spot_img

Mencari Jejak Dinasti Sisingamangaraja (Penggalian Hari ke Empat)

Tentang Temuan Kerangka Yang Bisa “Bicara”

NINNA.ID – HUMBAHAS

Pagi dibuka dengan awan yang sepertinya bocor halus. Titik titik air jatuh perlahan. Orang menyebutnya gerimis. Tetapi, aku menyebutnya berbeda. Apa sebutan saya tentang fenomena yang kalian sebut gerimis itu? Bacalah perlahan, kamu pasti akan mengerti.

Begini! Hari ini, saya dan dan beberapa tim tak ikut naik ke penggalian. Kami mendampingi Bapak Kepala Arkeologi ke Dinas Pariwisata Humbang Hasundutan. Kebetulan, Kadis Pariwisata Humbang Hasundutan juga dijabat oleh Kadis Pendidikan. Maka, kami menjumpainya di perkantoran Kadis Pendidikan setelah dijamu oleh Bu Dame di perkantoran Dinas Pariwisata.

Setelah minum, kami kemudian didampingi Bu Dame dari Dispar ke Perkantoran Dinas Pendidikan. Di sana, kami juga disambut sangat ramah oleh Dinas Pendidikan. Sajian pun lebih beragam. Ada kopi, ada teh manis, ada bandrek. Saya memilih yang lain, air putih saja. Lama sekali kami berbincang dengan Kadis Pendidikan. Tampak ia cukup antusias.

Setelah itu, Bu Dame tetap setia mendampingi kami. Kali ini, kami diantar ke Huta Janji di Doloksanggul. Huta Janji di Doloksanggul cukup menarik. Konon, keturunan Raja Sisingamangaraja Kelima (Raja Pallongos) ada di sana. Cerita keturunan Sisingamangaraja V yang memilih keluar dari basis kerajaan di Bakara tentu menarik untuk ditelusuri.

Seperti diketahui, pada stempel resmi Dinasti SM Raja, ada dua nomenklatur: “Na Sian Bakara” kalau tinggal di luar Bakara dan “Na Mian di Bakara” kalau tinggal di Bakara. Mengapa keturunan Sisingamangaraja ini memilih keluar dari Bakara dan tinggal di ketinggian di Huta Janji Doloksanggul? Apakah karena ia tak terpilih melanjutkan kedinastian atau ingin berkelana lebih jauh seperti lazimnya seorang pangeran?

Kita tak tahu alasan yang pasti. Tetapi, dulu, Bakara adalah jalur perdagangan. Bakara adalah titik persinggahan sebelum naik ke Doloksanggul untuk kemudian terus bergerak menuju Barus. Dalam perjalanan menuju Barus itu, barangkali ia lewat dan mungkin singgah di titik-titik tertentu.

Pertama, menurut kisah yang pernah didengar Plt.Kadis Perpustakaan Adrianus Mahulae, konon di Dolok Pinapan, Sisingamangaraja sering bertapa dan mengambil banyak emas di sana. Perlu dicatat, Dolok Pinapan menyimpan banyak kisah mitologi. Apakah Sisingamangaraja sudah menaklukkan hal hal mistis di sana? Seberapa penting atau bahkan seberapa kaya Dolok Pinapan sehingga Belanda sudah membangun jalan ke sana?

Konon, Dolok Pinapan masuk pada radar register Belanda. Konon pula, Sisingamangaraja datang ke sana untuk mengambil kekayaan. Artinya, Dolok Pinapan tidak sebatas gunung.

Diketahui banyak orang, Sisingamangaraja adalah orang suci. Ia tak membunuh. Ia bahkan didefinisikan dengan ringkas, Siharhari Na Dapot Sambil, Sirungrangi Na Dapot Bubu. Ia pembebas. Lalu, kita bertanya, dari mana uang SM Raja untuk tidak saja hanya biaya operasional kerajaan, tetapi juga untuk membayar utang rakyat? Apakah betul Sisingamangaraja mendapat uang dari Dolok Pinapan? Apakah karena Dolok Pinapan kaya, maka Belanda membangun jalan ke sana?

Banyak pertanyaan untuk dijawab. Satu yang pasti, kata Bontor Sinambela, keturunan SM Raja Kelima (menurut saya keempat jika memang leluhur mereka adalah saudara Raja Pallongos sebagai SM Raja V) meninggalkan Bakara untuk mencari Appaga Na Lomak (kehidupan yang lebih baik). Maka, ia pun naik ke Doloksanggul. Semula, ia berdiam di Sosorgonting, tepat di atas Bakara. Lalu, ia pindah ke Janji di Doloksanggul.

Sewaktu di Janji, ada dua sosok, bermarga Sianturi dan Pane. Kedua marga ini konon berperang melawan Marga Purba. Bukan tugas kita mencari siapa yang salah. Sebab, jika kita lacak sejarah, leluhur kita memang hobi berperang. Kadang, kepemilikan kampung terjadi karena perang.

Nah, kedua marga ini lantas meminta suaka pada keturunan SM Raja. Keturunan SM Raja menerima.

Namun, tak ada yang betul betul stabil. Damai tak selalu awet. Justru, dibaca sekilas, perang adalah alat untuk damai. Aneh memang. Tetapi, coba bertanya pada tentara, apakah senjata dipikul untuk berperang atau untuk mencari damai? Aneh bukan? Memang, begitulah kehidupan. Jika tak aneh, maka seolah tak hidup. Jika tak perang, maka seolah kedamaian tak akan pernah hadir.

TERKAIT  Selain Janda, Batak Mengenal  Beberapa Status Untuk Wanita Menikah

Keturunan Sisingamangaraja sebenarnya aman-aman saja. Namun, Sang Kerajaan tetap menjaga dan memastikan keamanan warga kerajaan. Maka, Sanggapati pun diberikan kepadanya di Desa Janji. Sanggapati adalah penjaga kampung. Ia berbentuk patung. Ia serupa satpam. Ia akan menghalau tamu-tamu tak diundang.

Tetapi, tentu saja Sanggapati tak sebatas patung. Fungsi Sanggapati adalah menjaga kampung dari kekuatan kekuatan yang tak terlihat.

Sanggapati
Sanggapati, benda magis yang konon menjadi penjaga kampung dari gangguan supranatural.(Foto:Balar Sumatera Utara)

Sains belum bisa mengukur kekutan tak terlihat sehingga sains lebih aman untuk mengganggapnya tidak ada. Tetapi, terbukti di masa lalu, jika ada Sanggapati, maka termasuk amanlah sebuah kampung.

Saya tak sedang mengajak anda untuk tak percaya pada hal-hal mistis atau sebaliknya. Mistis terlalu besar sebagai fakta untuk ditolak. Walau begitu, mistis juga terlalu besar untuk diterima. Ukuran kepala kita terbatas. Jadi, mari berbicara hal hal realistis saja. Mari kita batasi diri kita dari hal-hal mistis. Maksud saya, jangan kiranya meminta kebenaran dari mistis. Kepala kita terbatas bukan? Jangan pula menjadi bodoh karena mistis. Kepala kita kecil bukan?

Oh, iya, saya sangat tertantang untuk menulis kisah Sanggapati SM Raja di Janji Doloksanggul. Kiranya ada fasilitator untuk mewujudkannya. Mungkin, bisa dinas Pariwisata. Bisa juga Dinas Perpustakaan. Bisa juga yang lain. Sebab, sejauh penglihatan saya, kisah Sanggapati cukup menarik. Tekstur Sanggapatinya juga cukup unik dibandingkan yang lain, lembut. Kata orang, dipengaruhi budaya Hindu.

Lebih menariknya menurut saya adalah, supaya kisah SM Raja tak selalu di Bakara. Kisah di luar Bakara perlu juga diekspose. Misalnya, bagaimana bisa banyak Sinambela Tuan Nabolas pergi ke Desa Habeahan di Lintong dari Simangulampe di Bakara? Satu yang pasti, yang harus diingat, Humbang mampu menyumbang pahlawan Nasional. Bagaimana kita memaknainya?

Sementara kami berada di sanggapati di Desa Janji, temuan temuan di Huta Ginjang Dolok semakin menarik. Belulang hewan dan sekitar 7 individu sudah ditemukan di kotak-kotak galian. Apakah mungkin hewan dan manusia pernah mati bersamaan kala itu? Apakah mungkin pernah terjadi longsor? Oh, iya, dalam sebuah penelitian, tanah di Lintong konon katanya sudah berumur 6.000 tahun untuk pertanian.

Jika penelitian itu tak keliru, mungkin permukaan danau dulu sampai di pinggiran Lintong. Apakah mungkin mereka pernah tenggelam atau ditenggelamkan lalu tertimbun di dasar danau yang kini menjadi kering dan berada di pinggang bukit di Huta Ginjang Dolok? Biar sains saja yang menjawabnya. Biar kita rela untuk terbuka pada sains. Jangan merasa kerangka tak bisa bicara. Ia bisa bicara asal kita rela mendengar.

Arti rela mendengar adalah, izinkan peneliti untuk objektif. Izinkan peneliti untuk keluar dari mistis. Peneliti sekali lagi bukan petambang. Mereka menggali bukan untuk mengambil. Mereka menggali untuk memberi kepada pemilik asli. Sekali lagi, ingat, kerangka bisa bicara kok asal kita siap dan izin.

Saya ingin cerita lebih banyak lagi. Namun, petang akhirnya telah tiba. Kami tepat berada di Desa Habeahan menjumpai seorang Sinambela dari Tuan Nabolas. Dari sana, cerita mengalir. Awan pun kembali bocor. Kali ini tidak sehalus tadi pagi walau kamu tetap menyebutnya gerimis. Namun, bagiku, ini bukan gerimis. Bagiku ini ilham untuk dituliskan. Siapa bisa membantu? (Penulis adalah Riduan Pembriadi Situmorang, Guru SMA Negeri 1 Doloksanggul, yang ikut dalam Tim Balai Arkeologi Sumatera Utara)

Editor    : Mahadi Sitanggang

 

ARTIKEL TERKAIT

TERBARU