Tanah di Kawasan Danau Toba Terlalu Tinggi Nilainya Untuk Tanam ‘Jagung Mandul’

Samosir, NINNA.ID-Demikian kata-kata Velisia Sitanggang, Ketua Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Samosir dan Ketua Indonesian Diaspora of Americas saat ia melihat banyak lahan dikonversi menjadi ladang jagung.

Ia sangat menyayangkan masyarakat di Kawasan Danau Toba lebih memilih menanam jagung ketimbang kopi, coklat dan komoditi yang harganya lebih mahal dan memang “rumah”nya komoditi mahal tersebut.

“Tanah di Kawasan Danau Toba itu tanah vulkanik sangat subur cocok untuk high quality agro products. Mengapa tanam tanaman murah seperti ‘jagung mandul’? Seharusnya lahan yang subur ini ditanami komoditi yang memang cocok dan bernilai mahal. Jagung tanaman dataran rendah, tidak harus di bukit, gunung. Sayang sekali Tanah Batak ini dipenuhi jagung mandul melulu dimana-mana,” jelasnya kepada NINNA pada saat ia mengadakan Festival Pulang Kampung beberapa bulan lalu.

Jagung mandul istilah yang ia gunakan menggambarkan jagung yang setelah dipanen tidak bisa dijadikan bibit.

Jagung tersebut hanya bisa sekali tanam. Salah satu contohnya merek Pioneer dan jagung hibrida merek lainnya yang beredar di pasar.

Dampak Penanaman Jagung

Sekalipun bagi masyarakat jagung memberikan imbal hasil lebih cepat ketimbang menanam kopi dan kakao, jagung berdampak buruk terhadap tanah.

Apalagi bibit jagung hibrida mengandung GMO atau genetically modified organism.

BERSPONSOR

GMO makhluk hidup yang DNA-nya dimodifikasi dengan teknologi rekayasa genetika.

Menurut situs kesehatan, rekayasa genetika sekalipun dapat mempercepat dan meningkatkan produksi tanaman, GMO juga menurunkan nilai gizi produk.

Jagung-jagung yang ditanami masyarakat di Kawasan Danau Toba tidak nikmat untuk dikonsumsi.

Jagung-jagung tersebut ditujukan untuk dijual ke pabrik dan diproduksi menjadi dedak atau bekatul yakni pakan ternak  seperti ayam dan ikan.

- Advertisement -

Tidak hanya lahan kopi, lahan-lahan yang semula ditanami padi pun diubah menjadi lahan jagung.

Pemandangan ini sangat dominan di Kawasan Danau Toba khususnya di Samosir.

Hampir di tiap kiri-kanan jalan di Samosir dipenuhi tanaman jagung.

Di Simanindo misalnya, konversi lahan maupun hutan menjadi lahan jagung telah menjadi penyebab banjir besar.

Di Museum Hutabolon Simanindo misalnya, pada Rabu 7 Agustus terjadi banjir besar yang menggenangi Museum Hutabolon dan Ruma Kaca, Simanindo, Samosir.

TERKAIT  Para Pelaku Pariwisata Samosir Tuntut Pemkab Samosir Bertindak Selamatkan Alam dan Lingkungan

Mass Tourism

Selain itu, Velisia juga kurang setuju jika banyak objek wisata di Tanah Batak dijadikan mass tourism. Hal ini menurutnya justru merusak keseimbangan alam Danau Toba.

Ia berharap pemerintah daerah dan para pegiat wisata mengedepankan ecotourism daripada mass tourism agar alam Danau Toba bisa terjaga baik.

“Jangan bawa wisatawan yang gemarnya merusak, buang sampah sembarangan. Kita mau pariwisata berkualitas yang pasti mempunyai budaya menjaga lingkungan tetap baik. Itu makanya saya tidak mau tamu ke Ronggur Ni Huta Rajawali Ressort asal-asalan,” jelas wanita pemilik Rajawali Ressort ini.

Mendidik Masyarakat

Dalam Festival Pulang Kampung yang diadakan di Rajawali Ressort, ia mengajak dan mendidik masyarakat untuk menanam coklat.

Ia mendatangkan praktisi coklat Baldwin Jehanno yang melatih mereka budidaya coklat yang benar.

Baldwin yang telah memiliki pengalaman bekerja di industri Makanan dan Minuman di Asia selama lebih dari 12 tahun mendirikan perusahaan bernama Jika Chocolat.

Perusahaan tersebut memproduksi berbagai jenis coklat dari biji kakao tersebar di seluruh Nusantara.

 

Festival Pulang Kampung
Pemilik Jika Chocolat Baldwin Jehanno berfoto bersama masyarakat yang hadir dalam pelatihan budidaya kakao. (foto: Damayanti)

“Saya pemilik Jika Chocolat. Setiap biji kakao yang digunakan memproduksi Jika Chocolat merupakan hasil tanaman organik. Ditanam secara berkelanjutan dan dengan harga yang wajar, Jika Chocolat mempromosikan keanekaragaman hayati dan berusaha untuk meningkatkan kehidupan para petani yang menanam biji kakao mereka,” jelasnya kepada NINNA.

Ia mengatakan Jika Chocolat bekerja sama dengan kelompok petani dan koperasi petani di seluruh Indonesia, termasuk Sumatra, Sulawesi, Jawa, Bali, Flores, dan Papua.

Dalam kesempatan sebagai pelatih di Festival Pulang Kampung, ia mengajak masyarakat Samosir yang hadir untuk menjual biji kakao mereka kepada Jika Chocolat.

Festival Pulang Kampung

Sekalipun di awal Festival Pulang Kampung ini belum berhasil menjangkau banyak orang.

Ia berharap tahun berikutnya, ia mampu menggerakan banyak Batak Diaspora untuk ikut dan ambil bagian dalam acara ini di tahun depan.

Selain memuaskan rasa rindu akan kampung halaman, para Diaspora juga mendatangkan dampak positif bagi para penduduk di Kawasan Danau Toba.

Penulis/Editor: Damayanti Sinaga

BERSPONSOR

ARTIKEL TERKAIT

TERBARU