spot_img

RUHUT - Ritual Mamuhai Horbo

Tahapan Ritual Mandudu (VII)

NINNA.ID – Setelah acara mandudu (Gondang Sakral) usai, protokol atau pembawa acara akan bertanya kepada khalayak ramai yang turut hadir dalam acara tersebut. Ke arah mana kerbau yang ditombak tadi menghadap. Kemudian Parhara (para penjaga semacam seksi keamanan) akan menjawab Doppak Purba Dompak Angkola, takkas maduma untakkasan ma gabe huhut mamora.

Secara gamblang dapat dikatakan, kerbau tersebut menghadap Timur yang maknanya akan mendapat rezeki.

Acara akan dilanjutkan dengan Mangadopi Pargonsi (memberi hormat kepada Pargonsi), dengan memberi lomok (seekor babi kecil yang sudah dipotong dan dimasak lengkap dengan komponen–komponen adatnya).

Setelah itu, Pargonsi yang semula menghadap halaman rumah, akan dipindahkan menghadap ruangan rumah. Kemudian Acara akan dilanjutkan untuk memanggil roh nenek moyang  mereka.

Ketika sudah subuh berkisar pukul 03.00 WIB, Dudu Tiarni ari (Dudu Pagi) akan digelar untuk menggenapi permintaan Mulajadi Nabolon.

Tahapan-tahapannya hampir sama, namun waktunya akan dipercepat mengingat pergantian hari segera tiba,  dan pagi harinya akan dilanjutkan dengan pembuatan borotan.

Hasuhuton akan memberikan Santi kepada petugas Sihurak Borotan. Setelah itu petugas Sihurak Borotan akan melangkah dari pinggir areal halaman tempat diadakannya acara tersebut, yang jaraknya sekitar 7 langkah orang dewasa.

Pengorekan tanah dalam istilah Batak disebut Manombuk Alaman. Pada batang pohon Sarimarnaek (Borotan), akan disusun dan dirangkai dengan daun-daun Kayu Sampinur, Pollang dan Hampawa serta pada ujung Borotan akan ditancapkan tumbuhan Sanggar. Borotan dirapikan dengan melilitkan anyaman lalang yang sudah didandan dengan rapi menyerupai seperti tali.

Setelah selesai, Borotan akan dibungkus dengan ijuk dan pada sekeliling ijuk tersebut dihiasi dengan pola bintang- bintang yang dibentuk dari kayu dan akan dipakukan ke Borotan tersebut dengan menggunakan paku 5 inci.

TERKAIT  Aek Sipitu Dai, Penawar Penyakit Hingga Tempat Keramat

Setelah proses merangkai borotan ini selesai, borotan tadi pun akan dimasukkan ke dalam tanah yang telah dilubangi sebelumnya.

Lalu Hasuhuton akan memanggil Pangharihiri (pencuil kerbau) ke dalam rumah untk memberikan Harbue Satti sebagai isyarat untuk memberangkatkan pangharihiri. Sembari proses Mangharihiri kerbau berlangsung, pargonsi akan memainkan Gondang Sabangunan yang biasanya dinamakan Gondang Lae-lae. Gondang Lae lae dimaksudkan untuk meminta zin berkat dari Mulajadi Nabolon, manakala masih ada hal-hal yang masih kurang dalam proses pelaksanaan kegiatan tersebut.

Saat kerbau nantinya akan ditarik oleh Panogu Horbo, Hasuhuton yang sudah berbarìs di depan rumah Hasuhuton yang menghadap Borotan, dan ketika Kerbau nantinya melintas di depan Hasuhuton, mereka akan menaburkan beras sambil teriak menyatakan Horas.

Kerbau akan ditarik oleh Panogu horbo mengitari Borotan dengan memperhatikan syarat, yaitu harus bilangan ganjil semisal 3,5 atau 7 kali.

Pada proses pelintasan tadi, Si Datu akan memperhatikan kaki kerbau dan gerakan kerbau. Apabila kaki kanan kerbau yang berada di depan, maka diyakini Hasuhuton partali  tali mendapat berkat. Jika kaki kiri kerbau yang berada di depan, maka akan diartikan marga boru lebih banyak mendapat berkat. Selanjutnya petugas penarik Kerbau akan memberitahu apa tanda-tanda alam sepanjang proses penarikan Kerbau tersebut.

 

Penulis    : Aliman Tua Limbong
Editor       : Mahadi Sitanggang

ARTIKEL TERKAIT

TERBARU