengan kualitas ulos yang ia hasilkan. Ia menunjukkan ulos Tumtuman yang sudah selesai ia tenun dan membandingkannya dengan ulos sebelumnya. ”Ini kainnya lebih lebar, benangnya lebih bagus, dan terutama motifnya lebih cantik,” katanya.

Kain bernilai tinggi.
Torang Sitorus mengatakan, pasar untuk kain ulos dengan kualitas yang baik saat ini sangat terbuka lebar. ”Ulos dengan kualitas baik kini bisa memasuki industri mode dan sebagai koleksi bernilai tinggi,” kata Torang.

Torang menambahkan, satu-satunya cara untuk menjaga keberlanjutan budaya tenun ulos adalah dengan memperbaiki kesejahteraan para petenunnya. Saat ini, Torang mengampanyekan program Partonun Artisan yang memosisikan petenun sebagai seorang seniman.

Partonun ini sebenarnya seniman, sama seperti pelukis dan penyanyi. Mereka menghasilkan produk seni bernilai tinggi,” katanya.

Menurut Torang, ulos harus masuk ke pasar kain bernilai tinggi. Ia, misalnya, membuat geleri ulos di Medan. Pasar utamanya adalah sosialita, kolektor kain, pemakai, serta pengantin di Medan dan Jabodetabek. Tahun depan, Torang berencana memasarkan ulos ke rumah mode di luar negeri.

Dengan penjualan hanya di dalam negeri saja, omzet penjualan ulos Torang sudah mencapai Rp 1,5 miliar per bulan. ”Lebih dari 80 persennya diterima oleh petenun ulos,” kata Torang.

Menurut dia, saat ini para petenun ulos dengan kualitas yang baik bisa mendapat Rp 7 juta per bulan, hampir tiga kali lipat dari upah minimum provinsi di Sumut. Pendapatan itu juga jauh lebih tinggi dibandingkan pendapatan petenun yang hanya menghasilkan ulos dengan kualitas seadanya.

Saat ini, sentra tenun ulos dengan kualitas yang lebih baik terus bermunculan, khususnya di Kecamatan Siatas Barita, Tarutung, Sipoholon, Muara (Tapanuli Utara), dan Silaen (Toba). Para petenun pun kembali menggali keaslian ulos, bahkan beberapa mulai mencoba kembali pewarna alami yang dulu digunakan untuk ulos.

Di Muara, semakin banyak petenun yang membuat ulos Harungguan, ulos dengan motif yang lebih rumit dan ukuran yang lebih besar karena menyatukan semua motif ulos Batak.

Namun, masih banyak petenun yang tetap bertahan menenun ulos dengan kualitas seadanya. Mereka hanya menyasar pasar pemakai di Sumut sehingga harganya tidak setimpal dengan waktu dan tenaga yang mereka keluarkan.

Torang berharap semakin banyak petenun yang beralih menjadi petenun partisan. Untuk beralih, mereka perlu mengganti alat tenun, menggunakan benang berkualitas, serta terus menggali dan mempelajari pembuatan motif asli ulos yang masih sangat banyak terpendam.

”Karena roh dari pelestarian budaya itu adalah mempertahankan keaslian, mengikuti perkembangan, dan tidak meninggalkan akar,” kata Torang.

 

Sumber    kompas.id
Editor         : Mahadi Sitanggang

https://www.kompas.id/baca/nusantara/2021/10/21/industri-mode-bangkitkan-kembali-tenun-ulos?status=sukses_login&status_login=login

ARTIKEL TERKAIT

TERBARU