spot_img

Tentang Oleh-Oleh Jepang di Danau Toba

NINNA.ID – Saya mau ikut keramaian. Ini tentang ikan mujahir. Kebetulan, ada Leo Situmorang. Ia seorang intelektual. Katanya begitu. Konon, ia lulusan pascasarjana. Jadi, ia intelektual. Apalagi ia ketua umum pada sebuah ormas. Namanya bahkan mencomot kata intelektual. Jadi, mari tak usah meragukan intelektualnya. Itu bukan kapasitas kita.

Nah, kata Leo Situmorang, ikan mujahir itu ikan hama. Entah mengapa ia berkata begitu. Apa karena Hotman Paris Hutapea doyan makan ikan hama itu? Entahlah. Yang pasti, ibunda Leo Situmorang adalah orang istimewa. Di masa kecilnya, Leo tak pernah diberi ikan mujahir oleh ibunya. Luar biasa. Dikatakan luar biasa karena ikan ini ikan sejuta umat.

Masyarakat Batak di kawasan Danau Toba bahkan konon hidup dan kaya dari ikan mujahir. Jadi, dilihat dari logika Leo Situmorang, mereka ini hidup dari hama. Saya sih setuju saja sama Leo. Itu cara pandang yang bisa diterima. Toh, di Australia, jangankan ikan mujahir, ikan mas saja disebut hama. Padahal, di Tanah Batak, ikan mas istimewa.

Ia lebih istimewa dari ikan mujahir. Seumur-umur, saya tak pernah melihat ikan tersebut sebagai ikan adat. Hula-hula selalu membawa ikan mas, bukan ikan mujahir. Namun, apakah kita tahu, ikan mas sebenarnya juga bukan ikan adat. Sebelumnya, ikan adat adalah ihan Batak. Ikan Ihan Batak ini adalah ikan asli di Danau Toba. Sayang, ia kalah beradaptasi.

Makanya itu, jumlahnya makin menyusut. Lama-lama mungkin akan punah. Karena itu, kita takjub pada orang yang peduli akan nasib ihan Batak. Ada Swarno Lumban Gaol, misalnya, di Bakara. Ia juga intelektual. Ia lulusan pascasarjana. Karena itu, ia merawat ikan ihan Batak. Ia tak merawat ikan mujahir. Mungkin, baginya, ikan itu adalah ikan hama juga.

Namun, Swarno mencari ekspresi berbeda dengan intelektual Leo Situmorang. Swarno tak memberantas hama. Ia lebih memilih untuk merawat bibit. Sebab, ia tahu, jika bibit ini tak dirawat, ia akan kalah dari hama. Memang, begitulah faktanya. Sejak kedatangan ikan mujahir dan sejenisnya, ikan lokal mulai kalah beradaptasi. Mereka seperti dijajah.

Baiklah, mari langsung berbicara layaknya intelektual. Seperti Leo Situmorang itu. Atau, kalau ogah, seperti Swarno Lumban Gaol. Maksudnya intelektual, mari berbicara data. Data itu begini. Jadi, dalam penelitian Hadiaty yang dipublikasikan di Jurnal Iktiologi Indonesia 2011, sebelumnya ada 86 spesies ikan yang dulu hidup di danau-danau aliran sungai Cisadane.

Kini, lebih dari separuh tak nampak lagi. Sekarang hanya tinggal 24 spesies saja. Tren yang sama terjadi di hampir semua ekosistem perikanan danau, termasuk Danau Toba. Jadi, karena ikan mujahir dan juga ikan mas, Ihan Batak dan ikan lokal lainnya mulai kalah beradaptasi. Ihan Batak semakin susah ditemukan. Jumlahnya tak memadai lagi.

TERKAIT  Filosofi Hariara bagi Orang Batak

Hingga kemudian, diambil jalur aman untuk situasi adat: menukar ihan Batak menjadi ikan mas. Dalam logika berpikir seperti inilah saya memahami ungkapan Leo Situmorang. Namun, di luar itu, saya percaya, ikan mujahir menjadi mesin ekonomi. Jika pun disebut sebagai hama, ia adalah hama yang baik dan menguntungkan. Menguntungkan sekali malah.

Karena itu, kreativitas seni di Tanah Batak pun turut dipengaruhi. Dalam sebuah lagu disebut, seorang mertua datang berkunjung. Ia membawa oleh-oleh. Oleh-oleh itu ikan mujahir. Dilihat dari segi adat, ini tak masuk akal. Namun, dilihat sebagai kreativitas seni, ini adalah fakta kuat bahwa ikan itu sudah tidak lagi dipandang sebagai hama.

Ikan mujahir itu sudah menjadi bagian dari kehidupan. Itu realitanya. Intelektual harusnya pandai membaca realita.

Bahwa ia adalah hama, benar. Tapi, tepatnya hama bagi ikan lainnya, bukan bagi manusia. Bahwa supaya ikan lokal lainnya tidak terserang hama mujahir, itu hanya soal teknis. Lagipula, bicara soal hama, kata seorang intelektual besar, manusia adalah hama yang sebenarnya kok.

Baik, mari kita akhiri. Ikan mujahir memang hama. Tapi bukan untuk manusia. Ia hama bagi ekosistem ikan lokal. Dan, itu akan jadi bahan pemikiran kita supaya bagaimana, misalnya, ikan ihan Batak tetap awet, ikan pora-pora tetap hidup, juga ikan gabus. Satu yang pasti, saya belum bisa membayangkan kalau-kalau ikan yang diklaim hama itu dimusnahkan dari Danau Toba.

Saya justru berpikir. Satu hal yang patut disyukuri dari kedatangan Jepang saat menjajah Nusantara adalah ketika mereka membawa oleh-oleh ikan mujahir ke Danau Toba. Sejak itu, tubuh masyarakat Batak mulai semakin bervitamin. Sebab, ikan temuan Moedjair ini kaya akan omega 3, protein seperti salmon. Macam-macam pokoknya.

Sayang, Leo Situmorang belum pernah memakannya. Jadi, jika saja ia mau, saya rela kok untuk mentraktir beliau. Rela sekali. Tinombur, panggang. Terserah. Bukan karena saya kaya. Ia lebih kaya dari saya. Saya sadar diri. Karena itulah saya mengulangi lagi bahwa syaratnya hanya satu: jika ia mau. Toh, kami semarga kok. Semoga dia punya waktu dan mau memakannya.

 

Penulis   : Riduan Pebriadi Situmorang
Editor       : Mahadi Sitanggang

ARTIKEL TERKAIT

TERBARU