Tarutung: Kota tanpa Tarutung

BERSPONSOR

NINNA.ID – Kami mengambil satu scene di Lumban Siagian Julu dalam dokumentasi Na I Hasagian. Di sana, ada sebuah bangunan tua. Katanya dulu, sebagai sopo tempat para Naihasagian (partonun). Di sopo itulah satu scene Thompson Hs diwawancarai. Yang menarik bagi saya, sopo itu sudah bertarikh tua. Entah itu benar atau tidak.

Tapi, secara pasti, di sopo itu dibuat tulisan jelas: anno 1816. Anno adalah bahasa Latin. Sebenarnya adalah annus. Namun, bahasa Latin punya satu keunikan. Dalam tasrif declinatio, ada enam. Dimulai dengan nominativus. Arti mudahnya, sebagai asal kata. Berarti posisinya subjek. Nominativus banyak berakhiran “us”.

Kita misalnya sering mendengar kata domus, deus, annus. Kata-kata ini sering kita dengar berubah jadi berakhiran “o”. Yang paling sering mungkin kita dengar adalah deo dan juga anno. Kalau sudah berakhiran “o”, berarti tasrif bahasanya berubah dari nominativus ke tasrif lainnya: dativus dan ablativus. Kita terangkan sedikit.

Tasrif nominativus berakhiran us. Biasanya berarti subjek, seperti deus (dewa/Tuhan). Tasrif kedua, genetivus, berakhiran “i”. Genetivus berarti kepemilikan. Maka, jika Deus berubah menjadi dei, artinya tidak lagi dewa atau Tuhan saja. Dei sudah menjadi “milik Tuhan/dewa). Tasrif ketiga disebut dativus. Berakhiran “o”. Posisinya sebagai objek penyerta.

BERSPONSOR
tarutung 3
Rumah Naihasagian di Tarutung.(foto:riduan)

Sebagai penyerta, berarti ditambahkan dengan kata ini: pada, bagi, untuk. Jadi, jika deus menjadi deo, berarti ia menjadi kepada Tuhan. Karena itu, kita menyebut kemulian kepada Tuhan di tempat tinggi dengan kalimat gloria in excelcis deo. Tasrif keempat sebagai objek penderita. Ini berakhiran um. Berarti menjadi deum.

Tasrif kelima adalah vocativuas. Berakhiran us. Ini untuk memanggil, menegur, atau seruan. Berarti, kalau kita memanggil nama Tuhan, kita menyebutnya o deus. Dan, tasrif terakhir disebut ablativus. Ini adalah keterangan. Bisa alat, bisa pelaku, bisa tempat, dan tentu saja waktu. Ablativus berakhiran o. Maka, deus menjadi deo.

Pada posisi demikianlah kita harus membaca kata anno. Sebab, beberapa kali saya berjumpa dengan teman, jika ada kata anno, maka mereka selalu mengartikannya dengan tahun. Ada benarnya meski keliru. Padahal, kata anno ada dua kemungkinan, sebagai keterangan (ablativus) atau sebagai peruntukan (dativus).

TERKAIT  Jurnalis Sebaiknya Tidak Terlibat Parpol dan Menggunakan Jurnalisme Data Dalam Pemberitaan

Jika diakhiri dengan angka, maka sudah pasti ablativus. Dalam hal ini, tulisan anno 1816 pada sopo para naihasagian di Lumban Siagian Julu berarti sejak tahun 1816. Sopo itu berarti sudah 206 tahun. Mungkin seumuran dengan pohon ikonik di Tarutung, yaitu pohon durian yang dalam bahasa Batak disebut tarutung.

BERSPONSOR

Lumayan janggal. Kita tak pernah mengenal kota Tarutung sebagai penghasil durian. Bahkan, pohon ikonik di Tarutung, yaitu pohon durian yang sudah berumur 200-an tahun, tak sering berbuah. Jika pun berbuah, hasilnya tidak selalu lebih sedap daripada yang diperjualbelikan. Lalu, mengapa dibuat menjadi ikon kota Tarutung?

Tidak hanya ikon. Malah, Tarutung menjadi nomenklatur baru untuk Rura Silindung? Jawabannya ternyata bukan soal produksi buah-buahan, melainkan produksi kisah sejarah. Jadi, pada dahulu kala, para saudagar dari mana-nana membuat janji bertemu. Ibaratkan dalam bahasa sekarang, kita bisa merabanya dengan kalimat kekinian.

Katakan, misalnya, seseorang bertanya: di mana kita bertemu? Orang lalu akan menjawab: di bawah pokok durian atau tarutung inilah kita jumpa. Yang bertanya akan balik meminta: cepat serlok kan dulu (share lokasi). Setelah diserlok, kita klik tautan tersebut. GPS membawa kita ke pokok durian tersebut. Kira-kira begitulah dulu para saudagar berjanji bertemu.

Lama-lama, tempat itu jadi populer. Para pedagang berjanji berjumpa dan bertukar barang di sana. Namanya masih pasar ala barter. Orang makin banyak membuat janji bertemu. Dan, kian hari, meski pohon itu tak menghasilkan buah yang banyak, pohon itu menjadi bagian dari sejarah. Ia sudah menjadi saksi perdagangan.

- Advertisement -

Karena itu, pantas kita menyebutnya sebagai Kota Tarutung. Oh, iya. Kebetulan, dari gambar itu, terlepas benar atau tidak, sopo Naihasagian di Lumban Siagian Julu masih lebih tua karena bertarik 1816 daripada pokok durian yang masih bertarik 1877. Artinya, Tarutung masih nama yang baru untuk peradaban yang tua di sana.

 

Penulis   : Riduan Pebriadi Situmorang
Editor      : Mahadi Sitanggang

BERSPONSOR

ARTIKEL TERKAIT

TERBARU