spot_img

RUHUT

Tahapan Ritual Mandudu (VIII – Habis)

NINNA.ID – Sesudah kerbau ditambat di Borotan, Hasuhuton memberi demban tiar (sirih) kepada Pangkarihiri yang disebut Napuran Panukkunan yang artinya Pangkarihiri memberitahu hal-hal yang terjadi saat Kerbau diharihiri (dicuil) hingga ditambat di Borotan. Pangkarihiri biasanya memberitahukan yang baik-baik saja, walaupun ada yang kurang sempurna pada prosesi penarikan kerbau tersebut.

Dalam tahap selanjutnya, hasuhuton ditandai dengan menyematkan tepung beras dengan cara menempelkan tepung beras di kening para Hasuhuton dengan tanda cap tiga jari oleh Raja Bius. Artinya, agar Mulajadi Nabolon mengetahui serta memberkati Hasuhuton. Lalu disematkan juga Banebane kepada hasusuton sebagai tanda mereka semua masih satu garis Ketuturunan.

Lalu Hasuhuton pindah tempat. Jika tadinya membelakangi rumah, sekarang menghadap rumah. Hasuhuton langsung meminta Gondang Liat dengan cara melawan arus perputaran Jam dan setiap gerak harus diawali langkah kanan.

Perputaran tersebut dilakukan 3,5,7 sebab bagi suku Batak, bilangan ganjil adalah bilangan sakral.

Pada saat mangaliat harus didampingi Raja Bius dan marga boru menyambut dari depan. Selanjutnya Datu menyampaikan Raksa, yaitu cara manusia mengenal Allah (Mulajadi Nabolon) yang disebut Hahomion, Hadebataon, Hamalimon.

Selanjutnya dilakukan Pangolopion yang artinya saling memaafkan sesama Namartinodohon (sesepuh) kemudian marga boru. Sebelum acara ke Hulahula,  Pamuhai bersama rombongannya datang langsung menuju sebelah kiri rumah tempat acara.

Mereka dipersilah duduk di atas lage (tikar) yang mereka persiapkan dari rumah. Selama acara Pamuhai tidak diperbolehkan pindah dari tempatnya. Acara dilanjutkan dengan Hulahula tergantung Hulahula yang diundang.

TERKAIT  Doli Doli Sampe Bunga Dalam Budaya Batak

Sekitar Pukul 15.00 WIB, acara diserahkan kepada Pamuhai. Pamuhai artinya petugas penombak kerbau, tetapi bukan mengeksekusi kerbau. Dia hanya menyerahkan kerbau Pelean tersebut kepada Mulajadi Nabolon melalui penghujaman tombaknya ke tubuh kerbau Pelean.

Sebelum ditombak, Pamuhai bertanya kepada khalayak ramai, Hupattom ma situan natorop? (sudakah saya bisa menombaknya?) Jawaban dari khalayak ramai,  “manggagat bulung ni Tolong dope (masih makan daun batang tolong) yang artinya masih belum tiba saatnya.

Pertanyan yang sama dilakuan sampai tiga kali, namun pertanyaan ketiga tidak ada lagi yang menjawab. Jika dijawab, yang menjawab ikut jadi pelean (kurban).

Pada saat menghujamkan tombak ke tubuh kerbau, Datu betul-betul memperhatikannya. Biasanya, penombakan dilakukan harus semakin naik sampai tiga kali.

Setelah tiga kali pamuhai lari bersama rombongannya. Petugas yang sudah dihunjuk langsung nengeksekusi kerbau tersebut dengan cara Disuhung, tidak dengan cara disembelih.

Lalu kerbau Pelean disemayamkan di Borotan dan harus ada yang menjaganya. Diyakini, cuilnya dan beberapa organ tubuh kerbau tersebut dapat dipergunakan menjadi ilmu pengasih dan lain sebagainya.

 

Penulis    : Aliman Tua Limbong
Editor       : Mahadi Sitanggang

ARTIKEL TERKAIT

TERBARU