Tarif Baru Mulai Ganggu Industri Sawit Sumatera Utara

BERSPONSOR

Medan, NINNA.ID-Produksi CPO (Crude Palm Oil) dan produk turunannya seperti RBDPO, Stearin, Olein, dan PFAD meningkat rata-rata 7% dibandingkan bulan sebelumnya.

Peningkatan ini sebenarnya wajar. Pada bulan Maret, produksi sempat turun karena bertepatan dengan bulan Ramadan dan libur Idul Fitri. Setelah hari raya selesai, permintaan kembali naik, dan produksi pun ikut meningkat.

Namun, kondisi ini belum tentu bertahan lama.

Dari hasil wawancara dengan beberapa pelaku industri, banyak yang justru pesimis. Mereka memperkirakan produksi sawit di kuartal kedua tahun ini (April–Juni) akan menurun 15–19% dibandingkan kuartal pertama. Kenapa?

BERSPONSOR

Karena muncul kebijakan baru dari Amerika Serikat di akhir Maret lalu: tarif impor sawit dinaikkan hingga 32%, ditambah lagi tarif tambahan sebesar 10%.

TERKAIT  Event Internasional di Danau Toba: Ketika Gemerlap Panggung Tak Mencerminkan Realitas
TARIF US BERDAMPAKTERHADAP EKSPOR2
Foto sekadar ilustrasi

Kebijakan ini membuat banyak pelaku usaha memilih menunggu dan melihat situasi sebelum memutuskan langkah berikutnya.

Masalahnya tidak hanya di Amerika. Negara-negara lain mulai ikut melakukan proteksi terhadap produk impor, termasuk sawit. Ini bisa memicu perang dagang, dan tentu saja menjadi ancaman serius bagi ekspor Sumut.

Padahal, industri sawit adalah salah satu penopang utama ekonomi Sumatera Utara. Jika ekspor terganggu, bukan hanya industri pengolahan yang terkena dampaknya, tapi juga para petani sawit di daerah.

Ke depan, nasib industri ini sangat tergantung pada hasil negosiasi dagang antarnegara. Jika kesepakatan tidak menguntungkan, bukan tidak mungkin roda ekonomi Sumut akan melambat.

Penulis: Benjamin Gunawan
Editor: Damayanti Sinaga

BERSPONSOR

ARTIKEL TERKAIT

TERBARU