Balige, NINNA.ID– Komunitas Prajurit Pariwisata Kawasan Danau Toba (KDT) menggelar kegiatan “Temu Akrab Tourism Soldier” di Cafe Rooftop Sapadia Hotel Lt. 4, Jalan Pemandian Balige, Jumat (22/5/2026).
Kegiatan ini mendapat dukungan dari Audi Murphy Sitorus selaku Wakil Bupati Toba dan menjadi ruang diskusi bagi pelaku serta penggerak pariwisata di Kawasan Danau Toba.
Berdasarkan surat Wakil Bupati Toba Nomor 556/438/Budpar/2026, kegiatan ini membahas tiga agenda utama, yakni konektivitas dan integrasi kepariwisataan di Kawasan Danau Toba, sinkronisasi produk dan pemasaran pariwisata, serta mendengar saran para pelaku wisata terkait tata kelola usaha pariwisata di kawasan tersebut.
Dalam diskusi, para peserta menyoroti pentingnya membangun kolaborasi antar pelaku wisata, komunitas, pemerintah, hingga pengelola usaha pariwisata.
Audi Murphy Sitorus menegaskan bahwa selama ini banyak daerah berjalan sendiri-sendiri sehingga promosi pariwisata tidak maksimal.
“Kalau kita berjalan sendiri, akhirnya kita saling menjatuhkan. Padahal wisatawan datang ke Danau Toba bukan hanya ke satu daerah saja. Karena itu kita harus saling mendukung,” ujar Murphy Sitorus.
Ia juga menekankan bahwa tujuh kabupaten di Kawasan Danau Toba harus mulai berpikir secara bersama dalam membangun destinasi wisata yang terintegrasi. Menurutnya, persaingan antar daerah justru dapat merugikan citra pariwisata Danau Toba secara keseluruhan.
Sementara itu, Kepala Dinas Pariwisata Toba Rikardo Hutajulu menilai kekompakan antar pelaku pariwisata menjadi hal paling penting dalam membangun sektor wisata Danau Toba.
“Kita harus kompak dulu. Kalau semua berjalan sendiri-sendiri, koordinasi akan sulit. Pariwisata ini tidak bisa dibangun hanya oleh satu pihak,” ujarnya.
Diskusi juga membahas peran berbagai unsur dalam dunia pariwisata, mulai dari pengelola usaha wisata, komunitas pariwisata, hingga para pemikir dan pemerhati pariwisata. Semua pihak dinilai memiliki peran penting untuk mendorong kemajuan Kawasan Danau Toba.
Pelaku usaha dan penggiat pariwisata Kawasan Danau Toba, Corry Panjaitan, mengatakan pentingnya membangun “ekosistem pariwisata” yang terhubung antar kabupaten di Kawasan Danau Toba.

Menurutnya, destinasi wisata tidak bisa berkembang jika setiap daerah hanya fokus pada wilayahnya masing-masing tanpa koneksi dan kolaborasi yang kuat.
Ia juga mendorong agar pemerintah daerah mulai mengajak investor lokal untuk membantu melengkapi dan membenahi destinasi wisata yang masih membutuhkan pengembangan.
Selain itu, Corry menilai perlu dilakukan inventarisasi seluruh destinasi dan potensi wisata di Kawasan Danau Toba agar dapat dipilih produk unggulan yang benar-benar siap dipromosikan secara bersama.
Dalam forum tersebut, ia juga berharap “Tourism Soldier” dapat berkembang menjadi forum independen berbasis gerakan bawah atau bottom up yang mampu menyuarakan aspirasi masyarakat dan pelaku wisata dari tiap kabupaten kepada pemerintah daerah hingga tujuh kepala daerah di Kawasan Danau Toba.
“Jangan lagi mengedepankan ego masing-masing kabupaten. Kita harus bicara bersama sebagai Kawasan Danau Toba,” katanya.
Corry turut menyinggung pentingnya keterlibatan Badan Pelaksana Otorita Danau Toba (BPODT) untuk menjembatani komunikasi antara warga lokal, komunitas, pelaku wisata, dan pemerintah daerah agar seluruh stakeholder dapat terhubung dalam satu visi pengembangan pariwisata.
Selain itu, peserta menilai pertemuan rutin seperti “Temu Akrab Tourism Soldier” menjadi langkah maju karena mampu mempertemukan berbagai pihak yang selama ini bergerak sendiri-sendiri.
“Kalau sering ada pertemuan seperti ini, kita bisa saling membantu. Kegiatan di satu daerah bisa didukung daerah lain,” kata peserta lainnya.
Dalam forum itu juga muncul harapan agar sektor pariwisata mampu memberi dampak ekonomi langsung bagi masyarakat, terutama generasi muda.
Seni budaya, tari, musik, hingga pertunjukan lokal dinilai dapat menjadi sumber penghasilan jika dikelola secara serius dan profesional.
Peserta mencontohkan bagaimana kelompok seni di beberapa daerah mampu hidup dari pertunjukan rutin untuk wisatawan.
Karena itu, Kawasan Danau Toba dinilai perlu menciptakan lebih banyak ruang pertunjukan budaya agar masyarakat lokal ikut menikmati manfaat pariwisata.
Selain membahas promosi dan atraksi wisata, diskusi juga menyinggung perlunya pengelolaan destinasi yang lebih terarah dan berkelanjutan.
Para peserta berharap pemerintah, komunitas, dan pelaku usaha dapat memiliki visi yang sama dalam membangun pariwisata Danau Toba.
Kegiatan “Temu Akrab Tourism Soldier” ditutup dengan ajakan memperkuat solidaritas antar pelaku wisata di kawasan Danau Toba demi menciptakan pariwisata yang maju, ramah, dan memberi manfaat nyata bagi masyarakat lokal.
Penulis/Editor: Damayanti Sinaga



